PERBEDAAN PENYESUAIAN DIRI DI LINGKUNGAN KERJA DITINJAU DARI PERAN JENIS KELAMIN PADA PERAWAT

Pendahuluan

Seorang perawat profesional dalam melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat harus dapat bekerjasama dengan pihak – pihak lain yang berkaitan dengan tugasnya. Seperti dengan pasien, teman sejawat, profesi lain yang terkait dan instansi.

Menurut Ismani (http://www.munir.blog-city.2002.com/) perawat mempunyai hak dan kewajiban untuk melaksanakan asuhan keperawatan seoptimal mungkin dengan pendekatan biologis, psikologis, sosial dan spiritual sesuai kebutuhan pasien. Hubungan yang baik antara perawat dan pasien akan terjadi bila : (1) terdapat saling percaya. (2) Perawat benar-benar memahami hak-hak pasien. (3) Perawat sensitif terhadap perubahan-perubahan kondisi pasien akibat penyakit. (4) Perawat memahami keberadaan pasien sehingga sabar dan tetap mempertimbangkan etika dan moral. (5) Bertanggung jawab dan bertanggung gugat. (6) Perawat dapat menghindari konflik dengan pasien dengan cara membina hubungan yang baik.

Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat sebaiknya dapat bekerjasama dengan teman sejawat demi meningkatkan mutu pelayanan, bisa membina hubungan baik dengan semua perawat di lingkungan kerja, saling menghargai dan tenggang rasa yang tinggi dan dapat memupuk rasa persaudaraan dengan silih asuh, silih asah dan silih asih.

Dalam menjalankan tugasnya perawat tidak dapat bekerja tanpa berkolaborasi dengan profesi lain, misalnya dokter, ahli gizi, tenaga laboratorium, tenaga radiologi dan sebagainya. Masalah-masalah yang muncul dalam keperawatan dengan melihat masalah keperawatan dan medis, perawat tidak akan exist bila bekerja sendiri tanpa profesi kesehatan lain, karena perawat bekerja lebih pada bidang perawatan dan keperawatannya, namun pada kenyataannya lebih dari hal itu. Misalnya melaksanakan monitoring respon pasien atau monitoring komplikasi yang terjadi dari suatu treatment. Kegiatan yang dilakukan perawat tersebut adalah tindakan-tindakan kolaboratif dengan medis (dokter). Masalah-masalah yang dikaji secara bersama-sama disebut dengan masalah kolaborasi (Black & Jacobs, 1993).

Oleh karena itu, perawat diharapkan memiliki kemampuan untuk menyesuaiakan diri dengan lingkungan kerja, seperti pasien, rekan perawat dan dengan profesi lain yang berhubungan langsung dalam menjalankan pekerjaan. Misalnya penyesuaian dengan pasien, perawat harus benar – benar sensitif terhadap perubahan kondisi pasien akibat suatu penyakit, harus memahami keberadaan pasien sehingga sabar dan tetap menjaga etika dan moral (Abraham & Shanley, 1997).

Salah satu bentuk penyesuaian yang dialami oleh individu adalah penyesuaian sosial (Hurlock, 2001). Penyesuaian sosial berarti keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompoknya pada khususnya.

Permasalahan perawat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja sering timbul karena kurangnya kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain dan tidak adanya pengertian perawat mengenai emosi, ketakutan dan konflik yang tersembunyi yang mewakili perilaku pasien yang terlibat.

Kegagalan perawat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja sering menimbulkan perselisihan dan persaingan antar perawat yang dapat menyebabkan pelayanan tidak maksimal pada pasien, sehingga pasien merasa kurang diperhatikan, tidak nyaman dalam menjalani parawatan. Selain itu perawat juga sering mengalami konflik dan perselisihan dengan dokter, misalnya dokter meminta seorang perawat untuk memberikan obat kepada pasien dengan dosis yang melebihi rata – rata, tetapi ketika perawat mengingatkan dokter, perawat tetap diminta untuk memberikan obat sesuai dengan dosis yang sudah di tetapkan oleh dokter tersebut (Abraham & Shanley, 1997).

Keberhasilan seorang perawat dalam membangun hubungan yang baik dengan pasien sangat ditentukan oleh kemampuan untuk berhubungan, berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan. Keberhasilan perawat dalam mengadakan penyesuaian diri akan membentuk relasi sosial yang baik. Perawat akan terbebas dari konflik dan perasaan – perasaan yang menekan. Hal tersebut akan menimbulkan rasa puas, menambah rasa percaya diri, harga diri serta memperlancar aktifitas fisik yang bermacam – macam. Sedangkan jika tidak berhasil dalam menyesuaikan diri dengan pasien, rekan kerja, dokter atau instansi akan menimbulkan konflik atau perselisihan. Konflik terjadi karena persepsi individu yang berbeda – beda. Jika tidak dapat segera menyesuaikan diri, kerja sama mereka dalam bekerja akan terganggu dan akan berpengaruh pada pelayanan pada pasien.

Perawat yang berhasil mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungan kerja akan menimbulkan rasa nyaman, percaya diri dan senang dalam melaksanakan tugasnya. Terutama keberhasilan menyesuaikan diri dengan pasien yang akan menimbulkan rasa nyaman dan tenang dalam menjalani perawatan, dan akan timbul rasa percaya satu sama lain.

Penyesuaian diri yang sehat membutuhkan persyaratan tertentu dalam mencapai pemuasan yang wajar. Tidak semua orang mempunyai persyaratan tersebut. Kegagalan seseorang dalam mengadakan penyesuaian diri akan menimbulkan perasaan rendah diri, kehilangan kepercayaan diri, cemas dan perasaan tidak aman (Webster dalam Meichati, 1983).

Faktor dari dalam diri individu yang turut mendorong keberhasilan dalam menyesuaikan diri pada perawat di antaranya adalah peran jenis kelamin. Bem (Nuryoto,1992) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki peran jenis kelamin androgini lebih mudah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan karena lebih luwes dalam menghadapi beberapa situasi dibandingkan dengan yang sex tiped (maskulin dan feminin). Peran jenis kelamin secara umum berarti pola perilaku bagi anggota kedua jenis kelamin yang disetujui dan diterima oleh kelompok. Menurut Word (Hurlock, 1993) peran jenis kelamin yang ditentukan secara budaya mencerminkan perilaku dan sikap yang umumnya disetujui sebagai maskulin dan feminin. Berdasarkan penelitian lebih lanjut, Bem (Nuryoto, 1992) mengatakan peran jenis kelamin tidak hanya terdiri dari dua macam saja. Tetapi dapat dikelompokkan menjadi maskulin, feminin, androgini dan tak tergolongkan atau undifferentiated. Istilah androgini muncul dimaksudkan untuk menunjukkan keadaan psikis yang sehat memiliki daya penyesuaian yang baik.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: