KEMAMPUAN KERJASAMA DITINJAU DARI KEPERCAYAAN DIRI DAN KEPERCAYAAN TERHADAP ORANG LAIN PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Pendahuluan

Manusia dalam kehidupannya dari dulu hingga sekarang terus mengalami perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi telah memicu manusia untuk selalu berkembang sehingga dapat menyesuaikan dirinya seiring dengan tuntutan hidup yang semakin kompleks. Natawidjaja (dalam Afiatin dan Andayani, 1998) berpendapat bahwa kehidupan dalam masyarakat yang senantiasa berubah menuntut individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan suasana baru, berbagai konflik dan berbagai pilihan yang harus dipilihnya secara tepat.

Manusia memiliki dinamika hidup di masyarakat, yaitu sebagai makhluk individu dan sosial yang sepanjang perkembangannya selalu berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan seseorang untuk melakukan kerjasama dengan orang lain merupakan salah satu wujud dari interaksi untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu contoh yang dapat dilihat yaitu sikap saling tolong-menolong pada bangsa Indonesia secara umum dan masyarakat pedesaan secara khususnya.

Mereka dalam melakukan suatu hal yang berhubungan dengan kepentingan bersama tidak memikirkan atau dilandasi oleh kepentingan atau keuntungan pribadi dan materialistis, melainkan didasarkan oleh rasa solidaritas yang tinggi serta merasa senasib dan sepenanggungan. Begitu juga yang terjadi pada dunia mahasiswa khususnya mahasiswa Psikologi UII, mahasiswa sebagai kaum intelektual dituntut untuk mampu bekerjasama dalam berbagai macam hal.

Salah satu contoh yang dapat dilihat antara lain yaitu dengan diadakannya kuliah kerja nyata, hal ini merupakan suatu bentuk kerjasama yang nyata; antara mahasiswa dengan mahasiswa maupun mahasiswa dengan masyarakat umum. Menurut Baron & Byrne (1994), dalam kondisi kerjasama, kelompok mempunyai tujuan yang sama dan memiliki harapan untuk membagi hasil kerjanya secara adil. Kerjasama akan meningkatkan kecenderungan pada kedua kelompok untuk menerima mereka sebagai satu kesatuan.
Pada kenyataannya hal yang tersebut di atas tidak sepenuhnya seperti yang diharapkan, hal ini terbukti dengan banyaknya peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang mencerminkan semakin menurunnya budaya kerjasama dan sikap saling tolong-menolong. Di lingkungan mahasiswa Psikologi UII beberapa mahasiswa terlihat sangat individualistik dan hanya memikirkan diri dan kepentingannnya sendiri, ketika suatu permasalahan atau kesulitan dalam perkuliahan dialami sebagian mahasiswa, mahasiswa yang mampu dan tidak mengalami kesulitan dalam hal tersebut sangat jarang memberikan perhatian maupun bantuan pada mahasiswa yang tidak mampu walaupun diantara mereka saling mengenal dan mengetahui, contoh lain yaitu ketika mahasiswa yang membutuhkan bantuan tersebut berasal dari kelompok lain maka mahasiswa yang mampu tidak peduli karena mahasiswa tersebut merasa bukan termasuk dalam kelompok sehingga membantu mahasiswa dari kelompok lain adalah bukan kewajibannya.

Ada beberapa peneliti yang melakukan penelitian yaitu dengan mencoba untuk meningkatkan kerjasama antar kelompok etnik sebagai usaha untuk mengurangi prasangka dan meningkatkan performa akademik dari kelompok minoritas. Jadi diberikan perlakuan pada kelompok minoritas untuk meningkatkan kerjasama dengan cara memberikan pendidikan yang lebih dan meningkatkan kapasitas pertemuan antara kelompok minoritas dan kelompok mayoritas. Hal tersebut dilakukan oleh para peneliti masyarakat pada umumnya dan dikalangan mahasiswa pada khususnya. Dalam penelitian Deutsch (Watson & Tregerthan, 1984), siswa pada diskusi yang kooperatif memperlihatkan kedekatan kelompok, lebih perhatian pada kelompoknya dan memiliki sedikit masalah komunikasi dibandingkan kelompok kompetitif.

Suatu kerjasama yang baik antara individu yang satu dengan individu yang lain, sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek kepribadian antara lain yaitu: kepercayaan diri yang diiringi dengan kepercayaan terhadap orang lain

Kepercayaan diri itu sendiri merupakan suatu aspek kepribadian manusia yang berfungsi sangat penting guna mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya (Afiatin & Martaniah, 1998). Seseorang yang memiliki kepercayaan diri dianggap dapat mencapai segala sesuatunya dengan mudah, di antaranya yaitu berprestasi, tidak sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, dan memiliki kemampuan untuk melakukan suatu kerjasama dengan orang lain dengan baik.

Download Selengkapnya
Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: