KARAKTERISTIK PEKERJAAN, BUDAYA KREATIF DAN KEPUASAN KERJA

Pendahuluan

Pada hakekatnya hubungan yang terjadi antara karyawan dengan perusahaan adalah hubungan yang saling menguntungkan. Perusahaan menginginkan karyawan bekerja seefektif dan efisien mungkin, sedangkan karyawan menginginkan pemeliharaan kesejahteraan yang diperolehnya selama proses kerja berlangsung. Hal ini berarti bahwa manusia sebagai sumber daya perusahaan tidak dapat diabaikan begitu saja keberadaannya sebagai penentu kebehasilan perusahaan. Allen (As’ad, 1995) mengatakan bahwa unsur manusia memiliki peranan penting dalam pencapaian hasil sesuai tujuan perusahaan.

Produktivitas yang tinggi dari karyawan merupakan suatu kemutlakan untuk keberlangsungannya suatu perusahaan. Akibatnya, perusahaan menjadikan karyawan tak ubahnya seperti mesin. Ironisnya lagi mesin tersebut tidak dipelihara (manage) dengan baik. Perusahaan seringkali melupakan kalau karyawan adalah investasi dari profit itu sendiri yang perlu dipelihara agar tetap dapat berproduksi dengan baik. Kondisi yang demikian ini seringkali memicu timbulnya seputar masalah ketidakadilan (inequity) karyawan.

Ketidakadilan ini menyangkut masalah promosi, gaji, insentif, tunjangan, dan lain sebagainya. Ketidakadilan ini mampu memicu timbulnya aksi-aksi destruktif, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1 berikut ini.

Tabel 1
Contoh aksi akibat persepsi karyawanKetidakadilan Kerja
Tahun
Data kasus
Sumber
8/1/2002
1.000 Buruh Pabrik Garmen Unjuk Rasa, penyesuaian jam kerja
Media Indonesia
8/7/2003
200 PNS Pusat Kena Sanksi Indisipliner
Waspada
29/9/2003,
Keluyuran pada Jam Kerja Dipotret,
Suara Merdeka
3/12/2003
10% PNS Mangkir Kerja
Suara Merdeka
6/1/2004
1.200 Karyawan PTDI mbolos,
Wawasan,
6/9/2004
Karyawan DAMRI minta penyesuaian gaji
Suara Merdeka
5/3/2005
Aksi demo guru warnai Hardiknas di Yogya,
Kedaulatan Rakyat
(Sumber data dari http://www.iisg.nl)

Studi kasus yang dilakukan pada sebuah perusahaan di Yogyakarta, tepatnya PT Aseli Dagadu Djokdja (PT ADD) menggambarkan suatu realita tentang equity (keadilan) kebijaksanaan perusahaan. Perusahaan tersebut menerapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dirancang mampu menumbuhkan motivasi bekerja seorang karyawan untuk bekerja lebih produktif. Beberapa kebijaksanaan tersebut meliputi masalah insentif, tunjangan, bonus pencapaian target bulanan, bonus pencapaian target tahunan.

Apabila kebijakan tersebut dirasa sesuai dengan keinginan karyawan, maka karyawan merasa senang karena kebutuhannya tercukupi. Kesesuaian ataupun ketidaksesuaian antara nilai karyawan dengan nilai perusahaan, identik dengan kesenjangan antara harapan karyawan dan realita di perusahaaan. Kondisi ini erat kaitannya dengan kepuasan kerja seorang karyawan dalam bekerja.

Menurut Davis & Newstrom (1985) salah satu faktor untuk menjaga hubungan baik dengan karyawan adalah dengan memperhatikan aspek-aspek yang dapat memunculkan rasa puas terhadap pekerjaannya atau yang sering disebut dengan kepuasan kerja (job satisfaction). Menurutnya kepuasan kerja tinggi merupakan tanda organisasi yang dikelola dengan baik oleh pihak manajemen.

Kepuasan kerja adalah hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya karyawan terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya (Howell dan Dipboye, 1986). Kepuasan kerja adalah hasil dari berbagai sikap pekerja terhadap pekerjaannya, faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan dan hidup pada umumnya (Anoraga, 1990). Sementara itu dampak yang timbul dari ketidakpuasan kerja diantaranya karyawan akan mengalami kebosanan, depresi, lekas marah, mudah mengalami kecelakaan kerja dan berkurangnya konsentrasi dalam bekerja (Gibson, Ivancevich & Donnely, 1988), timbulnya turn-over (Judge, 1993), mudah mengeluh, mencuri barang organisasi, membangkang, serta menghindar dari sebagian tanggung jawabnya (Robbins, 2001), absensi, pemogokan liar, dan unjuk rasa (Steers dan Porter dalam As’ad, 1995).

Berdasarkan observasi pada karyawan PT ADD, ketidakpuasan kerja tampak pada perilaku seperti absensi yang tidak teratur, kedatangan karyawan yang terlambat ke tempat kerja, keluhan-keluhan karyawan akan kurangnya fasilitas tambahan, tindakan mengobrol di luar jam istirahat, makan pada saat jam kerja serta meninggalkan tempat pada jam kerja untuk memenuhi kepentingan pribadi. Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat penyimpangan perilaku karyawan yang diindikasikan berasal dari ketidakpuasan kerja.

Kepuasan kerja menjadi kajian yang menarik dan penting karena terbukti memiliki pengaruh baik bagi kepentingan individu, industri dan masyarakat (As’ad, 1995). Bagi individu, penelitian tentang kepuasan kerja ini memungkinkan timbulnya usaha-usaha peningkatan kebahagiaan hidup. Sementara bagi industri, penelitian ini dilakukan dalam kaitannya dengan peningkatan produksi melalui perbaikan sikap dan perilaku para karyawannya. Bagi masyarakat pentingnya kepuasan kerja ini akan membawa pengaruh positif terhadap nilai manusia di sektor industri. Atas dasar hal inilah maka kepuasan kerja patut mendapat perhatian yang lebih mendalam.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: