PERBEDAAN TINGKAT KECENDERUNGAN DEPRESI WANITA USIA MENOPAUSE BERDASARKAN KEIKUTSERTAAN DALAM KEGIATAN OLAH RAGA

Pendahuluan

Masa paruh baya bisa jadi lebih pelik dalam kehidupan kaum wanita, karena baik keadaan fisik maupun peran sosial dalam masa ini akan terasa berubah lebih mencolok daripada pria. Kaum wanita memiliki rasio sekitar dua kali lipat dari pria untuk mengalami depresi dalam kurun waktu kurang lebih 30 tahun belakangan ini, di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia,. Beberapa penelitian bahakan menyebutkan rasio 3:1 untuk perbandingan ini menurut Klerman&Weissman, dan Wetzel (Culbertson,1997).
Dalam sebuah artikel di kompas Cyber Media pada hari Senin 1 Oktober 2001, permasalahan masa paruh baya ini mendapat sorotan yang semakin besar. Apabila jaman dahulu masalah menopause ini dikatakan terlalu mengada-ada untuk dibahas, seiring peningkatan usia harapan hidup, mau tak mau orang mulai menaruh perhatian pada menopause. Jika orang hidup sampai usia 70 tahun, sedang menopause terjadi pada usia 50 tahun, artinya hampir sepertiga hidup wanita dijalani pada masa pascamenopause.
Salah satu permasalahan pada kaum wanita adalah akan datangnya masa menopause, yang secara fisiologis berarti berhentinya produksi hormon esterogen dan progesteron.Wanita umumnya akan mengalami gejala-gejala khas dalam masa transisi ke usia menopause ini seperti timbulnya rasa panas tiba-tiba pada kulit (hot flashes), semakin jarangnya siklus menstruasi, sulit tidur, peningkatan sensitivitas kulit, rasa kering pada vagina, dan atau bertambahnya berat badan. Selain itu, terdapat gejala lain, yaitu timbulnya masalah-masalah psikologis seperti mood yang mudah berubah (mood swings), melambatnya kemampuan berfikir, dan berkurangnya kemampuan mengingat.
Namun usia transisi ke menopause tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik yang disebabkan oleh terhentinya produksi hormon esterogen dan progesteron, seperti terhentinya fungsi maternal dan menguatnya tanda-tanda ketuaan pada penampilan. Peran wanita sebagai ibu rumah tangga merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam masyarakat kita. Menurunnya fungsi dalam kehidupan sosial dan keluarga ketika anak-anak telah menjadi dewasa dan mandiri merupakan tambahan beban psikologis tersendiri bagi kaum wanita dalam usia menopause ini. Dengan banyaknya masalah yang dialami, baik fisik maupun psikologis, maka tak jarang wanita dalam fase kehidupan tersebut mengalami depresi (Indati, 1993). Rata-rata sejumlah 25% dari kaum wanita pernah mengalami depresi pada suatu masa dalam hidupnya (Kahn dkk, 2001). Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada jumlah kasus depresi di kalangan pria. Panelitian dalam skala besar menunjukkan bahwa sebagian besar masalah depresi dimulai ketika wanita berusia duapuluhan atau lebih muda.
Keseriusan akan adanya permasalahan-permasalahan dalam usia menopause ini terbukti juga dengan hadirnya berbagai klinik menopause seperti Mayo Clinic untuk membantu para wanita untuk mengatasi permasalahan kesehatan dan penampilan pada masa-masa transisi ini, yang mengindikasikan semakin besarnya kesadaran masyarakat terhadap permasalahan-permasalahan dalam usia paruh baya hingga membutuhkan bantuan tenaga profesional untuk mengatasi problem-problem pasa masa menopause.
Berbicara mengenai depresi, gangguan yang sering diibaratkan sebagai “selesma” dalam masalah psikologis ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Kasus-kasus yang serius telah menunjukkan bahwa depresi dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup secara nyata, membatasi aktivitas sehari-hari seperti halnya arthritis dan sakit jantung, atau bahkan kematian karena bunuh diri. Berbagai kegiatan dan obat-obatan telah diklaim dan dipakai selama bertahun-tahun sebagai pilihan terapi depresi. Salah satunya adalah kegiatan yang bersifat latihan fisik atau olah raga. Penelitian secara universal juga menyatakan bahwa olahraga terbukti membangkitkan rasa sejahtera atau rasa bahagia yang lebih besar (Goldbery dan Elliot, 2000). Sebuah penelitian bahkan telah membuktikan bahwa kegiatan fisik (dance and movement therapy) dapat menjadi pilihan terapi bagi para wanita yang mengalami kekerasan rumah tangga dan mengalami gejala-gejala ketidakberdayaan, ambivalen, dan tidak aktif. Terapi ini membantu wanita untuk menginternalisasi konsep diri yang positif sekaligus memupuk kontrol fisik dan emosional (Laventhal & Chang, 1991).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: