HUBUNGAN HARGA DIRI DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA REMAJA SANTRI PONDOK PESANTERN

Pendahuluan

Pondok pesantren merupakan salah satu tempat pendidikan keagamaan yang populer di Indonesia. Selain sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren juga berfungsi sebagai tempat penyiaran agama Islam dan pusat pengembangan jamaah (masyarakat) yang diselenggarakan dalam kesatuan tempat pemukiman dengan masjid sebagai pusat pendidikan. Sejarah menunjukan, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling berpengaruh sampai sekarang (Djaelani 1994). Keberadaan pondok pesantren sampai saat ini telah banyak diakui oleh masyarakat dalam kaitannya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejauh ini sudah banyak diketahui para tokoh-tokoh berpengaruh yang merupakan hasil dari pendidikan pondok pesantren.

Para ulama mendirikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dengan kyai sebagai tokoh sentralnya dan masjid sebagai pusat pendidikan, ditambah dengan ruangan-ruangan kelas dan asrama para santri (Djaelani, 1994). Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik dalam lingkungan pondok pesantren. Setiap pondok pesantren biasanya memiliki aturan yang sangat ketat. Sebagai contoh, seorang santri harus menghormati kyainya dan tidak boleh membantah ucapan dari kyai tersebut .Santri,dalam pergaulannya harus bisa membedakan antara santri yang sama tingkatannya dan juga santri senior, yang berarti santri junior harus menghormati santri yang senior. Terlebih dengan santri lawan jenis. Santri putra tidak boleh bergaul secara bebas dengan santri putrinya.

Kepribadian seorang santri pada dasarnya adalah pancaran dari kepribadian dari seorang ulama yang menjadi pemimpin dan guru pada setiap pondok pesantren yang bersangkutan. Ulama bagi seorang santri bukan saja berfungsi sebagai guru dan pemimpin, tetapi juga sebagai uswah hasanah (suri tauladan yang baik). Kharisma dan wibawa seorang ulama mempengaruhi kehidupan setiap santri dalam setiap aspek kehidupannya. Oleh karena itu, apabila seorang ulama telah memerintahkan sesuatu kepada para santrinya, maka bagi santri itu tidak ada pilihan lain kecuali mentaati perintah itu (Djaelani, 1994).

Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan pada santri di pondok pesantren, terlihat bahwa kegiatan yang dilakukan para santri sangat padat dan rutin. Kegiatan tersebut dimulai pada saat menjelang shalat shubuh. Para santri dibangunkan sekitar satu setengah jam sebelum adzan shubuh, setelah itu langsung diarahkan untuk ke masjid. Di masjid, para santri melakukan shalat tahajud berjamaah. Setelah selesai shalat tahajud santri mendengarkan tausiah dari ustadz. Biasanya tausiah ini baru selesai setelah adzan subuh berkumandang dan dilanjutkan dengan shalat shubuh berjamaah. Kegiatan setelah sholat subuh adalah mengaji Al-Quran. Setelah itu, para santri mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai sejak pukul tujuh dan baru berakhir pada pukul setengah dua siang. Setelah istirahat sebentar mereka sudah mempersiapkan diri untuk shalat ashar berjamaah yang dilanjutkan dengan mengaji kitab, sampai menjelang shalat maghrib. Setelah shalat maghrib mereka melakukan hafalan surat. Kemudian selesai shalat isya mereka melakukan belajar.

Pada observasi tersebut juga terungkap bahwa ada sebagian dari santri yang mempunyai perasaan bersalah yang besar, hal tersebut akan muncul bila ia merasa telah melakukan perbuatan yang menurutnya melakukan dosa. Perasaan bersalah juga sering menghinggapi para santri bila ia tidak bisa melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh uztadnya dan juga bila telah menyakiti teman-temannya.

Pada santri yang lain juga terlihat bahwa santri merasa adanya somatisasi. Somatisasi tersebut biasanya akan muncul bila santri tersebut akan menghadapi ujian, santri tersebut merasa bahwa ia tidak percaya akan kemampuan dirinya sendiri dan merasa akan tidak bisa mengerjakan ujian walaupun ia telah belajar.

Pada saat diadakan kegiatan diskusi di kelas terlihat adanya beberapa santri yang menghindar dari acara tersebut, hal tersebut menurut mereka karena mereka tidak bisa untuk mengungkapkan apa yang ada dipemikiran mereka, walaupun dalam pikiran mereka bisa untuk menjawab apa yang ditanyakan. Mereka tersebut mengalami perasaan cemas yang berkepanjangan dalam diskusi tersebut dan juga perasaan malu.
Perasaan terkekang kadang-kadang muncul dihati mereka akibat dari peraturan-peraturan yang ketat yang dijalankan pondok pesantren, dan juga beban moral yang dialami oleh santri kepada orang tua dan juga kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya terhadap status dia sebagai seorang santri, perbedaan status ekonomi dikalangan santri juga mengakibatkan santri merasa rendah diri atau minder. Bila dihitung secara kuantitas santri yang mengalami hal tersebut menurut mereka cukup banyak

Para santri sebagian besar merupakan siswa atau mahasiswa yang berada pada usia 11-24 tahun. Menurut Sarwono (2002), usia tersebut masuk kategori remaja dan dengan karakteristik perubahan yang terjadi bukan hanya perubahan fisik, melainkan juga perkembangan intelektual, interest, sikap, hubungan pribadi emosi, minat terhadap pekerjaan dan ilmu pengetahuan, bakat, perkembangan bidang moral serta keagamaan. Pada masa ini, remaja diharapkan mulai dapat menilai dan menghayati nilai-nilai yang dijunjung oleh lingkungannya. (Widiastuti, 2003)

Remaja akan dihadapkan pada berbagai macam perubahan, baik fisik maupun mental yang kesemuanya itu berkaitan dengan status dirinya dalam lingkungan sosialnya. Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja yang mempengaruhi perkembangan mentalnya antara lain adalah pertumbuhan tubuh (badan semakin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2002). Disamping itu, dalam perkembangannya menuju dewasa, terjadi perubahan harapan dan tuntutan orang tua terhadap remaja. Remaja dituntut untuk dapat bergaul dengan siapa saja, mengadakan penyesuaian dengan dirinya sendiri, penyesuaian dengan orang lain dan juga penyesuaian dengan lingkungan yang lebih luas, yaitu penyesuaian dengan masyarakat tempat ia hidup yang terkadang menimbulkan masalah yang sulit untuk diatasi oleh remaja (Widiyastuti, 2003).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: