KEYAKINAN TERHADAP KESEHATAN PADA REMAJA PEROKOK

Pendahuluan

Masa remaja seringkali identik dengan berbagai permasalahan. Seorang individu merasa sangat senang jika ia sudah memasuki tahap masa remaja, karena itu artinya dia sudah lebih dewasa. Tetapi terkadang menjadi remaja juga tidak selalu dianggap dewasa. Seringkali orang tua menganggap anaknya sudah dewasa, tetapi di satu sisi, mereka menganggap bahwa anak mereka masih kecil. Di sinilah seorang anak mengalami dilema tentang bagaimana status mereka menurut orang tuanya.

Seseorang yang memasuki tahapan yang baru, pastinya akan kebingungan. Seperti halnya seseorang yang baru memasuki masa remaja, masa yang masih baru menurutnya. Jika tidak mendapat pegangan yang kuat dari sisi manapun, maka bisa dipastikan remaja akan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.

Seringkali remaja merokok hanya karena gengsi semata agar status sosialnya sejajar dengan teman-teman sekelompoknya. Seringkali juga dalam kelompok remaja, seorang remaja yang belum mencoba merokok akan dikucilkan karena dianggap tidak gentle. Persepsi seperti ini jelas keliru. Jantan atau tidaknya seorang remaja tidaklah diukur dengan merokok saja.

Persepsi yang keliru seperti ini mengakibatkan semakin banyaknya remaja yang mengkonsumsi rokok. Selain karena faktor gengsi, faktorlingkungan yaitu teman sangat berpengaruh terhadap semakin tingginya perokok remaja.
Keterlibatan remaja terhadap rokok adalah masalah yang cukup serius. Segelintir tembakau yang dibungkus kertas ini meskipun diketahui banyak menimbulkan penyakit, tetapi banyak orang yang mengkonsumsinya termasuk para remaja. Remaja menjadikan rokok sebagai sarana bersosialisasi dengan kelompok sebayanya. Padahal dalam rokok terdapat berbagai macam zat yang membahayakan tubuh, yaitu: Karbon monoksida (CO), Nikotin, Tar, Aceton, Toluidine, ammonia, Methanol, Napthalene, DDT, Butane, Hydrogen cyanide.

Berdasarkan data survei kesehatan rumah tangga tahun 2004, sebanyak 59,04 persen laki-laki dan 4,83 persen perempuan merokok. Bila dilihat dari jumlah penduduk (laki-laki dan perempuan), total perokok di Indonesia sebanyak 31,4 persen. Artinya, sebanyak 62,8 juta orang merokok. (Depkes. http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=462&Itemid=2. 15 Mei 2005)
Diperoleh juga data dari The Tobacco Atlas tentang 5 besar Negara pengkonsumsi rokok, yaitu :
Tabel 1. Daftar lima Negara pengkonsumsi rokok tertinggi di dunia
Nama negara
Urutan
Indonesia
1
Cina
2
Amerika serikat
3
Jepang
4
Rusia
5

Data dari The Tobacco Atlas,tahun 2002

World Health Organization (WHO) 1982 pertama kali mempublikasikan legislative action to combat the world smoking epidemic; yang pada saat itu sudah 52 negara menetapkannya sebagai peraturan pemerintah. Di Indonesia (1991), untuk pertama kali dikeluarkan peraturan atau legislative action di bidang pertembakauan, yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 225/Menkes/SKV/1991 tentang Pengawasan Produk Tembakau. Kemudian tahun 1999 dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 81 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Tujuannya adalah mencegah penyakit-penyakit yang dipicu karena merokok, yang ditimbulkan oleh kandungan bahan kimia berbahaya yang terdapat di dalam rokok. Hal ini sesuai pasal 4 PP No. 81 tahun 1999, sebagai berikut :
1.Kadar kandungan nikotin dan tar pada tiap batang rokok yang beredar di Indonesia tidak boleh melebihi kadar nikotin 1,5 mgr dan kadar tar 20 mgr.
2.Pemeriksaan kadar kandungan nikotin dan tar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan tata cara atu metode pemeriksaan yang berlaku.
Layanan Kesehatan Masyarakat Amerika Serikat (The United States Public Health Service, 1991 dalam Santrock 2003) telah menetapkan tujuan kesehatan pada tahun 2000. Bagi remaja, tujuannya meliputi mengurangi secara signifikan resiko para remaja dalam hal nutrisi, kegiatan fisik dan kebugaran, penyalahgunan zat adiktif, tingkah laku seksual, kekerasan, melukai dengan tidak sengaja, kesehatan mulut, dan kesehatan mental.

Menurut Santrock (2003), remaja sering kali mencapai tingkat kesehatan, kekuatan, dan energi yang tidak akan mereka capai lagi sepanjang sisa kehidupan mereka. Mereka juga memiliki perasaan bahwa mereka unik dan kebal yang membuat mereka berpikir bahwa penyakit atau gangguan tidak akan memasuki kehidupan mereka. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkah laku seorang remaja, diantaranya adalah faktor-faktor kognitif dan faktor sosial budaya. Diantara faktor kognitif tersebut adalah masalah keyakinan terhadap kesehatan.

Dari penelitian yang diselenggarakan di enam negara ASEAN, diketahui bahwa ternyata para perokok mengabaikan gejala-gejala dini dari PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Di Indonesia sendiri, dari 210 responden 46% di antaranya mengaku mengalami gejala-gejala dini PPOK yang meliputi sesak napas, batuk di pagi hari, dan banyak mengeluarkan dahak. Pada saat mereka mengalami gejala tersebut, sebagian besar perokok di Indonesia (63%, n=96) ternyata memilih mengobati sendiri dibandingkan pergi memeriksakan diri ke dokter (20%). Sisanya memilih untuk mengabaikannya dengan cara-cara seperti minum banyak air, beristirahat, menggunakan obat tradisional, bahkan mendiamkan saja karena tidak mengganggapnya berhubungan dengan kebiasaan merokok.

Menurut Smolkowski 1995 (dalam Safarino 1998), merokok biasanya dimulai pada usia muda, dan factor-faktor psikososial merupakan kekuatan utama yang mendorong remaja memulai merokok. Beberapa aspek dari perilaku social berpengaruh dalam membentuk anak-anak berumur belasan tahun dalam hal sikap, keyakinan, dan maksud tentang merokok. Dalam hal ini banyak penelitian yang menemukan bahwa remaja lebih senang memulai merokok jika orang tua dan teman-temannya merokok. Leventhal dkk 1985 (Safarino 1998) mengungkapkan, saat remaja mencoba rokok pertama mereka, mereka khususnya merokok dalam kelompok teman-teman sebaya. Hal itu menunjukkan bahwa model dan tekanan teman sebaya mempengaruhi dalam merokok.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: