PENGARUH PELATIHAN KECERDASAN EMOSI TERHADAP STRES KERJA KARYAWAN

Pendahuluan

Di zaman yang sudah serba maju di segala bidang seperti saat ini orang jadi semakin sibuk bekerja dengan peralatan kerja yang digunakan sudah semakin canggih, modern dan efisien, hal itu berdampak pada beban kerja di satuan-satuan organisasi pun menjadi bertambah dan secara tidak langsung itu akan membuat karyawan-karyawan untuk lebih mengeluarkan energi ekstra. Karyawan sering mendapat tekanan yang berat untuk meningkatkan hasil kerjanya. Akibatnya para pekerja mengalami stres karena beban kerja berlebihan. Hal itu menimbulkan gangguan-gangguan kesehatan seperti penyakit fisik, gangguan jiwa ringan (mudah gugup, marah, sulit konsentrasi, dll), kecelakaan kerja dan terjadinya lesu kerja. Ditempat kerja, sekitar satu juta orang per hari jatuh sakit dikarenakan serangan stres. Angka ini kemudian terwujud dalam 550 juta absent per tahun. Penelitian-penelitian lainya menunjukkan bahwa secara kasar, 50 persen pekerja Amerika Utara menderita keletihan dan kelelahan mental yang disebabkan stres (Rosental, 2002). Akibatnya tanpa di sadari cepat atau lambat stres dalam taraf cukup tinggi pun akan semakin terasa.

Menurut ILO (International Labour Organization) kerugian ekonomi akibat stres pekerjaan di Amerika Serikat setara dengan 200 milyar dollar AS dalam bentuk kehilangan produktivitas, pengeluaran untuk kesehatan, dan upah yang hilang karena tingkat ketidakhadiran (glorianet.org/lowongan/arti-o36.html). Penyakit yang berkaitan dengan stress diperkirakan menguras 200 milyar dollar AS setiap tahun di Amerika Serikat. Menurut perhitungan, 75 hingga 85 persen dari semua kecelakaaan dibidang industri berkaitan dengan stres (www.mail-archive.com). Stres pekerjaan juga bisa menimbulkan kecelakaan kerja, terutama pada pekerja dengan tuntutan beban kerja tinggi, perhatian kurang, bekerja gilir (shift) pada hari pertama dan akhir minggu serta penyalahgunaan zat. Dari data, penyebab terjadinya kecelakaan 90 persen disebabkan tindakan kurang berhati-hati (unsafe act) dan 4 persen karena kondisi tidak aman (unsafe condition). Dari tindakan kurang berhati-hati, 80 persen akibat kondisi kesehatan jiwa yang kurang optimal saat terjadi kecelakaan (kompas, 28/02/02)

Di seluruh dunia setiap tahun ada sekitar 1,1 juta kematian karena penyakit atau kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Data dari International Labor Organization (ILO) mengungkapkan terjadinya 250 juta kecelakaan yang terjadi di industri-industri di dunia yang menyebabkan 300.000 kematian. Setiap tahun terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan kerja yang baru. Menurut dr Yusmansyah Idris SpKJ masalah kesehatan jiwa yang sering dijumpai dalam lingkup industri dan perusahaan akibat stres pekerjaan adalah penyakit fisik yang diinduksi stres, misalnya penyakit jantung koroner, hipertensi, tukak lambung (Juanita, 2004). Hal tersebut didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh dua orang peneliti yaitu Plaut dan Friedman (1981) yang berhasil menemukan hubungan antara stres dengan kesehatan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa stres sangat berpotensi mempertinggi peluang seseorang untuk terinfeksi penyakit, terkena alergi serta menurunkan sistem autoimmune-nya. Selain itu ditemukan pula bukti penurunan respon antibodi tubuh di saat mood seseorang sedang negatif, dan akan meningkat naik pada saat mood seseorang sedang positif (Rini, 2002)

Karyawan-karyawan PT. Matarindo Kreasi sarana dalam menjalankan tugas, dihadapkan pada suara bising yang ditimbulkan oleh mesin-mesin seperti pada saat proses pengamplasan dan pada proses sending seller yaitu proses merapatkan pori-pori kayu dan menghaluskannya, bahan kimia yang berasal dari penggunaan pewarnaan pada kayu, ruangan yang tertutup membuat udara tidak sehat juga terasa panas dan jenis pekerjaannya berulang-ulang sehingga bisa menimbulkan kebosanan. Mereka dituntut bekerja dengan maksimal dan tidak melakukan kesalahan, karena setiap produk sebelumnya telah dipesan oleh konsumen dan waktunya kadang dibatasi. Karyawan meubel tidak kerja lembur jadi semua pekerjaan dikerjakan pada siang hari. Dengan beban kerja sedemikian banyaknya, tidak tertutup kemungkinan karyawan meubel akan mengalami stres kerja. Beberapa dari karyawan dalam bekerja mengalami gejala-gejala stress kerja seperti terburu-buru dalam bekerja, merasa cemas, ingin cepat selesai dalam mengerjakan tugas, sulit berkonsentrasi, cepat berkeringat kalau merasa gugup, dan merasa tertekan dengan beban kerja berlebih.

Menurut Juanita (2004), di tempat kerja yang sering menggunakan berbagai bahan kimia, suhu yang tinggi, radiasi, bising, dan lain-lain. Dalam melakukan pekerjaannya, pekerja sering harus menangani beban yang berat atau menggunakan sikap tubuh dan gerakan yang tidak alamiah. Tuntutan pekerjaan juga menambah beban mental bagi seseorang sehingga dapat menimbulkan stres yang berkepanjangan. Tanda-tanda distress menurut Gregson & Looker (2004) dari segi mental seperti cemas, tergesa-gesa, sulit berkonsentrasi, tidak sabaran, bosan, mudah tersinggung, mudah marah dan lain-lain. Menurut Handoko (1998) penyebab-penyebab stres “on-the-job” antara lain, beban kerja yang berlebihan tekanan atau desakan waktu dan lain-lain.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: