HUBUNGAN KEMANDIRIAN DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI DAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANGTUA PADA SISWA-SISWI KELAS VIII SMP NEGERI 3 SLEMAN

Pendahuluan

Stein dan Book (2002) mengemukakan bahwa kemandirian adalah salah satu ciri individu yang berkualitas baik. Kemandirian adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak, serta tidak merasa tergantung pada orang lain. Secara emosional orang mandiri mengendalikan dirinya sendiri dalam merencanakan dan membuat keputusan penting. Kemandirian mencerminkan bagaimana dia dapat mengatur dirinya sendiri, kemampuan untuk mengikuti pemikiran sendiri dan berusaha mewujudkan keinginan yang ditentukan sendiri.

Tugas dari remaja salah satunya adalah dapat mencapai kemandirian. Menurut Havighurst (Hurlock, 1996) tugas perkembangan dalam individu pada usia remaja adalah mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya ataupun wanita. Menerima keadaan tubuh dan dapat menggunakan tubuhnya secara efektif, mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya, serta mempersiapkan karir ekonomi.

Setiap individu akan mencapai tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya. Tahap-tahap perkembangan pada individu dapat saling mempengaruhi. Ketika seorang individu tidak dapat mencapai tahap perkembangan awal dengan baik atau tidak maksimal, maka tahap perkembangan berikutnya akan mengalami hambatan (Hurlock, 1996). Menurut Leictman & Friedman (Yunita, 1999) kegagalan dalam melaksanakan tugas perkembangan dapat mengakibatkan kegagalan dalam pembentukan identitas diri, perasaan rendah diri dan prestasi belajar yang buruk. Hasil ini sejalan dengan penelitian Yunita (1999) menyatakan bahwa siswa dengan kemandirian rendah memiliki prestasi belajar yang rendah.

Seperti hal nya dengan kemandirian, ketika individu tidak dapat mencapai tahap kemandirian dengan baik, individu akan menerima otoritas orang lain dalam menyusun kegiatannya, mengarahkan minatnya tanpa protes, bahkan individu selalu meminta pangarahan dari orang lain. Individu selalu mencari dukungan dari orang lain dalam menghadapi masalah, dan tidak mampu menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang penting baginya (Yusuf, 2004). Hurlock (1996) menyatakan individu yang tergantung akan terus mangikuti apa yang ada di luar individu tersebut, tidak dapat mengambil keputusan sendiri.

Namun kemandirian yang mempunyai arti penting itu tidak mendapatkan perhatian yang serius di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Nawawi (1994) bahwa pembangunan di Indonesia ini tidak atau kurang memperhatikan pembentukan pribadi yang mandiri. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh C. Kagitcibasi (Sarwono,2004), seorang psikolog Turki, yang dalam penelitiannya terhadap orangtua di seluruh dunia, menghasilkan bahwa rasa ketergantungan pada orangtua di kalangan anak-anak Indonesia lebih besar dari pada anak-anak dari negara lain, dimana salah satu faktor penyebabnya adalah kehendak orangtua sendiri.

Adapun kenyataan yang selama ini sering ditemukan adalah remaja saat ini tidak mandiri. Hal hal kecil yang dapat mereka lakukan sendiri dilakukan oleh orang lain (memerlukan bantuan orang lain) Yusuf (2004). Hal itu menunjukkan jika kemandirian para pelajar kurang. Contoh konkrit yang saat ini sering ditemui adalah siswa tidak mengerjakan tugas mandiri mereka misalnya pekerjaan rumah dari guru, atau tugas-tugas rumah lain yang selayaknya dapat mereka selesaikan sendiri. Seperti yang sempat dikemukakan oleh Bapak Suryono, guru di SLTP Negeri 3 Sleman, yang menyatakan bahwa kemandirian siswa baik kelas VII, VIII maupun kelas IX sangat kurang sekali, mereka sering kali meninggalkan pekerjaan rumahnya dan hanya mencontek, dan tidak jarang mereka juga mencontek teman saat ulangan maupun ujian. Bahkan di antara mereka ada yang sepertinya sangat mengandalkan temannya, tidak berusaha sendiri dengan kemampuannya sendiri. ( data diperoleh dari hasil wawancara dengan guru bersangkutan 20/01/2005 ).

Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu orangtua murid, ibu Ani, bahwa seorang anak yang telah duduk di bangku SLTP hendaknya sudah mengerti kewajibannya sebagai siswa yaitu belajar tanpa disuruh, mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah dari guru mereka sendiri tanpa mencontek. Selain itu juga mengerjakan pekerjaan rumah sendiri tanpa disuruh (data diperoleh dari hasil wawancara dengan subjek 05/03/2005). Kemudian hasil wawancara dari beberapa siswa menyatakan bahwa mereka mengakui malas belajar jika tidak disuruh atau dimarahi orangtua mereka. Mereka juga mengakui jika sering menunggu contekkan dari temannya yang lain ketika mereka mengerjakan tugas ataupun ulangan, bahkan ujian. Selain malas mengerjakan sendiri mereka juga ingin mendapatkan nilai bagus dengan mencontek pada teman yang lebih pintar. Namun ada beberapa siswa yang tidak melakukan hal tersebut. Hal ini merupakan indikasi terdapat ketergantungan terhadap orang lain pada siswa atau dengan kata lain tidak mandiri.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: