KEPUASAN KERJA DAN BURNOUT PADA POLISI

Pendahuluan

Kerja merupakan hal yang paling mendasar / esensial dalam kehidupan manusia. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawa pada keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya (Anoraga, 1992).

Setiap anggota polisi mengasumsikan bahwa pekerjaan yang digelutinya memberikan isi dan makna pada urgensi kepuasan hidup dalam kehidupannya. Pekerjaan polisi bukan merupakan sesuatu yang mudah. Polisi sebagai aparat penegak hukum yang paling menonjol di mata masyarakat karena langsung bersentuhan dengan masyarakat. Polisi merupakan garda depan pejuang-pejuang pengawal keamanan dan ketertiban masyarakat. Apalagi pada saat ini, peran polisi dalam melaksanakan fungsi kepolisian menjadi bertambah penting sejalan dengan perkembangan dan perubahan yang begitu cepat di masyarakat.

Dinamika kehidupan yang begitu kompleks serta mobilitas masyarakat yang sangat tinggi menimbulkan kerawanan terhadap keamanan dan ketertiban. Berbagai bentuk kriminalitas juga terus meningkat kuantitas dan kualitasnya, sehingga kebutuhan akan peran polisi juga semakin tinggi. Masyarakat pun menjadi semakin kritis dalam memperhatikan mutu pelayanan yang diberikan oleh instansi kepolisian.

Kepolisian merupakan ujung tombak penyelenggara keamanan dalam negeri memang mengalami masa yang paling sulit pada saat ini. Bertumpuk persoalan, baik internal maupun eksternal tengah membebani kepolisian Republik Indonesia. Masalah eksternal berkenaan dengan kondisi negara yang belum stabil dan sejumlah masyarakat yang masih berada dalam dunia mispersepsi akan makna demokrasi yang diterjemahkan sebagai kebebasan sebesar-besarnya dan jika mungkin tanpa batas. Sejumlah masalah internal yang tidak kalah pentingnya dalam kinerja kepolisian berkenaan dengan sumber daya manusia kepolisian yang belum sepenuhnya profesional, suatu kondisi yang tidak terlepas dari manajemen rekrutmen, penempatan, promosi dan sebagainya (Harkrisnowo, 2003).

Profesi polisi oleh hampir seluruh peneliti dikategorikan sebagai jenis pekerjaan yang sangat rawan stres (Ahmad, 2004). Stres yang dialami oleh polisi dapat berasal dari stressor fisik, sosial, psikologis, politik dan ekonomi, juga dapat berupa stressor kerja seperti beban kerja yang berlebihan, rendahnya gaji, minimnya sarana, lingkungan kerja yang tidak kondusif, resiko nyawa pada saat bertugas, rutinitas kerja dan sebagainya. Dengan berbagai keterbatasan internal dan eksternal tersebut maka tidak mudah menampilkan peran polisi dalam bentuk ideal. Kendala-kendala tersebut akhirnya menimbulkan stres yang menyebabkan timbulnya perilaku negatif pada polisi.

Pengabdian untuk menjaga keamanan dan menegakkan ketertiban menyebabkan polisi setiap hari berada langsung di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat dapat melihat dan menilai secara langsung gerak tindak polisi. Jika ada cacat atau celanya maka akan segera tampak, begitu pula jika berprestasi akan cepat diketahui. Pada kenyataannya di lapangan, beberapa respon di masyarakat memperlihatkan kesan kurang puas terhadap penampilan kerja anggota polisi. Polisi lalu lintas yang sering terlambat datang di jalan macet, atau anggota reskrim yang bermalasan dalam menuntaskan kasus-kasusnya merupakan contoh gambaran yang dipersepsi oleh masyarakat tentang polisi. Menurut Adrianus Meliala (Aditama, 2004) salah satu asumsi munculnya penampilan kerja polisi yang mengecewakan tersebut disebabkan gejala burnout yang timbul di kalangan anggota polisi.

Peneliti melakukan pengamatan dan perbincangan dengan beberapa anggota polisi Polri Daerah Kalimantan Selatan Resort Banjar. Mereka menyatakan bahwa kondisi kerja yang dirasakan kurang memuaskan, misalnya sarana dan perlengkapan kerja kurang memadai, kondisi geografis yang tidak mengenakkan, jarak tempuh antara tempat tinggal dan tempat dinas yang jauh. Selain itu kurangnya jumlah personel polisi sehingga terdapat ketidakseimbangan antara rasio polisi : masyarakat.

Polisi juga harus siaga 24 jam, setiap saat ketika panggilan datang harus cepat dan tanggap, fasilitas asrama polisi juga tidak memadai, beberapa polsek tidak memiliki asrama bagi anggotanya sehingga ketika terjadi peristiwa darurat maka tidak bisa langsung secepatnya menuju lokasi sehingga berpengaruh pada kurangnya pengakuan dan apresiasi dari masyarakat. Beberapa polisi juga mengeluhkan banyak kasus yang berhasil ditangani menjadi berubah ketika sampai pada tahap peradilan. Beberapa faktor di atas merupakan bagian dari terpenuhi atau tidaknya kepuasan kerja Jika kondisi ini dibiarkan terus berlanjut maka motivasi untuk menjalankan tugas menjadi menurun.

Dalam jangka panjang apabila keadaan seperti itu dibiarkan berlarut-larut tanpa terpenuhinya sejumlah aspek kepuasan kerja seperti yang terjadi di lapangan maka mendorong munculnya burnout, misalnya tidak bersemangat dalam menjalankan tugas karena kelelahan emosional, membuat jarak dengan orang lain serta bersikap negatif dan merasa kehadiran dirinya untuk orang lain atau organisasi tidak bermanfaat sehingga pemaknaan terhadap pekerjaan menjadi berkurang.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: