KESTABILAN EMOSI DITINJAU DARI IDENTITAS DIRI PADA REMAJA AKHIR

Pendahuluan

Remaja adalah sosok individu yang sedang dalam proses perubahan dari masa anak ke dewasa. Secara umum dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit untuk ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering disebut sebagai kelompok umur bermasalah (Haniman, 2000). Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan umur 22 tahun dengan pembagian 12-15; masa remaja awal, 15-18; masa remaja pertengahan, 18-22; masa remaja akhir (Mappiare, 1982).

Menurut Hall (Haniman, 2000) bahwa masa remaja adalah masa storm and stress yang menggambarkan terjadinya rasa marah (anger) dan prilaku yang meledak-ledak (temper outburst), serta munculnya berbagai faktor yang pada akhirnya secara menyeluruh akan mengarah pada deteriorasi baik fungsi fisik maupun psikologis. Perubahan-perubahan emosi maupun fisik ini akibat peran kelenjar endokrin, sehingga dikatakan tidak ada yang dapat mencegah terjadinya emosional upset pada remaja.

Goleman (Suyanti dkk, 2002) mengatakan banyak remaja mengalami masalah emosional yang cukup berat, seperti mudah marah, mudah terpengaruh, putus asa, sulit mengendalikan dorongan hati, sulit mengambil keputusan dan memotivasi diri sendiri. Remaja mudah terlibat dalam tindak kekerasan dan kejahatan atau tindakan yang bersifat emosional. Hal ini disebabkan remaja mengalami ketidakstabilan emosi. Menurut Mappiare (1982) bahwa ketidakstabilan emosi pada remaja berakhir ketika remaja memasuki periode remaja akhir. Pada remaja akhir keadaan emosi menjadi stabil. Dengan kestabilan emosi, remaja akhir tidak akan mengalami kesulitan dalam menyusun rencana-rencana, menetapkan pilihan, serta memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Secara teoritis dikatakan bahwa remaja akhir keadaan emosinya relatif stabil, tetapi pada kenyataannya masih banyak remaja akhir yang mempunyai emosi yang belum stabil. Hal ini terlihat pada banyaknya kasus yang terjadi seperti pada kasus penyerangan Markas Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Gadjah Mada oleh Resimen Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang mengakibatkan dua orang anggota Menwa UGM terluka, selain itu terjadi kerusakan pada pintu, lemari dan televisi yang ada dimarkas UGM. Latar belakang penyerangan ini diduga adanya kesalahpahaman antara anggota Menwa UGM dengan anggota Menwa UII. Kesalahpahaman terjadi karena beberapa hari sebelumnya ketika anggota senior Menwa UII sedang melatih calon anggota baru di Lembah UGM, ada salah seorang anggota Menwa UGM yang menegur dan menanyakan apakah ada surat pemeberitahuan kepada UGM, namun kemudian terjadi kesalahpahaman yang berakhir dengan sebuah insiden (Suara Merdeka, 23 Januari 2004). Hal ini menunjukkan bahwa anggota Menwa UII dan Menwa UGM lebih memilih menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan dibandingkan dengan jalan damai padahal seharusnya masalah dapat diselesaikan dengan baik bila masing-masing anggota Menwa dapat mengontrol emosinya sehingga tidak terjadi insiden hanya karena kesalahpahaman.

Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan PD III (Pembantu Dekan III) Fakultas Psikologi UII yaitu bapak Fuad Nashori, S.Psi, M.Psi. mengenai masalah-masalah yang terjadi di Fakultas Psikologi. Kasus-kasus dominan atau yang sering terjadi di lingkungan Fakultas Psikologi UII ini adalah kasus penggunaan narkoba, di antaranya adalah kasus penggunaan narkoba yang dilakukan oleh mahasiswa angkatan 1998 berinisial D (bukan nama sebenarnya), ia membawa dan menggunakan obat-obatan terlarang sewaktu ia menjabat sebagai ketua panitia pentas seni Psikologi yang mendatangkan grup band terkenal. Menurut D, ia mengalami depresi karena ia merasa bertanggung jawab atas pentas kesenian yang berlangsung sehingga emosinya pun menjadi labil dan melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri.

Kasus penggunaan narkoba lainnya terjadi pada acara MKP (Media Keakraban Psikologi) mahasiswa baru tahun ajaran 2001/2002 yang diadakan di Tawang mangu tepatnya di Lawu Resort. Pada acara berlangsung, seorang mahasiswa baru yang berinisial A (bukan nama sebenarnya) membawa obat-obatan terlarang. Mahasiswa berinisial A ini mengkonsumsi obat tersebut yang telah di campur dengan minum-minuman keras sehingga dirinya tidak sadarkan diri. Menurut keterangan, mahasiswa yang berinisial ini sedang mempunyai masalah dengan teman-teman kosnya dan merasa tidak tahan dengan lingkungan kos tempat ia dititipkan oleh orangtuanya. Mahasiswa berinisial A ini mengalami stres karena ia tidak dapat melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan barunya. Keadaan emosi A yang tidak stabil membuat dirinya tidak dapat berpikir secara logis untuk menyelesaikan masalahnya. Penyelesaian masalah dengan melarikan diri kepada hal-hal yang negatif cendrung dilakukan oleh orang yang emosinya tidak stabil.

Kasus lain mengenai mahasiswa yang mengedarkan narkoba dan melakukan pesta obat-obatan terlarang di kosnya. Perbuatan ini dilakukan oleh mahasiswa yang berinisial P (bukan nama sebenarnya) yaitu mahasiswa angkatan 1996. mahasiswa berinisial P ini mengaku dirinya tidak bisa menahan ajakan teman-temannya, P tidak dapat menahan gejolak emosinya dan mulai terlibat dengan narkoba cukup lama tanpa bisa mengendalikannya. Emosi berpengaruh terhadap sikap seseorang (Meichati, 1983) sehingga seseorang yang tidak dapat mengendalikan emosinya dengan baik akan mudah terpengaruh dan sulit menyesuaikan diri dengan keadaan.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: