HUBUNGAN TIPE KEPRIBADIAN EKSTRAVERT DENGAN ADVERSITY QUOTIENT PADA IBU BEKERJA

Pendahuluan

Perubahan dalam masyarakat Indonesia dari agraris tradisional menuju masyarakat industri yang dilengkapi dengan kemajuan di bidang informasi dan teknologi telah memberikan ruang bagi kaum wanita untuk bersaing dengan kaum laki-laki dalam dunia kerja. Salah satu yang dapat dilihat yakni bahwa Indonesia telah mengangkat kaum wanita untuk menduduki jabatan presiden (www.e-psikologi.com,25/09/2004)

Pada zaman globalisasi ini telah banyak perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Banyaknya wanita yang bekerja bukan merupakan hal yang asing. Jika melihat pada sejarah negara ini terdapat suatu gambaran sulitnya pengembangan diri kaum wanita pada sebelum kemerdekaan. Munculnya gerakan emansipasi telah menumbuhkan semangat bagi kaum wanita untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah. Semangat Kartini masih dapat dirasakan walaupun zaman telah mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat dari eksistensi para wanita Indonesia untuk mencapai aktualisasi diri dalam dunia kerja (www.waspada.co.id,25/09/2004)

Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2000 jumlah tenaga kerja di Indonesia sebanyak 101,6 juta, sekitar 40 % merupakan tenaga kerja wanita. Hal ini menggambarkan semakin tinggi persaingan di dunia kerja antara tenaga kerja wanita dan laki-laki (www.indomedia.com,27/09/2004)

Faktor-faktor yang menyebabkan wanita masuk ke dunia kerja antara lain, pemenuhan kebutuhan ekonomi, keinginan untuk mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh, sehingga meningkatnya kebutuhan bagi kaum wanita untuk berpartisipasi langsung di dunia kerja ( Fauziah, dkk )

Suatu hal yang tidak dapat dihindari dari adanya perubahan dalam peran wanita di dunia kerja, yakni adanya tuntutan yang harus dijalani oleh wanita yang bekerja. Terdapat banyak pilihan dan konsekuensi diantaranya apakah akan mengembangkan diri di karir atau mengabdi untuk keluarga. Wanita yang memilih peran menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga memiliki konsekuensi tersendiri bagi setiap individu yang menjalaninya (www.waspada.com, 25/09/2004)

Wanita karir yang bekerja di luar rumah memiliki peran ganda, merupakan suatu beban yang tidak ringan yang harus dijalani. Masalah peran ganda pada wanita karir berdampak pada keseimbangan keluarga dan kerja. Penelitian di Jakarta pada tahun 1990 yang melakukan survei terhadap para suami mengenai pendapat mereka tentang wanita karir, menunjukkan hasil bahwa para suami merasa lebih baik istrinya tidak bekerja di luar rumah (www.dunia.web.id, 27/09/2004)

Selain itu dilema wanita bekerja yang telah memiliki anak pra sekolah memiliki konsekuensi yang lebih berat. Jika tidak memiliki pramuwisma ketika bekerja maka harus menitipkan di tempat penitipan anak. Akibatnya anak dan Ibu akan kehilangan kesempatan untuk berkomunikasi.(www.indomedia.com, 27/09/2004)

Seorang filosof, Simon menyebutkan bahwa ketika wanita aktif di dunia kerja hal itu harus dibayar mahal dengan rontoknya sendi-sendi dalam keluarga. Selain itu dari hasil poling yang oleh sebuah lembaga di Amerika tentang pendapat para wanita tentang wanita karir diperoleh kesimpulan bahwa saat ini wanita sangat keletihan dan 65% lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah. (www.pikiran rakyat.com,27/09/2004)

Menurut Lanoi dalam Kumolohadi (2001) menyebutkan bahwa beban wanita yang berperan ganda lebih berat daripada wanita yang berperan tunggal. Wanita yang berperan ganda dituntut untuk menyeimbangkan peran di kantor dan di rumah. Diperoleh laporan bahwa wanita yang berperan ganda merasakan ketidakpuasan dalam menjalankan masing-masing peran. Ketika berada di kantor mengkhawatirkan keadaan rumah, sebaliknya ketika berada di rumah disibukkan dengan memikirkan pekerjaan. Selain itu bagi wanita yang lembur akan timbul perasaan bersalah karena meninggalkan keluarga dalam waktu yang lama.

Sumber masalah yang dialami wanita bekerja dapat bersifat internal, munculnya pertentangan batin dengan adanya tuntutan untuk membantu ekonomi keluarga dan untuk menjadi seorang ibu. Wanita yang berperan ganda memiliki 2 macam tuntutan yaitu mengurus suami dan anak, sedangkan di satu sisi mempertanggungjawabkan amanat yang dipercayakan di kantor. (www.e-psikologi.com, 25/09/2004)

Suatu hal yang ideal yakni adanya keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga, namun pada kenyataan terdapat wanita bekerja yang tidak memperoleh keseimbangan antara kantor dan rumah. Ketika di kantor banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sementara keluarga menuntut perhatian. Jika hal ini berlangsung secara terus menerus dapat menimbulkan stress yang menyebabkan kelelahan psikis sehingga dapat mengalami depresi. (www.e-psikologi.com, 25/09/2004)

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: