PERAN SUGESTI (CRAVING) DALAM PENCAPAIAN KONDISI CLEAN AND SOBER (BERSIH DAN WARAS) PECANDU NARKOTIKA

Pendahuluan

“Tiap kali melihat hal-hal yang mengingatkan pada saat make, godaan itu selalu datang. Kalo ia ngeliat bekas goresan ditangannya, kenangan itu mengalir deras” (GATRA No.26 Th. V 15 Mei 1999).

“Benar, ma. Saya nggak bohong. Saya sudah dijerat putaw. Tolong saya…ma. Saya sudah tidak tahan”, tangis Gambit meledak. Air mata ibunya pun ikut membanjir (Bonus Nirmala No.02/Februari 2000).

Itulah salah satu contoh atau gambaran bagaimana permasalahan yang menjerat seseorang yang telah terlanjur terjerat NAPZA termasuk didalamnya bagaimana susahnya untuk melupakan nikmatnya saat mengkonsumsi zat tersebut.

Dewasa ini permasalahan NAPZA tampaknya menjadi suatu fenomena yang semakin mengkhawatirkan bukan hanya bagi sekelompok orang tertentu. Permasalahan ini menjadi penyakit yang melanda masyarakat di suatu pulau atau bahkan di suatu negara, tidak terkecuali di Indonesia. Permasalahan NAPZA atau NAPZA di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat dan komplek. Negara ini tidak hanya menjadi negara konsumen barang “haram” tersebut bahkan telah menjadi negara pembuat (produsen), dengan wilayah penjualan yang tidak hanya terbatas pada golongan menengah atas akan tetapi penyalahgunaan obat-obatan ini juga telah merambah ke wilayah golongan menengah bawah. Sebagian besar korban penyalahgunaan NAPZA ini berusia sekitar 15 sampai dengan 25 tahun dengan jumlah yang semakin meningkat.

Tabel 1
Data Penyalahgunaan NAPZA Tahun 1999-2003 Berdasarkan Pendidikan Formal
TAHUN
KASUS
JUMLAH
SD
SLTP
SLTA
PT
1999
111
835
1481
163
2590
2000
175
1776
2680
324
4955
2001
246
1832
2617
229
4924
2002
165
1711
3141
293
5310
2003
202
1590
3045
244
5081
Sumber : Data BNN ( Mabes POLRI ), September 2003

Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa tingkat penyalahgunaan NAPZA sebagian besar dilakukan oleh mereka yang berada di tingkat pendidikan SLTP dan SLTA. Rentang usia-usia tersebut merupakan saat-saat di mana pembentukan identitas diri terjadi sehingga kadang terjadi penyimpangan dalam upaya pencarian identitas tersebut.
Tabel 2
Data 10 Besar Wilayah di Indonesia yang Terjadi Kasus NAPZA
NO.
POLDA
JUMLAH KASUS
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
JAWA TENGAH
SULAWESI SELATAN
YOGYAKARTA
KALIMANTAN TIMUR
BALI
LAMPUNG
JAWA BARAT
JAWA TIMUR
SUMATERA UTARA
METRO JAYA
52
52
60
75
83
93
240
250
290
307
Sumber : Data BNN ( Mabes POLRI ), September 2003

Dapat dilihat dari data di atas bahwa Yogyakarta pada tahun 2003 masuk dalam sepuluh besar kasus penyalahgunaan NAPZA. Hal tersebut menunjukkan bahwa kota yang menyandang predikat sebagai “Kota Pelajar” yang secara logika seharusnya dapat dikatakan sebagai kota dengan tingkat pendidikan tinggi dapat juga menjadi bagian dari bentuk penyalahgunaan NAPZA. Dapat dibayangkan bahwa seorang pelajar dengan tingkat pendidikan yang tinggi , dengan pemikiran-pemikiran yang kritis dan tajam tetap bisa menjadi korban NAPZA. Fenomena yang disajikan dalam data belum bisa mewakili data yang sebenarnya tentang banyaknya korban-korban lain yang berada di sekitar kita. Hal tersebut dikarenakan adanya fenomena “gunung es”, dimana satu orang korban yang terungkap maka dibawahnya masih ada sepuluh orang korban yang tidak bisa diketahui keberadaannya.

NAPZA atau yang lengkapnya lebih dikenal sebagai narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat aditif lainnya adalah jenis obat/zat yang sangat berbahanya bila disalahgunakan dalam pemakaiannya dan dapat menyebabkan ketergantungan baik fisik maupun psikis. Penyalahgunaan NAPZA saat ini bukan hanya telah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan namun juga telah sampai pada tahap yang membahayakan seperti kematian atau terjangkitnya berbagai penyakit, seperti hepatitis atau HIV.

Berbagai upaya untuk mengurangi tingkat penyalahgunaan masalah NAPZA ini telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga non pemerintah (NGO/LSM) yang peduli dengan permasalahan NAPZA. Badan Narkotika Nasional (2003) mengemukakan tiga cara yang bisa ditempuh untuk mengurangi penyebarluasan penyalahgunaan NAPZA, yaitu supply eduction, demand reduction, dan harm reduction. Supply reduction merupakan suatu cara dalam mengurangi persediaan NAPZA; dalam hal ini tindakan pencegahan lebih diarahkan pada tindakan hukum terhadap proses produksi dan pendistribusian NAPZA pada konsumen. Demand reduction merupakan suatu cara untuk mengurangi permintaan akan NAPZA. Usaha ini lebih dititikberatkan pada faktor intrapersonal dan interpersonal yang mempengaruhi perilaku penyalahgunaan NAPZA. Sedangkan cara ketiga yaitu harm reduction merupakan cara untuk mencegah dampak yang lebih buruk lagi dalam hal penyalahgunaan NAPZA, memastikan bahwa penyakit-penyakit yang menyertai penyalahgunaan tidak menyebar lebih luas (mengurangi penyebaran virus, penyakit, atau infeksi lain). Usaha-usaha yang telah dilakukan tadi pada kenyataannya belum mampu untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan penyalahgunaan NAPZA.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: