KEPUASAN KERJA DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN DAN IKLIM ORGANISASI

Pendahuluan

Sumber daya manusia adalah harta yang paling penting yang dimiliki oleh setiap organisasi karena sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu organisasi baik yang berbentuk perusahaan atau yang lain. Bagaimanapun tingginya suatu teknologi dan berbagai sistem komputer yang dipergunakan dalam operasional proses pengelolaan, faktor manusia tetap merupakan unsur terpenting dalam pengoperasian teknologi tersebut.

Allen (As’ad, 1991) hasil yang maksimal tidak akan diperoleh perusahaan walaupun telah sempurnanya rencana-rencana, organisasi, dan pengawasan serta penelitian apabila faktor manusia tidak menjalankan tugasnya dengan penuh minat dan gembira. Oleh karena itu sikap seseorang terhadap pekerjaannya harus mendapatkan perhatian yang semestinya.

Perusahaan harus dapat mengetahui dan memahami benar apa yang menjadi hak-hak karyawan. Selain komunikasi yang lancar antara perusahaan dengan karyawan, perhatian yang diberikan perusahaan kepada hak-hak karyawan, dapat menjaga hubungan baik perusahaan dengan karyawan. Bila perusahaan telah dapat melindungi dan memenuhi hak-hak karyawannya serta memberikan motivasi, agar dicapai kepuasaan kerja bagi para karyawan maka loyalitas karyawan akan meningkat dan hal ini merupakan kewajiban bagi setiap pimpinan perusahaan (www.aimsconsult.com). Bila sebuah perusahaan membantu seorang penyelia mengembangkan iklim yang tepat bagi terciptanya kepuasan kerja karyawan, maka kerja sama antara penyelia dengan karyawan menjadi jauh lebih mudah.

Masalah karyawan seringkali menjadi kendala yang sering dihadapi oleh sebuah perusahaan dalam mencapai sasaran yang diinginkan. Tingkat absensi yang tinggi, turnover yang tinggi, aksi-aksi protes, pemogokan massal, kemangkiran kerja yang merupakan awal dari ketidakpuasan. Dengan adanya ketidakpuasan kerja akan menimbulkan kerugian pada perusahaan seperti kasus General Motor Corporation yang melaporkan bahwa laju kemangkiran kasualnya para pegawai tidak melapor untuk bekerja sesuai dengan jadwal yang ditentukan adalah 5 persen. Ini berarti 25.000 pegawai yang mangkir setiap hari dan 50 juta jam yang hilang percuma setiap tahun. Jumlah kerugian yang dialami perusahaan ini setiap tahun adalah $1 juta, jumlah yang mengejutkan. Dari sisi karyawan, ketidakpuasan kerja dapat menyebabkan menurunnya motivasi, menurunnya semangat kerja, kinerja yang buruk serta banyak masalah lainnya yang menyebabkan terganggunya proses pencapaian tujuan organisasi ( Newstrom & Bittel, 1994).

Secara umum dapat dikemukakan bahwa pemecahan masalah-masalah organisasi dari segi sumber daya manusianya dapat dilakukan melalui prinsip-prinsip kepuasaan kerja. Dengan adanya kepuasaan kerja yang tinggi maka akan muncul suatu ikatan yang positif antara pekerja dengan pekerjaannya, sehingga dari pekerja ini akan dapat diharapkan suatu hasil kerja yang optimal. Selain itu dengan kepuasan kerja diharapkan pencapaian tujuan organisasi akan lebih baik dan akurat. Dari hampir semua perusahaan yang mengalami kemajuan yang pesat ditandai dengan gejala kepuasaan kerja yang tinggi diantara para pekerjanya (www.library.usu.ac.id/Leila, 2002).

Pada dasarnya prinsip-prinsip kepuasaan kerja diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pekerja. Locke (Wijono, 2002) mendefinisikan kepuasaan kerja sebagai suatu tahap emosi yang positif dan menyenangkan yang merupakan hasil dari perkiraan seseorang terhadap pekerjaan dan pengalaman kerjanya. Milton (Leila, 2002) menyatakan bahwa kepuasaan kerja merupakan kondisi emosional positif atau menyenangkan yang dihasilkan dari penilaian pekerja berdasarkan pengalamannya.

Strauss dan Sayles (Handoko, 1992) kepuasaan kerja juga penting untuk aktualisasi diri. Karyawan yang tidak memperoleh kepuasaan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan yang seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja rendah, cepat lelah dan bosan, emosinya tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Sedangkan karyawan yang mendapatkan kepuasaan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan perputaran yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat pekerja dan kadang-kadang berprestasi kerja lebih baik daripada karyawan yang tidak memperoleh kepuasaan kerja.

Karyawan yang merasa bahwa pekerjaan yang memberi kepuasaan kerja ini, dirasakan tidak memberi imbalan finansial yang layak untuk menopang kehidupan sehari-hari, atau karier yang ditekuni telah memberi kepusaan kerja sekaligus pemenuhan kebutuhan finansial, tapi ternyata yang bersangkutan merasa kurang memperoleh pengakuan sosial, dan tidak memperoleh status sosial yang diharapkan (www.cyberjob:career tips.com/04/04/2005).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: