KECERDASAN EMOSIONAL DITINJAU DARI PENDIDIKAN MUSIK DAN JENIS KELAMIN

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Membangun hubungan dengan orang lain adalah tuntutan dasar manusia. Manusia membutuhkan keberadaan orang lain disekitarnya untuk dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Manusia dianugerahi kecerdasan oleh Yang Maha Kuasa, berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Manusia memiliki kemampuan untuk mengelola dirinya, dengan ini individu dapat bersosialisasi dengan baik. Gardner (dalam Goleman, 1996) menyatakan bahwa manusia memiliki berbagai macam kecerdasan, yaitu : kecerdasan linguistik, logika matematis, spasial, tubuh kinestetik, musikal serta kecerdasan antarpribadi dan intrapribadi.

Selama ini banyak orang menganggap bahwa jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, maka orang tersebut memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang lebih besar dibanding orang lain. Pada kenyataannya ada banyak kasus dimana seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang tinggi tersisih dari orang lain yang tingkat kecerdasan intelektualnya lebih rendah. Goleman (1996) menyatakan bahwa IQ hanya berperan 20 persen dalam menggapai sukses, sisanya adalah kombinasi beragam faktor lain, diantaranya adalah kecerdasan emosi. Ternyata IQ yang tinggi tidak menjamin seseorang akan meraih kesuksesan. Dengan kata lain IQ penting untuk keberhasilan, tapi ada berbagai faktor lain yang ikut mempengaruhi, salah satunya adalah kecerdasan emosi.

Dengan semakin berkembangnya kemajuan teknologi dan semakin rumitnya kehidupan, seringkali menyebabkan stres dan kekerasan yang kadang-kadang disebabkan oleh hal-hal sepele. Kehidupan dengan permasalahan yang semakin kompleks seringkali menyebabkan orang menjadi lebih cepat marah, individualistik, serba tergesa-gesa, semakin tidak peka, tidak mampu mendengarkan dan berempati terhadap perasaan orang lain. Semua itu dikarenakan kurangnya kemampuan mengendalikan emosi. Oleh karena itu tak heran bila kecerdasan emosi dianggap menyumbang banyak pada kesuksesan hidup seseorang.

Emosi berperan penting dalam kehidupan. Emosi adalah penyambung hidup bagi kesadaran diri dan kelangsungan diri yang secara mendalam menghubungkan individu dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, serta dengan alam. Emosi memberitahu manusia tentang hal-hal yang paling utama bagi diri sendiri, masyarakat, nilai-nilai, kegiatan dan kebutuhan yang memberi kita motivasi, semangat, kendali diri, dan kegigihan. Kesadaran dan pengetahuan tentang emosi memungkinkan seseorang memulihkan kehidupan dan kesehatannya, melindungi keluarga, membangun hubungan kasih yang langgeng dan meraih keberhasilan dalam pekerjaan (Segal, 2003). Emosi dapat dirumuskan sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dan perubahan perilaku. Karena itu emosi lebih intens daripada perasaan sederhana dan biasa (Chaplin,1997).

Pengalaman emosional sering disertai aktivitas sistem-sistem otonom dan kelenjar. Teori James-Lange menyatakan bahwa pengalaman emosional muncul dari kesadaran akan adanya perubahan kondisi internal tubuh. Semua emosi disertai perubahan-perubahan fisiologi tertentu, misalnya peningkatan atau penurunan tekanan darah, detak jantung, ketegangan otot dan lain-lain. Kesadaran akan perubahan-perubahan ini membentuk emosi (Andayani,1997). Selanjutnya Andayani (1997) menjelaskan bahwa emosi bukan peristiwa sesaat, tetapi pengalaman yang terjadi selama beberapa saat. Pengalaman emosional dapat ditimbulkan oleh masukan eksternal pada sistem sensoris, yakni ketika seseorang melihat atau mendengar stimulus tertentu yang membangkitkan emosi.

Realitas emosi sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan manusia pada akhirnya melahirkan satu konsepsi tentang kecerdasan emosi. Salovey dan Mayer (Stein dan Book, 2003) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Goleman (1996), membuktikan bahwa tingkat kecerdasan emosional manusia lebih mampu memperlihatkan kesuksesan seseorang dibandingkan kecerdasan intelektual (IQ) yang dimilikinya. Secerdas apapun seseorang jika ia sering membuat kesal orang lain dengan perilaku yang kasar, tidak tahu cara membawa diri, sering marah-marah, dan mudah stres, maka tidak akan ada orang yang betah berada disekitarnya (Stein dan Book,2003). Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosi sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial manusia. Jika individu memiliki kecerdasan emosi yang rendah maka individu tersebut cenderung akan melakukan sesuatu tanpa memperdulikan aturan yang berlaku. Hal ini akan dapat menjerumuskan seseorang dalam berbagai bentuk perilaku negatif, seperti agresivitas, kejahatan dan kekerasan.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: