HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DENGAN KINERJA KARYAWAN DINAS KEHUTANAN PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

Pendahuluan

Sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang penting dalam suatu organisasi, di samping faktor material, modal, mesin dan metode. Keberhasilan suatu organisasi dalam pencapaian tujuan sangat tergantung pada keberadaan dan kinerja dari para anggotanya, karena produktivitas suatu pekerjaan sebagian besar tergantung kepada kemauan dan kemampuan para pegawainya untuk menghasilkan sesuatu. Cascio (1998) menyatakan kinerja sebagai suatu gambaran sistematik dari kekuatan dan kelemahan kerja secara individual.

Kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini, terjadi penurunan kinerja terutama pada karyawan pemerintahan yang sebagian besar disebabkan oleh rendahnya disiplin kerja dari karyawan di mana secara langsung berpengaruh pula pada kinerjanya. Kepala Bagian Badan Kepegawaian (BK) Samarinda Drs Syarifuddin Msi (Kaltim Pos, 22/9/04) mengatakan jumlah PNS yang ada di Kaltim mencapai 8.000 orang dan pegawai tidak tetap bulanan (PTBB) sebanyak 3.000 orang harus terus dievaluasi. Menurutnya bila dalam evaluasi ternyata ditemukan PTTB dan PNS yang tidak disiplin dalam bekerja maka ancamannya dipecat. Saat ini telah banyak para pegawai yang dipecat karena bermacam-macam kesalahan yang telah dilakukan karena tidak disiplin dan berkinerja jelek. Pernyataan serupa dikemukakan oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan (Pikiran Rakyat, 29/12/03) yang menegaskan bahwa turunnya disiplin kerja pada pegawai secara langsung juga memberikan gambaran tentang buruknya kinerja mereka. Hal ini telah diupayakan pemecahannya oleh pemerintah dengan diadakannya Gerakan Disiplin Nasional (GDN) yang dimulai sejak bulan Mei 1995 yang lalu dan dengan memberikan sanksi yang tegas pada karyawan yang melakukan pelanggaran, misalnya dengan pemotongan gaji, namun upaya tersebut dirasakan belum mampu menanggulangi masalah ini dengan maksimal.

Menurunnya kinerja karyawan pemerintahan dirasakan pula oleh Menteri Aparatur Negara Feisal Tamim yang melancarkan kecaman tajam terhadap para pegawai negeri Indonesia. Ia mengatakan, sebagian besar dari empat juta pegawai negeri sipil (PNS) dinilai tidak produktif dan tidak profesional. Berdasarkan perhitungannya, hanya 45% PNS yang mengetahui apa yang mereka lakukan dan melaksanakan pekerjaan mereka dengan benar (StockWatch, 13/6/03). Pendapat serupa dikemukakan oleh Ketua Komisi II DPR RI Teras Narang yang mengatakan 60 % dari sekitar enam jutaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia “pengangguran”. Cara paling efektif mengurangi jumlah “pengangguran” adalah dengan mendisiplinkan pegawai, dengan adanya pegawai yang berdisiplin tentu kondisinya akan menjadi lebih baik. Dinas atau lembaga sebagai institusinya juga harus berupaya mendisiplinkan pegawai dengan tegas. Para pegawai itu harus menyadari bahwa mereka bekerja untuk rakyat, bukan untuk diri sendiri sebab pegawai negeri itu fungsinya sebagai pelayan masyarakat (Kaltim Pos, 13/10/02).

Kinerja seorang karyawan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Mar’at (1982) menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan adalah perbedaan minat, sikap dan perbedaan jenis kebutuhan yang merupakan faktor individu. Identitas tugas, otonomi, merupakan karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja terdekat merupakan karakteristik organisasi masuk dalam faktor situasi kerja yang mendukung kinerja karyawan. Pendapat lain dikemukakan oleh Bateman, Ferris dan Strasser (Timple, 2002) bahwa kinerja dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Kemampuan, upaya, perilaku dan sikap merupakan faktor internal sedangkan kesulitan tugas, keberuntungan, dan pimpinan merupakan faktor eksternal. Berdasarkan dari pendapat-pendapat ini, maka penelitian yang akan dilakukan lebih mengkhususkan pada aspek eksternal yaitu faktor kepemimpinan, karena anggapan yang ada pada masyarakat sebagian besar menunjukkan bahwa pada instansi pemerintah pimpinan mempunyai peranan yang besar dan penting. Kinicki dan Kreitner (2001) mengatakan bahwa seorang pemimpin bisa mengetahui permasalahan yang berhubungan dengan kinerja karyawan secara tepat ketika ia mengerti bahwa menurunnya kinerja tidak semata-mata dilihat dari faktor motivasinya. Hal ini akan menjadi lebih jelas bila dilihat dari hubungan interpersonal karyawan pada saat bekerja, baik dengan sesama karyawan maupun dengan dewan pimpinan.

Pemimpin mempunyai peranan yang sangat dominan dalam melaksanakan perubahan dan perkembangan individu, kelompok dan organisasi. Terdapat berbagai macam gaya kepemimpinan, dan gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku pengikut-pengikutnya (Thoha, 2004). Gaya kepemimpinan itu sendiri merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain (Thoha, 2004). Penelitian yang akan dilakukan mengambil salah satu dari gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan transformasional, karena pada gaya kepemimpinan ini interaksi antara pemimpin dan pengikutnya ditandai oleh pengaruh pemimpin untuk mengubah perilaku pengikutnya atau bawahannya menjadi seseorang yang merasa mampu dan dan bermotivasi tinggi dan berupaya mencapai kinerja yang yang tinggi dan bermutu dalam bentuk prestasi kerja (Munandar, 2001). Adanya pemimpin yang baik yang mampu melakukan perubahan dan mempengaruhi perilaku individu maka diharapkan kinerja karyawan akan meningkat.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: