HUBUNGAN FREKUENSI MENONTON IKLAN DI TELEVISI, LOCUS OF CONTROL EKSTERNAL, DENGAN MINAT MEMBELI FAST FOOD PADA REMAJA

Pendahuluan

Kebutuhan manusia dari tahun ke tahun semakin kompleks. Manusia membeli berbagai produk dalam bentuk barang dan jasa. Disamping untuk memenuhi kebutuhan, perilaku membeli pada manusia juga memberi kepuasan dan kenikmatan. Kegiatan manusia membeli berbagai produk seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan bukan keingian, begitu pula halnya dengan remaja.

Kondisi ideal tersebut pada kenyataannya sulit untuk dicapai. Saat ini kegiatan manusia membeli berbagai produk mengarah pada kemewahan yang berlebihan. Remaja cenderung mengkonsumsi produk-produk yang diiklankan dan lebih menekankan motif emosional daripada rasional. Sebuah produk tidak hanya memberi kepuasan dalam hal pemenuhan kebutuhan, tetapi juga memberi gengsi pada individu yang bersangkutan. Hal ini disebabkan oleh perubahan kebiasaan dan gaya hidup yang tidak hanya terjadi pada orang dewasa tetapi juga pada remaja.

Remaja cenderung meniru gaya hidup mewah dan perilaku yang sedang mewabah di negara-negara maju. Corak budaya negatif seperti materialisme, hedonistik (budaya bersenang-senang), individualistik, westernisasi, dan nasionalisme yang sempit justru semakin mewabah di kalangan remaja. Cara berpakaian, berdandan, gaya rambut, tingkah laku, kesenangan musik, bahkan makanan pun ditiru oleh remaja. Saat ini pola makan remaja bergeser dari makanan tradisional menjadi makanan ala Barat atau fast food (www.newwomen.net). Fast food dapat diartikan sebagai makanan yang dapat disiapkan untuk dihidangkan dan dikonsumsi dalam waktu yang singkat dan dapat dimakan dengan cepat, yang biasanya merupakan makanan orang-orang yang mempunyai waktu luang singkat (Bertram dalam Adi, 1998). Fast food yang dimaksud dalam penelitian ini adalah fast food internasional seperti KFC, Pizza Hut’s, Mc Donald, Dunkin Donut’s, Hoka-hoka Bento, Wendy’s, dll.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh “Health Education Authority”, usia 15-34 tahun adalah konsumen terbanyak yang memilih menu fast food. Hal ini dapat dijadikan cermin bagi masyarakat Indonesia, walaupun di Indonesia belum ada data yang pasti. Berdasarkan rentang usia tersebut dapat disimpulkan bahwa peminat fast food adalah golongan pelajar dan pekerja muda (Rumawas, 2002).

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada hari Sabtu, 20 Maret 2004 pukul 20.00 sampai dengan pukul 21.00 di sebuah restoran fast food di Surabaya yaitu Pizza Hut menunjukkan bahwa kelompok remaja mendominasi jumlah pengunjung restoran tersebut. Dalam waktu satu jam, jumlah pengunjung remaja adalah 27 orang, sedangkan jumlah pengunjung dewasa adalah 16 orang. Selain melakukan observasi, peneliti juga melakukan wawancara pada salah satu pengunjung di hari yang sama pada pukul 21.05 sampai dengan 21.20. Subjek adalah remaja laki-laki berusia 16 tahun yang datang ke restoran Pizza Hut bersama dengan kelima orang temannya. Subjek mengatakan bahwa setidaknya tiga kali dalam sebulan ia dan teman-temannya berkunjung ke restoran fast food, seperti Pizza Hut, Dunkin Donut’s atau Kentucky Fried Chicken (KFC). Alasan subjek datang ke restoran fast food selain untuk makan adalah ingin refreshing (cuci mata dan berkumpul dengan teman-teman), suasana restoran yang bersih dan ber-AC membuat subjek nyaman. Menurut subjek, nongkrong di restoran fast food membuat dirinya terlihat keren dan gaul.

Dibalik ketenaran fast food sebagai makanan siap saji yang enak, lezat, dan praktis, fast food juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Berdasarkan data yang diperoleh dari internet menurut Rumawas (2002), fast food dapat memberikan dampak sebagai berikut:
1.Membuat ketagihan, terutama bagi anak-anak.
2.Fast food mengandung lebih tinggi kalori, garam, dan lemak termasuk kolesterol, selain itu fast food hanya sedikit mengandung serat. Kelebihan kalori akan menambah berat badan dan menyebabkan kegemukan (obesitas).
3.Mengkonsumsi lemak dalam jumlah yang tinggi akan meningkatkan kolesterol dalam darah dan merupakan salah satu faktor pemicu penyakit jantung, stroke dan diabetes.

Magdalena (2003) mengemukakan bahwa orang yang paling sering mengkonsumsi makanan berlemak seperti yang disajikan pada restoran fast food berpotensi terkena penyakit kanker usus besar. Hal ini disebabkan makanan berlemak seperti hamburger, ayam goreng, kentang goreng, dan sejenisnya hanya akan memperlambat waktu transit makanan. Zat karsinogenik yang terkandung dalam makanan akan lama mengendap pada dinding usus sehingga memicu pertumbuhan kanker pada daerah tersebut.

Dampak negatif mengkonsumsi fast food semakin diperkuat dengan adanya laporan Bjerklie dalam Time edisi 8 November 2004. Bjerklie mengatakan bahwa kawasan yang penduduknya paling banyak mengalami kelebihan berat badan adalah Asia. Di India, 55% wanita yang berusia antara 20-69 tahun mengalami kelebihan berat badan. Sedangkan berdasarkan hasil survey yang dilakukan beberapa bulan yang lalu oleh China’s Ministry of Health, di Cina terdapat peningkatan jumlah orang yang mengalami kelebihan berat badan selama tahun 1992 sampai tahun 2002, jumlahnya meningkat dari 60 juta orang menjadi 200 juta orang, diantaranya adalah anak-anak dengan prosentase 8,1%. Hal ini salah satunya disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalori dan lemak seperti fast food.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: