STRES PADA IBU-IBU YANG MEMPUNYAI ANAK RETARDASI MENTAL DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL DAN RELIGIUSITAS

Pendahuluan

Setiap orang selalu mengharapkan kehidupan yang bahagia. Salah satu bentuk kebahagiaan itu adalah memiliki anak yang sehat dan normal baik secara fisik maupun mental. Tetapi tidak sedikit orangtua yang dikaruniai anak yang tidak normal dalam hal ini adalah orangtua yang dikaruniai anak yang mengalami retardasi mental. Data dari Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Propinsi Bandar Lampung pada tahun 1990 menunjukkan jumlah penderita retardasi mental yang disekolahkan baik di SLB negeri maupun swasta sebanyak ± 350 orang sedangkan pada tahun 2004 jumlah penderita retardasi mental bertambah menjadi ± 976 orang. Hal tersebut berarti penderita retardasi mental untuk propinsi Bandar Lampung dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Jumlah penderita retardasi mental yang disebutkan diatas belum termasuk jumlah penderita yang tidak disekolahkan. Mereka yang tidak bersekolah tidak bisa diketahui secara pasti sehingga diasumsikan jumlahnya lebih banyak dari yang tercatat di Dinas Sosial Propinsi Bandar Lampung tersebut.

Anak bagi pasangan orangtua adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya dan sekaligus amanah yang dititipkan oleh Tuhan kepada keduanya yang harus dijaga dan dirawat dalam kondisi apapun. Meskipun kondisi anak yang dimiliki tidak normal, orangtua seharusnya menerima segala kondisi anak tersebut apa adanya tanpa harus merasa tertekan, sedih, malu bahkan terguncang sekalipun karena kondisi yang demikian ini dapat menyebabkan orangtua khususnya ibu-ibu menjadi stres.

Tetapi pada kenyataannya tidak semua orangtua yang dikaruniai anak yang tidak normal tidak mengalami stres. Seorang ibu misalnya, merasa kaget dan sedih saat mengetahui anaknya mengalami retardasi mental. Ia merasa bahwa memiliki anak retardasi mental merupakan suatu beban dan aib bagi keluarga. Keadaan ini membuat ibu-ibu tidak bisa menerima anaknya karena malu pada lingkungan disekitarnya sehingga bisa jadi menimbulkan niat untuk membuang anaknya atau menitipakan anaknya tersebut di tempat penampungan anak bahkan bisa jadi membunuh anak tersebut. Niat yang muncul dalam benak orangtua khususnya ibu untuk menyingkirkan anaknya tersebut disebabkan mereka dalam kondisi yang benar-benar tidak bisa menerima kehadiran anaknya yang lahir dan tumbuh secara tidak normal dan dalam kondisi yang sangat tertekan (Ayah Bunda, 2002). Ibu yang kurang mampu memahami dan sulit menerima kondisi anaknya yang mengalami retardasi mental disebutkan oleh Kenney (1976) bahwa ibu tersebut mempunyai tingkat perkembangan ego yang kurang sehat.

Mempunyai anak yang mengalami retardasi mental bisa menimbulkan tekanan, goncangan ataupun kesedihan bagi orang tua, khususnya bagi ibu. Kondisi ini terjadi karena pada umumnya yang lebih banyak berinteraksi dan kontak secara langsung dengan penderita retardasi mental adalah para ibu. Tekanan ini umumnya dirasakan karena mereka tidak tahu bagaimana cara penanganan atau pengasuhan anak yang mengalami retardasi mental secara efektif (Maramis, 1986). Selain itu mereka juga masih menganggap bahwa mempunyai anak retardasi mental merupakan suatu aib sehingga mereka takut dikucilkan masyarakat jika aib tersebut diketahui. Kondisinya akan berbeda saat mereka mempunyai anak yang normal. Orangtua diasumsikan tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam membesarkan anak yang normal jika dibandingkan ketika mereka harus membesarkan anak yang mengalami retardasi mental Kenney (Hutt, 1976) karena anak normal tidak membutuhkan penanganan, perlakuan dan perawatan khusus yang perlu dilakukan oleh orangtua sepanjang hidup anak.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa situasi yang bertolak belakang antara harapan dan kenyataan pasti akan menimbulkan reaksi tertentu dari individu yang bersangkutan. Ibu yang memiliki anak retardasi mental, merasakan kekecewaan, tertekan, terguncang atau shock, ataupun sedih dan putus asa. Menurut Maramis (1986) kondisi yang dialami para ibu tersebut merupakan gejala yang dialami seseorang bila mereka mengalami stres.

Seseorang mengalami stres umumnya mengalami gangguan pada fisik, emosi, pikiran dan perilakunya. Individu yang mengalami stres umumnya merasa tegang, tidak mampu berfikir secara rasional, mudah marah, sedih, cemas bahkan depresi. Akibatnya tugas sehari-hari tidak dapat dikerjakan dengan baik sehingga dalam jangka panjang bisa menghambat berfungsinya individu dalam kehidupan (Kumolohadi, 2002).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: