PENGARUH PELATIHAN BERPIKIR POSITIF TERHADAP INFERIORITY FEELING PADA REMAJA

Pendahuluan

Globalisasi sebagai sebuah pola hubungan yang menyeluruh dan hilangnya sekat-sekat antara bangsa dan budaya secara otomatis akan membawa implikasi yang sangat signifikan terhadap berbagai ranah kehidupan. Lingkungan semakin selektif terhadap masing-masing individu untuk menunjukkan kemampuan masing-masing. Hal ini diikuti perkembangan budaya yang menuntun orang berusaha untuk menjadikan kualitas hidupnya selalu lebih baik dari sebelumnya. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam meraih kesuksesan, namun tidak semua orang dapat memperoleh apa yang menjadi keinginannya.

Perubahan zaman yang semakin pesat dan fenomena ketatnya seleksi alam untuk memilih yang terbaik membawa pergeseran terhadap persepsi orang terhadap llingkungan sekitarnya maupun sebaliknya, yaitu persepsi lingkungan terhadap seseorang. Bagi individu yang mampu beradaptasi dan menunjukkan kemampuannya dengan baik akan tetap eksis di lingkungannya dengan baik. Individu yang tidak mampu beradaptasi dan menunjukkan kemampuannya maka individu akan merasa rendah diri atau inferiority feeling. Inferiority feeling adalah konsep populer dari konsep Adlerian dan menjadi dasar dalam psikologi individu, yaitu istilah dasar dan perbandingan diri sebagai katalisator dalam usaha individu mencapai prestasi dan tujuan hidup, bertindak seperti apa umumnya, normal dan menjadi motivator untuk kehidupan manusia (Strano dan Dixon, 1990).

Inferiority feeling merupakan katalisator meraih tujuan hidup akan tetapi tidak semua individu dapat mengaplikasikan perasaannya sebagai motivator. Adler (Admin, 2002) menjelaskan bahwa sebagian orang yang mengalami inferiority feeling ditandai oleh adanya perasaan tidak kompeten atau kekurangmampuan diri. Inferiority feeling muncul tidak setiap saat tetapi pada sebagian orang perasaan itu selalu muncul dalam perilaku kesehariannya. Hal ini dikarenakan seseorang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, dan menganggap dirinya tidak sebanding, atau lebih rendah dari orang lain. Inferiority feeling bisa juga dikarenakan seseorang merasa atau memang betul-betul memiliki kekurangan secara fisik maupun fungsi mentalnya.

Inferiority feeling semakin menguat ketika dialami oleh remaja. Remaja secara psikologis seharusnya menjadi usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa berada di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, minimal dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat akan membentuk remaja menjadi pribadi yang matang dengan segala proses yang dilaluinya. Masa remaja berada dalam rentang usia 13 sampai 18 tahun dimana salah satu proses yang akan menjadikan remaja sosok yang matang harus mampu melewati masa topan badai (storm and drang) yang mencerminkan kebudayaan modern penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai (Sarlito, 2006 dan Hurlock, 2003).

Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Remaja mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian. Meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan perilaku sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin. Hal ini juga terkait dengan tugas remaja dalam memaksimalkan peran sosial menjadikan remaja harus berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas sehingga bagi remaja yang mampu menunjukkan kemampuannya tidak menjadikannya masalah. Sementara remaja yang merasa tidak mempunyai kemampuan akan semakin larut dalam perasaan inferiroritasnya.

Masalah inferiority feeling juga menjadi sorotan di beberapa situs dunia remaja. Sebuah rubrik untuk mengatasi inferiority feeling ditulis karena banyaknya permintaan dari remaja yang bergabung dalam situs dunia remaja (www.karangkaf.com, 2006 dan http://www.kompas.com, 2006 ). Rubrik dengan judul ”Bicara Kalbu” mengangkat konsultasi seorang pelajar yang menceritakan perasaan rendah diri yang mengganggu aktivitas sosialnya. Pelajar tersebut merasa kurang yakin dengan kemampuannya sehingga menjadi anak pendiam dan suka menyendiri (bicarakalbu.blogspot.com, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa inferiority feeling menjadi sebuah fenomena yang mewarnai kehidupan remaja saat ini. Inferiority feeling ini muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan dan harus berinteraksi dengan orang lain.

Rubrik untuk mengatasi perasaan rendah diri juga menjadi wacana dalam media cetak dengan bentuk artikel konsultasi. Permasalahan yang diungkap adalah inferiority feeling. Pada umunya inferiority feeling disebabkan persepsi subjektif individu terhadap lingkungan sosial dan perasaan kurang kompeten pada diri individu (Abdinagoro, 2004 dan Sadarjoen, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa banyak individu mengalami inferiority feeling. Adler (dalam Alwisol, 2006) menegaskan bahwa inferioritas terjadi karena individu membandingkan kemampuan dirinya dengan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman sehingga individu yang bersangkutan merasa lemah atau kurang mampu.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: