PENGARUH PROMOSI LANGSUNG TERHADAP MINAT KULIAH DI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA PADA SISWA SMU

Pendahuluan

Seiring dengan semakin kerasnya persaingan antara perusahaan atau lembaga organisasi khususnya lembaga pendidikan perguruan tinggi pada saat ini membuat masing-masing perguruan tinggi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu atau kualitas lembaga melalui keunggulan-keunggulan yang mereka miliki. Universitas Islam Indonesia (UII) sendiri sampai saat sekarang telah banyak melakukan perubahan dalam sistem pelayanan maupun sistem informasi seperti model penerimaan calon mahasiswa baru dengan sistem pendaftaran langsung (direct registry), di mana dalam proses ini peserta dapat mendaftar pagi, ujian siang dan pengumuman pada sore hari (Kobar-kobari, Agustus 2004), maupun penerbitan Webside UII di internet yang dapat di akses di mana saja. Upaya-upaya perubahan tersebut dilakukan dalam rangka menarik minat dari para calon mahasiswa untuk masuk mendaftar di Universitas Islam Indonesia.

Berbagai perubahan yang telah dilakukan seharusnya dapat meningkatkan minat dari calon mahasiswa untuk mendaftar di UII, akan tetapi pada kenyataannya sekarang justru terjadi penurunan minat masuk hampir di setiap Fakultas di UII. Berdasarkan data catatan panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), jumlah peserta PMB pada tahun ini mengalami penurunan sekitar 10% di bandingkan tahun lalu yaitu dari jumlah total peserta 10.554 pada tahun ajaran 2003/2004 turun menjadi 9476 peserta pada tahun ajaran 2004/2005 (Kobar-Kobari, Agustus 2004). Walaupun angka penurunan minat tersebut tidak terlalu besar namun gejala tersebut harus segera diantisipasi oleh pihak UII sebelum masalah tersebut menjadi besar dan membawa dampak yang negatif bagi institusi secara keseluruhan.

Penurunan minat yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pembantu Dekan I UII, DR. SF Marbun mengatakan bahwa penyebab penurunan minat masuk tersebut karena masalah ekonomi yang menyangkut biaya studi yang mahal, faktor keluarga berencana yang banyak terjadi pada generasi sekarang atau faktor tidak adanya jaminan setelah kuliah langsung kerja (Kobar-kobari, 2004). Penurunan minat masuk juga dapat disebabkan karena semakin banyak dan berkembangnya PTS di daerah lain selain di Yogyakarta. Sampai tahun ajaran 2004 / 2005 tercatat ada 2400 PTS lebih yang tersebar di mana-mana dan di Yogyakarta sendiri terdapat 108 PTS (Republika, 14 September 2004).

Faktor lain yang juga menyebabkan menurunnya animo masuk pada PTS beberapa tahun terakhir karena munculnya fenomena lebih disukainya program-program kejuruan setingkat Diploma yang dipilih calon mahasiswa. Fenomena tersebut muncul tidak lepas dari faktor lapangan kerja yang semakin sulit didapat, di mana belajar di perguruan tinggi dengan konotasi S-1 dianggap membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lama juga tidak langsung mendapatkan lapangan pekerjaan. Akibatnya di masa yang sulit seperti sekarang masyarakat kemudian mencari jalan terbaik yang dirasa lebih mudah dan lebih langsung mendapatkan pekerjaan (Kedaulatan Rakyat, 25 Agustus 2004)

Masalah yang paling mendasar adalah masih sangat kurangnya promosi yang dilakukan oleh pihak UII pada masyarakat di luar Yogya pada umumnya dan di luar pulau Jawa pada khususnya, seperti yang dikatakan oleh Dr. M. Akhyar Adnan, MBA, Ak selaku Pembantu Rektor IV pada suatu pertemuan diskusi pada tanggal 2 September 2004. Di samping itu Akhyar juga mengatakan bahwa kebanyakan dari siswa-siswi di luar Yogya yang mengenal UII itu di sebabkan karena orang tua atau saudara mereka adalah alumni UII. Hal tersebut juga dibuktikan dengan semakin besarnya animo dari masyarakat di daerah Pontianak (Kalimantan Tengah) setelah pihak Humas UII menyelenggarakan pameran pendidikan sebagai langkah promosi pada siswa sekolah padahal sebelumnya masyarakat Pontianak tidak tahu banyak tentang UII. Hal tersebut menunjukkan bahwa informasi tentang UII masih sangat jarang di daerah-daerah luar Yogyakarta.

Informasi merupakan salah satu tahap terpenting dan menentukan di dalam proses pengambilan keputusan membeli. Menurut Engel (1994) proses keputusan membeli dapat dibagi dalam lima tahap yaitu : pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan tingkah laku setelah pembelian. Pencarian informasi didefinisikan sebagai aktivasi termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan atau pemerolehan informasi dari lingkungan. Pencarian informasi dapat bersifat internal atau eksternal. Pencarian internal melibatkan pemerolehan kembali pengetahuan dari ingatan sementara pencarian eksternal terdiri atas pengumpulan informasi dari pasar.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: