MOTIVASI KERJA DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP SHIFT KERJA KARYAWAN RUMAH SAKIT DAERAH

Pendahuluan

Perusahaan merupakan suatu organisasi yang berinteraksi dengan berbagai manusia dengan latar belakang yang berbeda. Manusia selalu mengadakan bermacam-macam aktivitas. Faktor pendorong penting yang menyebabkan manusia bekerja adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga mereka bekerja untuk mendapat penghasilan. Lingkungan sosial dan fisik dalam bekerja memainkan peranan yang sangat penting dalam mengatur aktivitas pekerjaan demi membentuk sikapnya dan mengarahkan motivasi.

Menurut Anoraga dan Widiyanti (1990), motivasi bisa diartikan sebagai dorongan. Jadi, motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja. Kuat lemahnya motivasi kerja seseorang akan menentukan besar kecilnya prestasi. Motivasi kerja sangat penting karena motivasi menjadi tenaga penggerak untuk bekerja dan berkarya.

Motivasi kerja sebagai kebutuhan pokok manusia dan sebagai insentif yang diharapkan memenuhi kebutuhan pokok yang diinginkan, sehingga jika kebutuhan itu ada akan berakibat pada kesuksesan terhadap suatu kegiatan. Orang yang motivasi kerjanya tinggi akan berusaha agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya (Tjalla, 2002).

Tenaga kerja yang terampil sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan. Sumber daya yang ada harus dikelola sebaik-baiknya untuk memperoleh tenaga kerja yang terampil sehingga dapat dicapai tujuan yang diinginkan serta dapat terpelihara kelangsungan hidup karyawan. Adanya kondisi demikian, maka memiliki karyawan yang potensial saja belum tentu memadai. Perusahaan atau instansi juga membutuhkan atau memerlukan adanya kemauan atau motivasi yang tinggi dari karyawannya untuk bekerja secara sungguh-sungguh.

Seharusnya setiap karyawan memiliki motivasi yang tinggi karena akan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan tersebut, tetapi pada kenyataannya tidak semua karyawan memiliki motivasi kerja yang tinggi. Berdasarkan hasil wawancara (Tanggal 20 Oktober 2003) dengan salah seorang manager personalia sebuah rumah sakit, diperoleh informasi bahwa tidak semua karyawan memiliki motivasi kerja yang tinggi. Misalnya ada sepuluh orang karyawan, pasti ada salah satu atau dua yang motivasi kerjanya rendah, tidak semua karyawan memiliki motivasi kerja tinggi seperti yang diharapkan oleh manager. Motivasi kerja karyawan yang rendah ditunjukkan dengan adanya karyawan yang datangnya terlambat, tidak mampu menyelesaikan tugasnya tepat waktu, adanya kesalahan-kesalahan saat mengerjakan tugasnya, apabila ada pekerjaan tidak segera diselesaikan.

Motivasi berhubungan langsung dengan semangat kerja seseorang. Saat motivasi naik, semangat kerja luar biasa untuk menghasilkan yang terbaik. Semakin tinggi motivasi kerja seseorang, maka semakin tinggi pula semangat kerja untuk menghasilkan yang terbaik. Begitu pula sebaliknya, ketika motivasi berada pada titik terendah, bisa terjadi tidak ada target untuk yang dapat dicapai (Tracy, 2003).

Motivasi kerja sangat penting bagi setiap karyawan karena akan menjadi pendorong bagi karyawan untuk melakukan pekerjaannya. Motivasi kerja juga sangat berguna bagi manager karena apabila karyawan mereka memiliki motivasi kerja yang tinggi akan menyebabkan mereka lebih giat. Manager sangat penting untuk mengetahui apa yang menjadi motivasi bawahannya, sebab faktor ini akan menentukan jalannya organisasi dalam pencapaian tujuan (Supardi dan Anwar, 2002).

Motivasi kerja dipengaruhi oleh banyak faktor. Persepsi seorang karyawan dapat mempengaruhi motivasi kerjanya karena persepsi merupakan proses evaluasi kognitif yang diikuti oleh afeksi. Robbins (1996) mengatakan bahwa situasi yaitu unsur-unsur dalam lingkungan sekitar akan mempengaruhi persepsi, seperti waktu kerja, keadaan atau tempat kerja, keadaan sosial di lingkungan tempat kerja.

Menurut Jurgensen (Imron, 2002) salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi kerja karyawan adalah jam kerja karyawan. Terence Mitchell (Kreitner dan Kinicki, 2003) mengemukakan model motivasi yang memperkirakan bahwa input individu dan konteks pekerjaan adalah dua kategori kunci dari faktor-faktor yang mepengaruhi motivasi kerja. Salah satu konteks pekerjaan adalah lingkungan fisik, termasuk didalamnya adalah jam kerja.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: