PERBEDAAN ANTARA STRATEGI PERIKLANAN RASIONAL DAN STRATEGI PERIKLANAN AFEKTIF TERHADAP MINAT MEMBELI PADA KONSUMEN

Pendahuluan

Kebutuhan manusia sangat bermacam-macam. Apalagi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari saat ini memiliki banyak pilihan yang dapat dipergunakan. Konsumen sering dibuat bingung dengan banyaknya pilihan barang atau jasa yang memiliki keunggulan-keunggulan masing-masing. Barang atau jasa yang memiliki keunggulan yang lebih dibanding saingannya mampu menarik minat konsumen, sehingga terjadilah dalam perusahaan menyusun strategi persaingan agar konsumen tertarik untuk mengkonsumsi produk yang mereka produksi dibanding produk saingannya.

Persaingan antar perusahaan terjadi agar produk mereka laku di pasaran. Berbagai cara perusahaan dilakukan untuk menarik minat beli konsumen sehingga mampu mengembangkan tingkat penjualan mereka. Jika tingkat penjualan produk mereka besar artinya banyak konsumen yang berminat membeli dan akhirnya membeli produk tersebut.

Periklanan merupakan salah satu aspek dari bauran promosi dikenal cukup efektif dalam membangun minat konsumen, baik itu melalui media elektronik, media cetak dan lain sebagainya. Penanaman suatu informasi dan mempersuasi konsumen untuk berminat dalam membeli suatu produk merupakan hal yang penting apakah iklan yang digunakan efektif atau tidak.

Disini tugas praktisi periklanan sangat dituntut untuk menunjukkan kreatifitas mereka. Seperti apa yang dikemukakan oleh Agustrijanto (2001) bahwa kreatifitas seorang praktisi periklanan dapat menggunakan nalar dan emosinya, menggabungkan padanan dan diksi yang tepat sehingga suatu barang atau jasa yang semula tampak biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Karena suatu produk yang akan diiklankan tidak dapat hanya sekedar jadi dengan menunjukkan produk dan kata-kata yang menunjukkan keunggulan produk semata, tetapi juga dibutuhkan strategi agar produk yang diiklankan laku di pasaran.

Strategi dalam periklanan yang melibatkan suatu keputusan konsumen dalam membeli suatu produk bisa dijadikan dua kategori, yaitu : afektif atau emosional dan rasional. Strategi periklanan afektif atau secara emosional lebih mendasarkan aspek emosi, seperti kebanggaan, eksklusif, keinginan untuk selalu dihargai, prestisius dan sebagainya. Sedangkan strategi periklanan rasional mendasarkan alasan logis dan rasional, apakah karena nilai gunanya atau waktu penggunaan yang tepat (Agustrijanto, 2001).

Penggunaan testimoni dalam suatu iklan dapat dikatakan sebagai strategi periklanan afektif, karena disini konsumen dilibatkan secara emosional tentang pendapat orang lain mengenai halnya produk yang diiklankan. Seperti dalam iklan Dove, baik itu dalam produk sabun, pembersih wajah dan shampoo. Kebanyakan iklan yang dibuat untuk produk ini menggunakan bukan seorang Ad women (wanita yang hanya ada dalam iklan) tetapi wanita biasa. Disebutkan sebagai wanita biasa karena mereka yang tampil dalam iklan ini bukanlah seorang artis yang biasa di dalam dunia hiburan, tetapi seorang ibu rumah tangga, mahasiswa, wanita karier dan profesi lainnya. Dengan harapan tidak hanya model iklan saja yang bisa mendapatkan hasil yang bagus setelah menggunakan produk ini, tetapi wanita mana saja dengan profesi apa saja pun akan mendapat hasil yang sama dengan model iklan mereka.

Berbeda dengan strategi periklanan rasional, dimana iklan ini menunjukkan hanya pada keunggulan produk saja, biasanya disertai dengan desain teknis atau cara penggunaan dan keuntungan yang didapat setelah menggunakan produk. Sebagai salah satu contoh dalam produk pelembab wanita yaitu iklan produk Pond’s. Iklan Pond’s selama ini selalu menggunakan ad women yang menggambarkan sosok wanita cantik, putih, mulus dan menarik. Mereka tidak pernah menggunakan model yang asal dalam mempresentasikan produk mereka ini, dengan anggapan konsumen akan lebih percaya bahwa dengan menggunakan produk Pond’s akan seperti model yang ada dalam iklan tersebut. Maka tak heran dalam beberapa tahun ini Pond’s selalu berada dalam jajaran lima besar untuk kategori produk pelembab wajah sebagai salah satu produk yang berhasil mendapatkan ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award) (Swa, 2001).

Selain iklan Dove, yang menggunakan strategi periklanan afektif yaitu iklan produk Olay. Produk yang bisa dibilang cukup tua karena sudah ada sejak tahun 70-an yang lebih dikenal dengan Oil Of Ulan ini menjadi salah satu pesaing produk pelembab wajah Pond’s. Disini penulis membandingkan kedua produk ini karena iklan produk Pond’s menggunakan strategi periklanan rasional dan iklan produk Olay menggunakan strategi periklanan afektif dan rasional juga. Menurut data dari Nielsen Media Research, tahun 2002 merek Pond’s mengeluarkan dana tak kurang dari Rp.46 milliar, lalu tahun 2003 meningkat menjadi Rp.97 milliar, dan pada tahun 2004 mengeluarkan dana untuk iklan sebesar Rp. 133 milliar. Pond’s mengeluarkan dana yang tidak kecil itu untuk mengkomunikasikan pesan agar konsumen berminat terhadap produknya. Karena media televisi dianggap media yang paling efektif maka tak heran mereka beriklan untuk menjangkau target yang besar (www.kompas.com/marketing/news/).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Satu Tanggapan

  1. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: