HUBUNGAN ANTARA SENSE OF HUMOR DENGAN STRES PADA PERAWAT

Pendahuluan

Stres dapat menyerang seseorang terutama yang bekerja dengan tuntutan target tinggi dalam jangka waktu tertentu, di antaranya adalah pada profesi sebagai perawat. Tuntutan tinggi membuat perawat mengalami tekanan yang mendesak dan terus dalam keadaan konsentrasi penuh. Jika keadaan ini berlangsung terus menerus tanpa selingan sejenak, maka stres akan mudah mendera.

Stres muncul dengan kadar yang berbeda-beda pada setiap perawat. Tinggi rendahnya kadar stres bergantung pada berat ringannya tekanan yang dihadapi. Hal ini terkait dengan kemampuan dan kesiapan individu itu sendiri untuk mengendalikan tekanan di atas. Jika stres tak kunjung bisa diatasi tentu berdampak buruk pada kondisi kejiwaan.

Stres pada perawat dipicu oleh kendala yang bermacam-macam. Seperti pada kasus-kasus yang terkait dengan profesi sebagai perawat, yang didapatkan melalui wawancara pada beberapa orang yang berprofesi sebagai perawat. Contoh kasus yang pertama yang didapat dari wawancara dengan Darmanto (41 tahun). Menurut Darmanto lingkungan kerja yang tidak nyaman dan sarana Rumah Sakit yang kurang lengkap dapat menimbulkan stres baginya. Contoh kasus yang kedua didapat dari wawancara dengan Sohamah (44 tahun). Menurut Sohamah hal yang dapat menimbulkan stres baginya adalah jika para pasien terlalu banyak menuntut. Contoh kasus yang ketiga didapat dari wawancara dengan Nyoman Tamiah (52 tahun).

Menurut Nyoman Tamiah stres dapat timbul jika sarana rumah sakit tidak memadai sedangkan jumlah pasien yang membutuhkan cukup banyak. Contoh-contoh kasus di atas dapat menggambarkan adanya masalah-masalah dalam profesi sebagai perawat yang dapat memicu timbulnya stres. Berdasarkan kasus-kasus tersebut tampak bahwa profesi sebagai perawat merupakan pekerjaan yang sangat beresiko menimbulkan stres kerja. Dampak buruk yang dapat ditimbulkan jika seorang perawat mengalami stres ialah dapat mengganggu interaksi sosialnya, baik itu dengan rekan kerja, dokter maupun pasien. Efektivitas kerja dapat pula menjadi terganggu, karena pada umumnya apabila seseorang mengalami stres, maka akan terjadi gangguan baik itu pada psikologisnya maupun keadaan fisiologisnya.

Penelitian baru yang diterbitkan di Inggris menyebutkan stres bisa menjadi penyebab kematian di tempat kerja, dan resiko stres dapat mengakibatkan serangan jantung atau stroke. Temuan itu bersamaan dengan munculnya berita tentang suatu rumah sakit di Inggris yang diperintahkan untuk mengambil langkah untuk melindungi dokter dan perawat dari resiko stres (Mellish, 2001).

Yusuf (2004) menyebutkan lingkungan kerja dapat menjadi sumber stres karena beberapa faktor, antara lain tuntutan kerja, tanggung jawab kerja, lingkungan fisik kerja, rasa kurang memiliki pengendalian, hubungan antar manusia yang buruk, kurang pengakuan dan peningkatan jenjang karier, rasa kurang aman dalam kerja. Para peneliti menganalisa perbandingan dari 15.000 pasien serangan jantung dengan individu yang sama usia, jenis kelamin, dan lokasi untuk mengetahui korelasi faktor-faktor psikologis dan sosial dengan meningkatnya serangan jantung. Stres di kantor muncul sebagai hal yang paling berpengaruh. Sekitar 23% pasien serangan jantung mengaku mengalami beberapa periode stres di kantor, sedangkan 18% dialami oleh sukarelawan yang sehat.

Menurut Sarafino (1994) tuntutan kerja dapat menimbulkan stres dalam dua cara. Pertama pekerjaan itu mungkin terlalu banyak. Penelitian menemukan bahwa muatan kerja dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kecelakaan dan masalah kesehatan. Van den Berg (Bart Smert, 1994) mendefinisikan ketidakmampuan melakukan kontrol yang dirasakan individu sebagai fungsi dari tinggi rendahnya tuntutan pekerjaan dengan tinggi rendahnya kebebasan mengambil keputusan. Suatu studi dimana menggunakan data dari satu juta pekerja yang ada di lima wilayah di Swedia yang masuk rumah sakit, hasilnya menunjukkan bahwa penderita sakit jantung (20%) berasal dari kelompok yang mempunyai tuntutan pekerjaan tinggi dan kebebasan mengambil keputusan rendah. Untuk kelompok yang mempunyai tuntutan pekerjaan rendah dan kebebasan mengambil keputusan tinggi, banyaknya penderita penyakit jantung adalah nol.

Kedua, jenis pekerjaan itu sendiri sudah lebih stressful daripada jenis pekerjaan lainnya. Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi kehidupan manusia cenderung mengakibatkan stres, contohnya seperti perawat. Perawat mempunyai beban kerja yang berat dan harus menghadapi situasi kehidupan dan kematian setiap harinya dan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius jika berbuat kesalahan.

Perawat secara umum memiliki tugas mengamati, mengintervensi, dan mengevaluasi keluhan-keluhan pasien, baik secara mental maupun fisik, supervisi perencanaan dan tindakan perawatan pasien secara menyeluruh, melaksanakan instruksi dokter tentang obat-obatan dan pengobatan yang akan diberikan, mengawasi anggota tim kesehatan yang memberikan pelayanan perawatan kepada pasien, melaksanakan prosedur dan teknik perawatan, khususnya pada tindakan yang membutuhkan keputusan, penyesuaian, pertimbangan berdasarkan data teknis, memberikan bimbingan kesehatan dan partisipasi dalam pendidikan kesehatan, dan membuat catatan dan laporan fakta-fakta secara teliti dan mengevaluasi perawatan pasien (Ali, 2002). Perawat mau tidak mau harus memberikan pelayanan kepada pasien dengan sebaik-baiknya. Dampak yang ditimbulkan dari situasi apabila perawat tidak bisa memenuhi tuntutan dari situasi yang ada adalah timbulnya stres.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: