HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN MOTIVASI KESEMBUHAN PADA PASIEN PENDERITA TUBERCULOSIS

Pendahuluan

Tuberkulose atau tuberculosis (dulu disingkat TBC) sebenarnya sudah diderita manusia sejak ribuan tahun lalu. Berdasarkan penelitian pada mumi peninggalan zaman Mesir kuno, saat itu sudah banyak orang meninggal akibat penyakit ini. Penyakit ini mulai menyebar kesegala penjuru dunia pada abad XVII – XVIII. Saat itu tuberculosis (TB) menyebabkan kematian hampir seperempat jumlah kaum dewasa di Eropa. Di AS bagian utara, dari tahun 1800 sampai awal 1900-an, TB merupakan penyebab kematian utama. Dengan tanda awal demam, bobot badan menurun, cepat lelah, berkeringat dingin malam hari. Gejala TB juga disertai batuk yang dahaknya acap kali bercampur darah (Selamihardja, 1998).

Walaupun mikrobakteri tuberkulose sudah ditemukan oleh dr. Robert Koch pada 24 Maret 1882 di Berlin, Jerman, penyakit ini baru bisa diberantas setelah ditemukan obatnya pada 1940-1950an. Obat pertama yang diproduksi antara lain streptomycin, isioniazid, dan para-aminosacylic acid. Kemudian muncul obat ethambutol, rifampicin, thiacetazone, dan pyrazinamide.

Sejak itu, TB sempat mereda dan tidak lagi terlalu dipermasalahkan oleh kalangan kedokteran. Namun, awal tahun 1990-an TB kembali menjadi bahan pembicaraan dunia kedokteran karena ternyata masih membunuh sekitar 2 – 3 juta penduduk dunia, khususnya di negara ekonomi lemah dan menengah. Dari tujuh juta penderita TB, lebih dari setengahnya berada di negara berpendapatan menengah seperti Brasil, Indonesia, Iran, Meksiko, Filipina, Rusia, Afrika Selatan, dan Thailand. Belum lagi di negara berpendapatan rendah seperti Afghanistan, India, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Sudan, atau Uganda (Selamihardja, 1998).

Tiap tahun, tuberculosis membunuh hampir 2 juta orang di seluruh dunia. Ahli kesehatan dari WHO memprediksi angka ini akan semakin memburuk pada dekade mendatang. Paling tidak 100 juta kasus baru TB diperkirakan bertambah pada tahun 2020 dan kurang lebih 36 juta orang dikuatirkan meninggal akibat penyakit ini. Sekarang ini, satu orang di dunia terinfeksi TB tiap detik (Detikcom, 1 September 2003).

Berdasarkan Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 di Indonesia sendiri TB masih merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular). Bahkan, peringkat pertama penyebab kematian karena penyakit menular. Jumlah penderitanya sekitar 500.000 orang/tahun dan kematian sekitar 175.000 orang/tahun, khususnya di daerah pedesaan miskin dan daerah kumuh perkotaan yang rawan kuman..

Dalam usaha menumpas penyakit TB, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sebenarnya telah memperkenalkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Strategi ini terdiri atas lima komponen utama yakni adanya komitmen politik, tersedianya pelayanan pemeriksaan mikroskopik, terjaminnya penyediaan obat yang merata dan tepat waktu, adanya sistem monitoring yang baik, dan adanya program pengawasan keteraturan minum obat disertai jaminan agar setiap pasien pasti minum obat sampai tuntas. Penderita TB yang ditangani secara langsung, terawasi, cepat, dan tuntas akan menumpas TB secara efektif dan cepat..

Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, upaya pemberantasan TB masih berlangsung lamban. Hambatannya antara lain, bahwa kadang-kadang penderita TB kurang menyadari akan penyakitnya dan juga kurang teraturnya pengobatan. Padahal pengobatan penyakit TB tidak boleh setengah-setengah, harus rutin, berturut-turut sampai tuntas dan memakan waktu paling sedikit enam bulan. Penyakit TB harus diobati terus menerus, tidak terputus-putus, sehingga diperlukan motivasi dari pasien.

Sebenarnya, tidak sulit membasmi penyakit TB asalkan penderita mengikuti semua nasihat yang diberikan dokter. Untuk menyebarluaskan pencegahan serta pengobatan TB tentu masih diperlukan tenaga non-medis yang dapat ikut membantu menyebarkan informasi sampai ke pelosok yang sulit terjangkau (Selamihardja, 1998).
Selama tiga tahun terakhir ini, penyakit TB telah mendapat banyak perhatian khususnya dari pakar kesehatan seperti dokter, perawat, psikiater ataupun psikolog yang memusatkan perhatiannya pada bidang kesehatan.

Serangan Tuberculosis dapat disebabkan oleh keadaan emosional seperti adanya kecemasan, putus asa, dan kecil hati. Apabila penyakit yang dideritanya tidak dapat disembuhkan, bahkan yang lebih parah lagi, bila penderita pesimis untuk dapat pulih kembali, maka penderita akan meninggal dunia. Keadaan pikiran penderita juga akan memainkan peran tertentu dalam reaksi terhadap perawatan, dan dalam kasus tertentu bahkan mungkin memegang peran utama. Seperti kasus seorang wanita yang menderita depresi parah meninggal dunia di rumah sakit karena terserang influensa.

Dokter yang berjuang menyelamatkan nyawanya mengatakan bahwa pasien tersebut tidak mempunyai daya juang, dan rupanya pasien tidak memiliki “keinginan untuk hidup” (Pujiastuti, 2002). Dokter mungkin menerapkan cara-cara perawatan dan pengobatan, tetapi hal itu tergantung pada kerja tubuh secara normal guna menjamin bahwa usahanya akan membawa hasil. Dengan demikian keadaan pikiran pasien dapat menghambat atau mendorong kesembuhan dari penyakit (Mc Ghie, 1996).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: