PERBEDAAN KECEMASAN TERHADAP MALPRAKTEK DOKTER DI TINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN

Pendahuluan

Kesehatan merupakan harapan dan keinginan yang selalu diharapkan oleh setiap orang. Pada tahun 1947 ‘World Health Organization’ mencoba untuk menggambarkan kesehatan secara luas tidak hanya meliputi aspek medis tetapi juga aspek mental dan sosial. ‘Kesehatan’ diartikan sebagai keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Manusia terkadang tidak luput dari rasa sakit, baik jasmani maupun rohani. Gejala-gejala penyakit yang timbul dapat membuat atau menimbulkan rasa cemas (Efendi dan Tjahjono, 1999). Individu yang menggunakan emosinya dengan mengatasi kecemasannya menjadi kurang rasional, cenderung hanya menduga-duga tentang permasalahan yang dihadapinya tanpa ada penyelesaian yang nyata.

Dugaan-dugaan yang belum jelas yang ada ditimbulkan sendiri oleh individu dalam menghadapi kecemasannya membuat emosi individu semakin meningkat karena besarnya ketidakjelasan dan hal ini akhirnya dapat meningkatkan kecemasan. Saat ini Indonesia telah memasuki era krisis malpraktek, seperti terjadi di Amerika 2-3 dekade yang lalu, dengan dampak yang berat baik bagi dokter, rumah sakit, namun juga bagi masyarakat karena meningkatnya biaya pengobatan (Hadianto, 2005). Ini dapat dilihat dari kasus-kasus dan data-data empirik dugaan malpraktek oleh dunia medis. Selama 2004, telah terjadi sepuluh kasus kelalaian menyangkut profesi dokter dan kesehatan yang dilaporkan ke kepolisiandaerah.
Hal ini tercatat dalam data yang dikeluarkan Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan. “Semuanya menyangkut pasal 359, 360, dan 361 KUHP,” (Tempo).
Pasal-pasal itu merupakan tuntutan terhadap seorang individu bertanggung jawab atas kelalaian yang menyebabkan dampak kematian dan cacat atau luka. Tujuh dari sepuluh kasus itu dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Malpraktek dokter dan petugas medis yang menyalahgunakan profesinya, kini merebak di kalangan pekerja seks komersial (PSK). Sebagai mata pencaharian, para oknum itu memberikan antibiotik kepada para PSK dengan propaganda, “para pekerja seks bisa kebal terhadap virus HIV, Gonorhoe dan penyakit kelamin lainnya”. “Padahal AIDS tidak sembuh dengan antibiotika,” kata Kepala Seksi Penyakit Menular Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Barat Ariani Murti, kepada TNR, di Jakarta.

Pemberian antibiotika secara massal itu diberikan oknum dokter yang menjadi langganan tempat hiburan tertentu. Penggunaan antibiotik yang digalang secara massal itu dihargai mahal dengan ribuan pekerja seks yang menjadi langganannya. Dan perputaran uang malpraktek itu mencapai Rp. 15 miliar per bulan.

Modus lainnya, ada juga yang mengaku sebagai mantri atau petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan. Setelah pihak Dinas Kesehatan menceknya, nama-nama itu fiktif. Tapi, para oknum tetap saja sulit ditangkap, lantaran pihak tempat hiburan egan bekerja sama dengan pemerintah.
Contoh kasus ini juga dapat ditemui pada media masa dan eloktronik. Seperti halnya dugaan malpraktek terhadap kasus yang menimpa artis Sukma Ayu
(alm), dari berita-berita yang ada Sukma hanya mengalami luka kecil di tangannya, dan melakukan pengobatan ke rumah sakit namun setelah itu ia tidak sadarkan diri dan mengalami koma beberapa bulan hingga ajal menjemputnya. Sampai saat ini belum ada kejelasan tentang kematian Sukma. Dalam kasus lain seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin jurusan Ilmu Komunikasi yang bernama Mansyur Semma mengalami cacat mata akibat kecerobohan dokter di Rumah Sakit Umum (RSU) Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makasar-Sulawesi Selatan. Matanya menjadi buta total karena obat tetes mata yang diresepkan residen (calon dokter spesialis) mata (Suara Hati, Agustus 2001). Begitu juga dengan kisah duka Ny. Wakiah (30), meski sudah dua kali melakukan operasi untuk mengambil tumor pada bayinya, namun jiwa si bayi ‘Wulan’ tidak dapat tertolong lagi. Orang tuanya menganggap ini kelalaian dari pihak rumah sakit Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta (Nova, Mei 2004). Tahun 1996 juga terjadi kecerobohan dan kelalaian oleh DR. Stev dari Rumah Sakit Bayukarta Karawang, yang melakukan tindakan operasi pada diri Andi (5). Karena Andi dikira usus buntu kronis, namun setelah dioperasi kondisi Andi semakin memburuk. Sehingga atas persetujuan orang tuanya Andi dioperasi lagi oleh DR. Stev. Setelah menjalani operasi kedua kondisi Andi semakin kritis dan akhirnya meninggal. Andi diperkirakan meninggal karena adanya kain kasa yang tertinggal dalam rongga perut Andi yang ditemukan pada saat operasi kedua (Kartini,1996).
Semakin banyak masyarakat yang berobat ke luar negeri untuk memeriksakan kesehatannya, seperti fenomena yang terjadi di Sumatra Utara masyarakatnya lebih memilih berobat ke Penang Malaysia. Negri jiran itu menjadi tujuan tempat berobat dan cek kesehatan. Data menunjukkan bahwa setiap tahun sedikitnya 250.000 orang berobat ke Penang. Hal ini disebabkan karena rendahnya mutu pelayanan kesehatan rumah sakit yang ada di daerah tersebut. Selaian itu persoalan lain yang dihadapi pasien yang berobat ke rumah sakit adalah minimnya peralatan operasional. Pelayanan di rumah sakit Medan ini kurang memanusiakan manusia sehingga banyak pasien yang merasa diterlantarkan oleh dokter. Ini juga membuktikan dan menguatkan dugaan terhadap makin maraknya malpraktek dokter di negeri ini.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: