PENGARUH PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN TERHADAP PENINGKATAN EFIKASI DIRI BERWIRAUSAHA PADA REMAJA AKHIR

Pendahuluan

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea mengatakan jumlah pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun membumbung tinggi. Pengangguran terbuka di tahun 2004 diperkirakan mencapai 10,8 juta, sedangkan 31,9 orang lainnya merupakan setengah pengangguran (Kompas, 29 Mei 2004).

Individu yang tidak mempunyai pekerjaan atau yang biasa disebut pengangguran di tahun 2003 mencapai angka 10,3 juta orang. Menurut data statistik, pada tahun 2002 total pengangguran terbuka maupun setengah pengangguran mencapai 42 juta orang. Dari jumlah itu tercatat 8,1 juta merupakan pengangguran terbuka dengan 567.000 orang diantaranya termasuk kategori berpendidikan tinggi (Kompas, 29 Mei 2004). Angka pengangguran terbuka, atau yang belum bekerja, di wilayah Provinsi Daerah Yogyakarta ternyata selalu bertambah rata – rata 1.000 orang tiap tahunnya. Jumlah pengangguran terbuka itu didominasi oleh kalangan yang baru menyelesaikan studinya, yaitu lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah atas (Kompas, 16 Desember 2004).

Sutedjo mengatakan meningkatnya angka pengangguran terbuka di DIY disebabkan oleh keengganan lulusan perguruan tinggi dan SMA untuk mencari kerja di kota – kota lain, setelah menyelesaikan sekolah atau perguruan tingginya di Jogjakarta. Sutedjo menambahkan peningkatan itu juga dipicu oleh keterbatasan lapangan kerja untuk menyerap tenaga kerja lulusan perguruan tinggi dan SMA, yang selalu menjadi masalah klasik ketenagakerjaan di Indonesia. Selama ini lapangan kerja juga tidak mampu mengimbangi tingkat kelulusan yang setiap tahunnya selalu meningkat (Kompas, 16 Desember 2004).

Disnakertrans dan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menunjukkan data angka pengangguran terbuka tahun 2004 mencapai 91.400. Data itu juga memproyeksikan bahwa setiap tahun akan terjadi peningkatan pengangguran terbuka rata – rata 1.000 orang. Tahun 2005, proyeksi angka pengangguran mencapai 92.718 orang. Tahun 2006, angkanya mencapai 93.148 orang dan tahun 2007 angkanya akan mencapai 95.758 orang (Kompas, 16 Desember 2004). Jumlah pengangguran terbuka dikalangan berpendidikan tinggi meningkat dan tidak bisa ditampik. Selain faktor kualitas pendidikan pada sebagian besar lembaga pendidikan yang sekadar meluluskan para siswanya, kondisi makro ekonomi juga turut menentukan ada tidaknya kesempatan kerja. Para pencari kerja menggantungkan harapannya untuk mendapatkan pekerjaan sangat bergantung pada iklan – iklan lowongan.

Perusahaan – perusahaan yang gulung tikar karena tidak sanggup lagi menutup biaya produksi terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hal ini dialami oleh sebagian industri. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea menyatakan bahwa selama tahun 2003 jumlah tenaga kerja yang diberhentikan atau menjadi korban PHK sebanyak 154.450 orang. Jumlah ini meningkat 24 persen dari 124.834 pekerja yang diberhentikan pada tahun 2002. Untuk tahun 2004, pekerja yang mengalami PHK diperkirakan akan meningkat karena banyak perusahaan tutup dengan alasan relokasi ke negara lain (Kompas, 29 Mei 2004).

Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004 diprediksikan sebesar 4,5 persen hanya akan menciptakan lapangan kerja baru bagi 1,4 juta orang, lebih rendah dibandingkan dengan tambahan angkatan – angkatan kerja yang mencapai dua juta orang (Kompas, 29 Mei 2004).

Pemerintah menghadapi salah satu kendala dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi yaitu kurangnya unit usaha baru. Menurut data yang dimiliki Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Indonesia saat ini masih membutuhkan penambahan sekitar 20 juta unit usaha baru atau 20 juta wirausaha baru (Kompas, 24 Februari 2004).

Instruksi Presiden No. 4 Th 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk mengembangkan program – program kewirausahaan (http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0108/
ukm3.html.15/02/05). Inpres tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan. Pemerintah menyadari betul bahwa dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga harus digenjot sedemikian rupa melalui berbagai Departemen Teknis maupun Institusi – institusi lain yang ada di masyarakat. Melalui gerakan ini pada saatnya budaya kewirausahaan diharapkan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia, sehingga dapat melahirkan wirausaha – wirausaha baru yang handal, tangguh dan mandiri.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: