HUBUNGAN KETERLIBATAN EMOSIONAL DENGAN KEPUTUSAN MEMBELI PADA WANITA

Pendahuluan

Berbelanja adalah salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh wanita, baik itu berbelanja untuk kebutuhan diri sendiri ataupun orang lain disekitarnya, misalnya keluarga. Memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan keluarga sehari-hari atau kebutuhan pribadi menjadi salah satu faktor penting bagi wanita untuk memutuskan membeli produk tersebut. Memilah-milah produk apa saja yang penting untuk dibeli atau tidak dibeli.

Sejumlah penelitian yang dirangkum menyatakan bahwa secara umum pola berbelanja wanita berbeda dengan pria. Kebanyakan wanita lebih banyak memilih barang-barang yang unik berdasarkan warna dan bentuk. Biasanya wanita bila sudah tertarik dengan satu produk, akan membeli kembali produk tersebut karena sudah memiliki keterlibatan pada produk tersebut. (http://www.e-psikologi.com /28 April 2005).

Senada dengan penelitian diatas, menerangkan bahwa wanita lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya, tidak mudah terbawa arus bujukan penjual, menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif, cepat merasakan suasana toko, senang melakukan kegiatan berbelanja walaupun hanya sekedar window shopping (http://www.smu-net.com/05 September 2005).

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola berbelanja seseorang terbentuk pada usia remaja tersebut. Selain itu, remaja biasanya mudah terbujuk iklan, terbawa teman, tidak realistis dan cenderung boros atau berlebihan dalam menggunakan uangnya (http://www.smu-net.com/05 September 2005). Permasalahan yang muncul dari sifat-sifat remaja inilah yang menjadi dasar peneliti menjadikan remaja akhir sebagai subjek penelitian.

Dua kasus berikutnya menunjukkan bahwa wanita memiliki persentase yang cukup besar dalam keputusan membeli yang dilakukan untuk dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Pertama, fakta menunjukkan bahwa persentase pembeli pada wanita dalam kategori otomotif, jasa keuangan, komputer, elektronik, jasa perbaikan rumah dan jasa perjalanan biasanya sampai 40-60% (Barletta, 2004). Itu artinya wanita menyumbangkan partisipasinya hampir disegala segi, yang dulunya jarang disentuh wanita.

Kedua, wanita membeli dan memengaruhi 80% pembelian semua barang konsumen. Itu termasuk 51% pembelian peralatan eletronik dan 75% semua pembelian ditoko obat. Wanita juga memengaruhi 80% keputusan pemilihan perawatan kesehatan (Popcorn, 2004). Untuk pilihan yang sifatnya kebiasaan wanita inipun, ada partisipasi yang besar dari para wanita.

Selain itu wanita memang sering mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk baik untuk kepentingan pribadi atau tidak. Penelitian yang dilakukan MarckPlus&Co (Republika, 23 Juni 2004) di 14 kota besar indonesia dengan 2000 responden menggambarkan bahwa wanita merupakan pengambil keputusan terbesar dalam rumah tangga, untuk semua kebutuhan. Menunjukkan dominasi yang besar dalam keputusan membeli membutuhkan pertimbangan yang seharusnya lebih objektif.

Namun, berdasarkan riset dari Kartajaya dkk (2003) menyatakan bahwa saat ini produk yang sifatnya tidak emosionalpun ternyata dibeli dengan pertimbangan emosional. Contohnya, pembelian sebuah komputer. Komputer salah satu hasil dari kecanggihan teknologi, dimana seharusnya konsumen wanita menjadi semakin rasional dalam pembeliannya. Akan tetapi pada kenyataannya, kegunaan adalah yang kedua selainnya didasarkan pada tampilan bentuk serta fitur-fitur menarik didalamnya.

Keuntungan yang ditawarkan sebuah produk memang sangat menggiurkan, hingga wanita sering melenceng dari niat utama untuk membeli sesuatu, apalagi bila praktis dan produk tersebutpun berkualitas (http://search.jawapos.com/05 September 2005).

Kasus yang paling mudah dilihat adalah penjualan iMac-nya Apple yang menuai kesuksesan besar dikalangan para desainer dan mampu merevitalisasikan kinerja Apple yang sebelumnya amburadul. Apa rahasia sukses iMac tersebut? Bukan pada fungsi yang ditawarkan Apple, akan tetapi karena Apple mengemasnya secara funky sesuai dengan emotional konsumen (Kartajaya,2003). Konsumen dewasa ini lebih merasa terlibat secara emosional pada sebuah produk, dan keterlibatan emosional ini memberikan sumbangan yang besar pada keputusan membeli konsumen wanita.

Kasus berikutnya dari Fortune terbitan 05 Agustus 1995, mengenai Coca-Cola Company yang terjadi pada tahun 1985. Dimana Coca-Cola Company mengumumkan akan mengubah rasa dari Coca-Cola yang telah ada selama ini. Perubahan ini memang sudah melalui riset, tetapi ternyata konsumen Coca-Cola sendiri memboikot perubahan tersebut. Karena rata-rata konsumen tersebut telah terlibat secara emosional pada Coca-Cola yang lama (Kotler dkk,1997).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: