HUBUNGAN ANTARA SIKAP TERHADAP KEBERSIHAN DENGAN KECEMASAN PADA DEMAM BERDARAH

Pendahuluan

Penyakit demam berdarah (DB) masuk ke Indonesia sejak 36 tahun yang lalu, dan semenjak itupun penyakit ini menjadi langganan Negara Indonesia tiap tahunnya (www.dinkes-dki.com, 30/07/2005). Setiap tahunnya penyakit ini selalu berkembang dan hampir setiap kejadiannya memakan jumlah korban yang cukup banyak, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Dapat dijelaskan bahwa penyakit demam berdarah menurut Judarwanto (2004) adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit akibat infeksi virus dengue pada manusia. Penyebaran virus ini kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Korban dari penyakit ini bervariasi, mulai dari yang terkena demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit hingga korban meninggal dunia.

Di Indonesia angka kesakitan demam berdarah cenderung meningkat dan semakin menyebar luas. Pada tahun 1968 baru berjangkit di Surabaya dan Jakarta tapi 20 tahun kemudian telah menjangkiti 201 kabupaten/kotamadya di seluruh Indonesia. Peningkatan angka kesakitan terjadi secara periodik yaitu tiap lima tahun. Ledakan terakhir yang insidennya cukup tinggi yaitu pada tahun 1988. Jumlah penderita yang dirawat di rumah sakit pada tahun tersebut 47.573 orang, 3,2% diantaranya meninggal dunia (Smet, B. 1994).

Tiga puluh propinsi yang ada di Indonesia, D. I. Yogyakarta termasuk daerah yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah, selain Yogyakarta juga ada 11 propinsi lainnya yang juga ditetapkan sebagai KLB DB. Sejak November 2003 hingga Februari 2004, 140 pasien demam berdarah dirawat di RS Sardjito Yogyakarta, empat di antaranya meninggal dunia (Silalahi, L. 2004). Sementara itu secara umum jumlah penderita DB di RS Sardjito menurut Kabag Humas dan Pemasaran RS Sardjito Drs. Trisno Heru Nugroho MKes, dari bulan Januari sampai 28 Februari 2005 jumlah penderita di rumah sakit itu sebanyak 28 orang (www.pikiran-rakyat.com, 24/08/2005).

Gejala penyakit ini hampir sama dengan semua infeksi akut pada awal penyakitnya. Gejala menderita DBD diawali oleh panas tinggi selama 2-7 hari, muncul bintik-bintik merah pada kulit. Kadang terjadi pendarahan di hidung (mimisan), muntah/berak darah dan terasa nyeri di ulu hati (www.kedaulatan rakyatonline.com, 24/08/2005). Gejala khas seperti perdarahan kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Keterlambatan penanganan yang sering terjadi adalah kurang mengenali sejak dini gejala yang harus diwaspadai dan memahami kegawatan DBD.

Bagi masyarakat awam, yang paling penting adalah dapat mengetahui atau mendeteksi kapan seorang penderita demam berdarah dengue mulai mengalami keluarnya plasma (cairan) darah, dari dalam pembuluh darah. Keluarnya plasma darah ini apabila ada biasanya terjadi pada hari sakit ke III sampai dengan ke VI. Biasanya didahului oleh penurunan panas badan penderita, yang sering kali terjadi secara mendadak (Judarwanto, W. 2005).

Kejadian ini tentu menakutkan bagi masyarakat. Suatu hal ataupun keadaan yang membuat seseorang merasa jiwanya terancam tentu membuat perasaan tegang dan menjadi cemas. Orang yang mengalami kecemasan akan merasakan suatu kekhawatiran yang samar, kerisauan yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan mempengaruhi penyesuaian terhadap lingkungannya (Suharsono, B. 1989). Masyarakat dikecam kecemasan karena penyakit ini dapat memakan korban jiwa. Kecemasan orang tua pun bertambah, bila anaknya mengalami panas badan apapun penyebabnya.

Pikiran pertama yang menghantui adalah apakah anak saya menderita DBD? (Judarwanto, W. 2005). Bila ada perasaan bahwa kehidupan ini terancam oleh sesuatu, walaupun sesuatu itu tidak jelas maka akan menjadi cemas. Kecemasan yang muncul bila ada kekhawatiran kehilangan orang yang dicintai, apalagi telah terjalin ikatan emosional yang kuat dengan orang itu (Kartono, K. 2002). Kecemasan ini ditambah pula dengan adanya berita-berita tentang demam berdarah di televisi, sehingga menimbulkan pikiran yang mencemaskan bagi individu.

Sebagaimana yang penulis ketahui dari penduduk sekitar tempat akan dilakukannya penelitian yaitu Dusun Santren, Karang Asem RW.002 Kabupaten Sleman Yogyakarta, adanya kekhawatiran dengan adanya penyakit demam berdarah dikarenakan ada beberapa dari tetangga mereka yang pernah terjangkit penyakit ini. Mereka mengaku takut karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian apalagi korban yang sering terjangkit adalah anak-anak, tentu saja para orang tua tidak mau anak mereka terjangkit penyakit mematikan tersebut. Tetapi bagi mereka yang merasakan gejala awal demam berdarah seperti demam, tidak langsung berobat ke rumah sakit atau puskesmas terdekat karena mereka merasa masih bisa mengobatinya dengan obat biasa yang dijual di pasaran dan tidak langsung merasa risau akan terkena penyakit demam berdarah kecuali di lingkungan dekat tempat tinggal mereka sudah ada yang terjangkit maka mereka akan langsung was-was bila merasakan gejala-gejala awal itu.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: