HUBUNGAN CINDERELLA COMPLEX DENGAN SIKAP TERHADAP TINDAK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Pendahuluan

Setiap manusia yang berada di permukaan bumi ini pada umumnya selalu menginginkan kebahagiaan dan berusaha agar kebahagiaan itu tetap menjadi miliknya. Rakhmat (2004), menyebutkan bahwa tujuan akhir dari proses kehidupan manusia adalah meraih kebahagiaan. Salah satu upaya untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan pernikahan sehingga akan terbentuklah rumah tangga. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam :

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu bahagia” (Q.S. Al Maidah : 35).

“Hai manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari seorang manusia, kemudian menciptakan dari jenisnya jodoh baginya, dan dari keduanya di kembangkan keturunan yang banyak, laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kamu kepada Alloh yang dengan namaNya kamu saling meminta dan dengan namaNya kamu menjaga kekeluargaan …” (Q.S. An Nisaa’ : 01)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasannya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang…” (Q.S. Ar-Ruum : 21)

Ketiga ayat di atas cukuplah menyebutkan bahwa pernikahan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan. Pernikahan adalah penyatuan komitmen antara dua orang yang disyahkan undang-undang, untuk saling berbagi secara emosi, fisik, menjalankan tugas serta masalah ekonomi (Oslon dan DeFrain, 2003). Jadi dengan menikah akan membentuk suatu rumah tangga yang diharapkan bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi anggotanya, tempat berbagi rasa sayang, cinta, rasa aman serta tempat berlindung dari segala macam tekanan-tekanan dan kesulitan dari luar. Namun fakta-fakta yang terjadi di masyarkat justru menunjukkan rumah tangga sebagai tempat pertama kalinya kekerasan dirasakan (Purnianti dan Kolibonso, 2003).

” Sudah bukan hal yang aneh lagi kalau saya ke kantor dengan muka lebam karena dipukul suami. Yang lebih membuat saya malu, beberapa kali suami mendatangi saya di kantor dan marah-marah untuk masalah yang mestinya bisa dibicarakan di rumah sehingga membuat teman-teman dan pelanggan tidak nyaman” sesuai dengan yang diceritakan ibu Y ( http://www.kompas .com – 2004).

Dn, seorang wiraswasta. Semenjak suaminya di PHK 6 bulan lalu, ia berusaha lebih giat mencari tambahan untuk kelangsungan rumah tangganya. Suaminya tidak melakukan kegiatan apapun, hanya duduk diam menonton televisi di rumah dan tidak berusaha melamar pekerjaan dengan alasan umur yang sudah tidak muda lagi, sehingga tidak akan ada perusahaan yang mau menerimannya. Akibatnya pekerjaan rumah tangga jadi sedikit terbengkalai karena waktu Dn di rumah menjadi lebih sedikit. Keadaan itu membuat suaminya sering marah-marah kemudian menjadi ringan tangan kepadanya dan tidak jarang anak mereka yang baru berusia enam tahun juga terkena imbasnya (Yulistia, 2006).

Rita tidak jarang dipukul suaminya bila Rita menanggapai kemarahan suaminya. Menurut suaminya, ia memukuli istrinya karena Rita menjawabnya saat ia marah. Menurutnya, istri harus diam, kalau tidak nanti dipukul lagi. Tetapi Rita sering bingung, karena suaminya juga marah kalau Rita diam saja, tidak menanggapi kemarahan suaminya. Bahkan dalam keadaan seperti itu suaminya juga semakin menjadi-jadi kemarahannya (Komnas Perempuan, 2002)

Informasi terakhir LBH-APIK (Jakarta) mencatat jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat yakni 471 kasus (2001), 675 kasus (2003) dan 416 kasus selama lima bulan (2004) (http://www.kompas.com, 02-05-2006). Data terakhir dari Rifka Annisa sampai dengan bulan Februari 2006 menunjukkan tindak kekerasan terhadap istri ada 286 kasus dan kekerasan dalam rumah tangga ada 80 kasus (http://www.rifka-annisa.or.id, 02-05-2006). Berbagai fakta di atas menunjukkan kekerasan yang terjadi di lingkup rumah tangga terus mengalami peningkatan secara kuantitas dari tahun-ke tahun.

Data-data di atas memperlihatkan bahwa sebagaian besar yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga adalah wanita. Walaupun tidak selamanya wanita akan berada dalam posisi korban, namun perlu dilihat latar belakang perbuatan ataupun pihak yang paling berinisiatif melakukan tindak kekerasan tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chapman, seorang pendiri Center for Woman Policy Studies mengungkapkan bahwa dari 90 negara yang diteliti selalu ditemukan tindak kekerasan dalam rumah tangga dan perempuanlah yang menjadi korbannya (Marta, 2003).

Bahkan United Nations Fourth World Conference on Women 1995 (Stahly, 2003) menyatakan dalam berbagai kelompok masyarakat, yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga baik fisik ataupun pikologis adalah wanita dan remaja putri tanpa memandang tingkat pendapatan, kelas ataupun budaya. Nampaknya kekerasan terhadap istri merupakan fenomena lintas kelas, lintas suku dan lintas agama sehingga akan sulit untuk menggambarkan karakteristik wanita sebagai korban (Komnas Perempuan, 2002). Data-data mengenai wanita sebagai korban kekerasanpun tetap saja belum bisa memberikan gambaran karakteristik wanita yang lebih rentan terhadap tindak kekerasan dari suaminya dan karakteristik suami yang menjadi pelaku.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: