HUBUNGAN ANTARA TINGKAT NEUROTISISME DENGAN STRES PADA GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAM

Pendahuluan

Pendidikan merupakan topik bahasan yang sangat menarik pada beberapa tahun terakhir di Negara Indonesia. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa mutu pendidikan di Indonesia selama ini kurang memuaskan. Adanya penilaian seperti tersebut di atas terhadap dunia pendidikan, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini menjadi topik utama dalam perayaan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2002 dengan pencanangan Gerakan Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan oleh Depdiknas (Utami, 2002).

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam sistem pendidikan, antara lain : aspek kurikulum, manajemen pendidikan, tenaga kependidikan, strategi dan metode pendidikan (Hasan, 2003). Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia dituturkan oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Dr. Mohammad Ali (2003) bahwa profesionalisme guru merupakan suatu tuntutan yang harus dipenuhi.

Guru sebagai tenaga kependidikan diharapkan mampu memenuhi standar profesional guru sebagaimana diungkapkan oleh beberapa ahli. Hasan (2003) mengemukakan bahwa persyaratan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21, yaitu : (1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang; (2) penguasaan ilmu yang kuat; (3) ketrampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan (4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.

Sedangkan menurut W. F. Connell (Utami, 2002) guru adalah sebagai motivator, supervisor, penanggungjawab dalam membina disiplin, model perilaku, pengajar dan pembimbing dalam proses belajar, pengajar yang terus mencari pengetahuan dan ide baru untuk melengkapi dan meningkatkan pengetahuannya, komunikator terhadap orang tua murid dan masyarakat, administrator kelas, serta anggota organisasi profesi pendidikan.

Apabila syarat-syarat profesionalisme di atas terpenuhi maka akan mengubah peran guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Hal ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Semiawan (Hasan, 2003) bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula orator yang verbalis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang penuh dengan pembaharuan (innovation learning environment).

Seorang guru harus bisa bersikap profesional dalam proses mencetak insan-insan berkualitas di kemudian hari. Peran guru pada setiap jenjang pendidikan sangat penting artinya, begitu halnya peran guru Sekolah Menengah Pertama, karena guru Sekolah Menengah Pertama harus menghadapi anak didik yang memasuki masa remaja sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini anak didik mulai melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya. Guru diharapkan mampu membimbing anak didiknya dalam melalui masa remajanya. Oleh karena itu, guru dengan kepribadian yang matang dan berkembang akan lebih mudah dalam proses membimbing anak didik, sebagaimana profesionalismenya sebagai guru untuk menghantarkan anak didiknya menjadi generasi yang berkualitas bagi bangsa sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Sebaliknya, menurut pandangan H.J. Sriyanto Guru SMU Kolese de Britto Yogyakarta yang berpendapat bahwa citra profesi guru saat ini tampak adanya kemerosotan. Salah satu penyebab merosotnya citra profesi guru adalah rendahnya kualitas dan kompetensi guru. Kompetensi guru yang dinilai rendah ini dapat berupa kompetensi personal, sosial, maupun profesional yang masih belum memadai. Ini dapat dilihat dari kurangnya kematangan emosional dan kemandirian berpikir, lemahnya motivasi dan dedikasi, serta lemahnya penguasaan bahan ajar dan cara pengajaran yang kurang efektif (http://www.kompas.co.id.07/01/03).

Kenyataan di lapangan, sebagaimana diutarakan oleh seorang guru Bimbingan Konseling salah satu Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Sleman, beliau menyatakan bahwa memang ada beberapa guru yang ketika sedang menghadapi berbagai permasalahan pribadi seringkali memunculkan perilaku yang emosional. Dicontohkan oleh beliau perilaku emosional ini berupa kata-kata kasar yang ditujukan kepada anak didik, padahal guru adalah sebagai model perilaku bagi anak didiknya dan masyarakat. Menurut beliau perilaku yang dilakukan oleh guru tersebut merupakan “gawan bayi” (bahasa jawa : bawaan lahir). Penuturan ini diungkapkan pada tanggal 5 November 2004.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: