HUBUNGAN ANTARA STRESS DAN LAMANYA MASA MENJALANI TAHANAN DENGAN TINGKAT AGRESIVITAS NARAPIDANA

Pendahuluan

Dunia yang ada sekarang ini adalah dunia yang penuh dengan kekerasan, berbagai macam kekerasan seringkali kita lihat bahkan tidak jarang kita mengalaminya sendiri. Kita dikelilingi dengan agresi dan kita semua secara pribadi pernah mengalami kekerasan-kekarasan fisik maupun emosional. Kekerasan-kekerasan fisik maupun emosional inilah yang kemudian dikenal masyarakat luas sebagai agresivitas.

Banyak sekali kekerasan yang terjadi, bahkan hampir diseluruh dunia dan seluruh segmen masyarakat. Lorenz (dalam Shaffer, 1990), berpendapat bahwa agresi berakar pada naluri untuk mempertahankan hidup. Karena itulah mengapa dalam masyarakat tindak agresivitas terus menerus berlangsung.

Karena perilaku agresi sendiri merupakan sebuah naluri yang ada dalam diri manusia, maka siapa saja dapat melakukan perbuatan yang bersifat agresif. Perilaku ini dapat dilakukan oleh setiap orang dan dari golongan manapun. Termasuk orang-orang yang terdapat dalam sebuah rumah tahanan. Meskipun orang-orang yang sedang menjalani masa hukuman itu telah mendapat pembinaan, mereka masih seringkali melakukan perbuatan agresi. Banyak sekali pemberitaan di media massa yang menunjukkan hal itu. Warga yang hendak dibina justru menunjukkan perilaku yang menyimpang.

Seperti yang dikutip dari http://www.hamline.edu yang memberitakan bahwa pada akhir Maret 1996, di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjung Gusta Medan terjadi perkelahian antar napi yang menyebabkan enam orang warga napi meninggal dunia. Berita yang sama juga diturunkan oleh SCTV, 17 Maret 2001, bahwa di LP Pakjo Palembang, Sumatera Selatan juga terjadi keributan yang menyebabkan satu napi luka ditusuk oleh napi lainnya (www.liputan6.com). Selain itu di LP Tanggerang pada 1 November 2001 juga terjadi keributan yang menyebabkan dua napi luka (www.kompas.com). Keributan serupa terjadi tidak hanya pada ketiga Lembaga Pemasyarakatan (LP) tersebut, tetapi juga terjadi pada LP lain, seperti LP Kebon Waru Bandung (www.liputan6.com) dan LP Sidoarjo Jawa Timur (www.suaramerdeka.com).

Tindak agresi yang terjadi di dalam LP tersebut disebabkan oleh banyak hal, seperti adanya persaingan antar kelompok-kelompok yang terbentuk dalam LP (www.liputan6.com), adanya perasaan dendam antar kelompok-kelompok tersebut (www.liputan6.com), jumlah penghuni LP yang kian hari kian bertambah dan semakin padat (www.liputan6.com), adanya geng-geng yang terbentuk dalam LP (Kholiq, 1996), dan adanya pelarian napi.

Begitu banyaknya kerusuhan dan keributan yang terjadi di dalam LP terutama LP yang terdapat di kota-kota besar, yang dipicu oleh perkelahian sesama napi, napi dengan sipir dan pelarian napi (www.mediaindo.co.id, http://www.liputan6.com, http://www.suaramerdeka.com).
Berbagai kasus tersebut tentu saja patut untuk disayangkan, mengingat hal tersebut terjadi di dalam sebuah rumah yang digunakan untuk membina warganya agar menjadi baik. Hal ini telah menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan disana tidak dapat maksimal, karena warga binaan justru menunjukkan perilaku yang menyimpang.

Para pengelola LP pun sudah berusaha semampunya untuk mencegah berbagai macam keributan yang terjadi di dalam LP mereka. LP yang melakukan tindakan pencegahan tersebut antara lain, LP Kedung Pane yang memberi pembinaan keagamaan bekerjasama dengan IAIN Walisongo Semarang dan mendatangkan pembimbing dari instansi-instansi terkait. LP lainnya adalah LP Kalisosok Surabaya, yang bekerjasama dengan LPM Unair untuk melakukan terapi kepada para narapidana yang menderita stres berat dan mengalami gangguan kejiwaan dengan tujuan untuk mengurangi hal-hal negatif yang ditimbulkan oleh stres (www.suaramerdeka.com).

Tindak kekerasan yang terjadi di dalam Lembaga Pemasyarakatan itu sendiri dilakukan oleh warga atau penghuni LP, baik itu penghuni yang sudah lama berada disana, maupun penghuni yang baru saja masuk. Keduanya berpotensi untuk melakukan tindak agresivitas, sebab perilaku tersebut merupakan respons yang dipelajari. Asumsinya, jika penghuni LP yang sudah lama berada disana berperilaku agresif maka penghuni LP yang baru saja masuk akan bertingkah laku demikian pula dikarenakan seringnya mereka melihat perilaku seperti itu.

Hal ini sesuai pula dengan teori Belajar Sosial Bandura, yang memandang bahwa frustasi akan menimbulkan agresi terutama pada orang yang telah belajar berespons terhadap situasi yang tidak menguntungkan dengan perilaku agresi (Atkinson, 2000). Inilah yang terjadi dalam sebuah LP, kecenderungan penghuninya untuk bertingkahlaku agresi dikarenakan mereka telah belajar merespons situasi yang tidak menguntungkan tersebut dengan berperilaku agresif. Asumsinya, seorang napi yang baru saja masuk akan memberi respon yang sama dengan respon yang diberikan oleh penghuni sebelumnya. Jika respon yang mereka dapat adalah respon negatif, dalam hal ini perilaku agresif, maka mereka juga akan berkecenderungan untuk berespon agresif dalam menghadapi situasi yang tidak menguntungkan.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: