PERSEPSI TERHADAP PRINSIP BAGI HASIL DENGAN MINAT MENABUNG DI BANK SYARIAH

Pendahuluan

Sektor perbankan di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat dengan adanya Paket 27 Oktober 1988 dan ketentuan lanjutannya tanggal 29 Januari 1990 yang memberikan peluang untuk berdirinya bank-bank swasta baru (Perwaatmadja dalam Hamid, 1993). Krisis moneter tahun 1997 mengakibatkan terpuruknya ekonomi Indonesia, ditandai dengan banyaknya perusahaan yang bangkrut dan likuidasi terhadap lembaga perbankan. Disisi lain, bank syariah seakan tidak terpengaruh dengan adanya krisis tersebut dikarenakan bank syariah tidak menghadapi negatif spread (keuntungan negatif) seperti yang dialami bank konvensional (Rachmawati, 2003).

Pada satu dekade terakhir telah banyak hadir bank yang berbasis syariah Islam dalam pengelolaannya. Banyak bank konvensional yang membuka kantor bank syariah, bahkan menggantikan jenis usahanya dari bank konvensional menjadi bank syariah (Mughits, dalam Hilman, 2003). Bank berbasis syariah Islam ini lebih dikenal dengan sebutan Bank Islam atau Bank Syariah. Bank syariah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (www.syariahmandiricom).

Secara akademik istilah syariah dan Islam mempunyai pengertian yang berbeda, namun secara teknis Bank Syariah dan Bank Islam mempunyai pengertian yang sama (Sumitro, 1996). Istilah bank Islam memang tidak dikenal dalam literatur Islam. Suatu lembaga yang mengerahkan dana masyarakat kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat dikenal sebagai “baitul tamwil” atau “baitul maal”. Istilah bank dikenal setelah masa dekolonialisasi Barat, kemudian diadopsi oleh masyarakat Islam untuk kemudian disebut sebagai bank tanpa bunga dengan sistem bagi hasil atau disingkat BTBSBH (Perwaatmadja dalam Hamid, 1993). Karena bank Islam tidak memberikan imbalan bunga kepada penyimpan dana, maka daya tarik bank Islam bagi penyandang dana (Shohibul maal) adalah bila bank Islam dapat memberikan kembalian (return of investment) yang memadai (Perwaatmadja, 1992).

Pengembangan sistem syariah sudah tidak diragukan lagi di Indonesia karena tercantum dalam Undang-undang No 10 tahun 1998 yang dinyatakan dengan jelas mengenai penggolongan kegiatan usaha bank menjadi dua jenis; yaitu bank yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional dan bank yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (Pikiran Rakyat, 7 Maret 2003). Prinsip syariah berarti aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah (www.syariahmandiri.com).

Menurut Perwaatmadja (1993), banyak masyarakat Islam di Indonesia yang menganggap bahwa menerima atau membayar bunga adalah termasuk menghidup-suburkan riba yang dilarang dalam Islam, sehingga banyak masyarakat Islam yang tidak mau memanfaatkan jasa-jasa perbankan yang telah ada. Keberadaan bank-bank syari’ah, baik yang beroperasi secara stand alone maupun sebagai unit-unit operasional dari bank-bank konvensional, merupakan upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Masyarakat dapat memilih dan menentukan apakah akan menggunakan jasa perbankan konvensional atau perbankan syariah berdasarkan pertimbangan bisnis yang rasional (Hasan dalam Hilman, 2003).

Terdapat beberapa perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional. Perbedaan pertama terletak pada akadnya. Pada bank syariah semua transaksi harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad muamalah syariah. Pada bank konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan maupun deposito, hanya berdasarkan perjanjian titipan.

Perbedaan kedua terletak pada imbalan yang diberikan. Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. bunga yang dijanjikan dimuka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. Sedangkan bank syariah menggunakan profit sharing, margin keuntungan dan fee. Artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan. Keuntungan yang didapat dibagi dua, untuk bank dan nasabah, berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan dimuka. Orientasi pada bank konvensional adalah profit, sementara orientasi pada bank syariah adalah profit dan falah (kemenangan di akhirat oleh Allah SWT). Dengan prinsip ini, penyandang dana, pemegang saham, dan pemakai dana akan memperoleh imbalan bagi hasil sesuai dengan keadaan yang benar-benar terjadi. Perbedaannya dengan bank konvensional adalah pada bank konvensional penyandang dana, pemegang saham, dan pemakai dana akan memperoleh hasil yang berbeda-beda, bergantung pada tingkat kepentingannya, sehingga sulit untuk diharmonisasikan (Perwaatmadja, 1992).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Iklan

Satu Tanggapan

  1. min, kok gak bisa di download ya filenya???
    butuh ni buat referensi,
    makasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: