PENGARUH PERSUASI MELALUI PENGGUNAAN BUKU “HIDUP SEHAT TANPA ROKOK” TERHADAP PENURUNAN INTENSI MEROKOK PADA REMAJA

Pendahuluan

Merokok memang telah menjadi bagian dari kehidupan anak manusia termasuk remaja. Andai semua sadar akan bahaya serta kerugian-kerugian yang dihasilkan setelah merokok, tentu setiap orang akan berpikir seribu kali sebelum ia memutuskan untuk merokok. Tidak perlu diragukan bahwa perilaku merokok itu mengandung faktor resiko untuk kesehatan. Oskamp (Smet, 1994) mengatakan bahwa resiko kematian bertambah sehubungan dengan banyaknya merokok dan umur awal merokok yang lebih dini.

Masih berkaitan dengan dampak negatif rokok, dalam bukunya Nainggolan (1990) menuliskan beberapa pengaruh buruk dari merokok. Pengaruh buruk yang dimaksud di antaranya biaya untuk merokok atau pemborosan, hilangnya hari-hari produktif karena merokok, serta pengaruh terhadap kesehatan orang yang merokok. Berkaitan dengan pengaruh rokok terhadap kesehatan, merokok berkaitan erat dengan jenis-jenis penyakit tertentu yang diderita seseorang. Osborne (Nainggolan, 1990) mengatakan bahwa penggunaan tembakau atau rokok dapat merusak seluruh tubuh. Jenis-jenis penyakit yang sering menyebabkan kematian karena merokok, antara lain: penyakit kanker, penyakit jantung, bronkitis kronis, emphysema (sejenis penyakit paru-paru), penyakit pencernaan, radang lambung, serta kelumpuhan otak.

Rokok ternyata tidak saja memberikan pengaruh buruk terhadap orang yang menghisapnya, tetapi juga dapat pula merugikan orang lain dan orang-orang yang berada di sekitar para perokok. Rokok dapat mengganggu kenyamanan sekaligus kesehatan orang-orang yang berada di sekitar orang yang merokok. Orang-orang yang berada di sekitar orang yang merokok atau dikenal de ri rokok tersebut. Sementara itu, pengaruh rokok terhadap konteks yang lain yaitu ngan istilah perokok pasif akan merasakan dampak yang lebih besar da pada keluarga adalah bahwa salah seorang anggota keluarga yang merokok akan memberikan model bagi anggota keluarga yang lain untuk merokok juga dikemudian hari (Nainggolan, 1990).

Kenyataan yang terjadi adalah semakin banyak orang merokok bahkan semakin banyak pula orang yang merokok dengan umur awal merokok yang lebih dini. Data yang dihimpun oleh Global Tobacco Youth Survey (GTYS) atau survei merokok pada remaja memperlihatkan bahwa 34% remaja di Jakarta pernah merokok dan 16,6% hingga kini masih merokok (http//www.kompas.co.id/12/01/06).

Begitu pula dengan sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga riset Surindo, mendapati bahwa sebanyak 41,8% remaja pria pernah merokok dan hampir setengahnya menjadi perokok tetap. Survei ini dilakukan pada kelompok remaja SMU di sembilan kota besar, termasuk di antaranya Jakarta, Bandung, dan Surabaya (Amanda, 2000).

Sementara itu, survei awal yang dilakukan oleh peneliti di SMU Negeri 2 Ngaglik, Sleman untuk mendapatkan data mengenai siswa SMU yang merokok menghasilkan data sebanyak 44,3% siswa merokok dari keseluruhan siswa laki-laki kelas XII yang berjumlah 97 orang. Sedangkan di SMU Negeri 1 Karanganom, Klaten terdapat 55% siswa merokok dari beberapa siswa laki-laki kelas XII yang berjumlah 40 orang. Berdasarkan hasil survei di atas, kasus merokok memang merupakan masalah yang menyertai perkembangan perilaku remaja dan harus dilakukan upaya preventif agar tidak semakin berkembang kearah yang tidak diinginkan.

Tentunya kebiasaan merokok yang sering dilakukan oleh para remaja didorong oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Menurut Jamal (2006) bahwa berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir 70% perokok Indonesia mulai merokok sebelum umur 19 tahun. Banyaknya kasus ini kemungkinan dikarenakan para perokok tersebut belum mampu menimbang bahaya rokok bagi kesehatan serta dampak adiktif yang ditimbulkan oleh nikotin. Alasan lain mungkin karena para perokok beranggapan bahwa dengan merokok maka yang akan menerima dampaknya adalah dirinya sendiri tanpa memikirkan dampak dan bahaya yang juga diterima oleh orang lain sebagai perokok pasif.

Sejalan dengan matangnya perkembangan kognitif remaja, seharusnya remaja lebih mampu memahami resiko kesehatan, lebih memikirkan perilaku mereka serta memperhatian akibat jangka panjang dari tindakan mereka. Hal ini menurut Piaget (Santrock, 2003), remaja dengan rentang usia 15-20 tahun akan mencapai tahap pemikiran operasional formal berupa tahap dimana seseorang akan lebih mampu menimbang bahaya atau resiko atas tindakan yang akan dilakukannya. Sama halnya dengan remaja usia SMU yang merokok, seharusnya mereka juga lebih mampu menimbang resiko-resiko yang akan ditimbulkan oleh rokok. Untuk itu, upaya preventif atau pencegahan harus terus dilakukan agar kesadaran para perokok akan bahaya-bahaya rokok semakin tinggi yang selanjutnya akan membantu dalam menghentikan kebiasaan serta menurunkan niat merokok.

Kesenjangan di atas seringkali menyulitkan pihak terkait atau praktisi kesehatan dalam usahanya memerangi masalah merokok. Dalam kaitannya dengan hal ini pemerintah juga telah melakukan usaha dalam penanganan masalah merokok, seperti kampanye anti rokok yang dilakukan melalui kerjasama dengan pihak terkait, memasang pamflet, spanduk yang bertuliskan bahaya-bahaya merokok. Namun yang terjadi sampai saat ini konsumsi rokok semakin bertambah dari hari ke hari.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: