STRES PADA PENGANGGURAN SARJANA

Pendahuluan

Indonesia pada zaman sekarang ini sangat banyak mengalami kesulitan dalam segala bidang. Krisis moneter sejak tahun 1997 yang dampaknya masih sangat berat dirasakan oleh rakyat kecil di Indonesia adalah salah satunya. Dampak krisis moneter antara lain adalah meningkatnya kebutuhan pokok, meningkatnya biaya pendidikan dan sempitnya lapangan pekerjaan.

Sempitnya lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja, menuntut para pencari kerja (job seeker) untuk lebih ahli di bidangnya. Kenyataan lain adalah bahwa manusia dan pekerjaan tidaklah bisa dipisahkan, seorang manusia akan dihargai bila sudah mempunyai pekerjaan yang layak dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Apabila seseorang yang telah mempunyai pekerjaan secara otomatis akan berubah status sosialnya, dengan adanya perubahan tersebut seseorang akan menerima konsekuensi baru lagi dalam menjalani kehidupannya.

Seseorang yang memasuki dunia kerja dianggap memasuki dunia baru dan membutuhkan penyesuaian baru pula. Seseorang tidak akan sukses dalam bekerja tanpa mengetahui seluk beluk pekerjaan itu sendiri. Persiapan– persiapan khusus dibutuhkan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Satu persiapan pokok yang sangat menentukan adalah mempersiapkan kesesuaian antara diri pribadi dengan pekerjaan maupun dengan lingkungan pekerjaan yang dihadapi. Kesesuaian antara diri dengan pekerjaan sangat tergantung pada banyak faktor antara lain: kapasitas pribadi, pilihan karier, pemahaman terhadap dunia kerja maupun harapan-harapan pribadi terhadap pekerjaan. Terjadinya kesesuaian antara diri pribadi dengan dunia kerja akan memberikan kesejahteraan hidup, sebaliknya jika tidak terjadi kesesuaian akan mendatangkan penderitaan yang berkepanjangan.

Dari sekitar 91,7 juta angkatan kerja di Indonesia, 62% di antaranya menganggur. Jadi, ada 58,54 juta penganggur di negeri berpenduduk sekitar 200 juta jiwa ini. Ironisnya lagi, 4 juta dari penganggur itu sarjana (Saturday,2003). Kasali (Pikiran Rakyat, 2004) mengatakan bahwa lulusan sarjana saat ini banyak menciptakan pengangguran dibandingkan menciptakan lapangan kerja, sehingga kualitas SDM saat ini sangat penting diperhatikan. Tahun 60-an orang bekerja sebagai kebutuhan, tetapi tahun 80-an telah berubah menjadi work-leisure (kerja paruh waktu) dan tahun 2000-an bertambah menjadi work-leisure-learn (kerja sambil belajar). Fakta diatas berkesimpulan bahwa kebanyakan dari sarjana sekarang lebih tertarik untuk bekerja di bawah perintah atasan, ini menunjukkan bahwa tidak adanya kesiapan untuk membuka lapangan kerja baru.

Hendra (Kompas, 2004) mengatakan bahwa sebanyak 20 persen lulusan S1 bekerja di sektor informal seperti tukang tambal ban, pengojek, pedagang kaki lima, dan lain-lain. Ini menandakan sistem pendidikan di perguruan tinggi sangat memprihatinkan. Lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan di Indonesia 250.000-350.000 orang per tahun. Dari jumlah itu, kata Hendra, sekitar 90.000 yang terserap ke sektor formal dan sisanya menganggur atau bekerja di sektor informal. Ini menandakan bahwa semakin banyak sarjana justru tidak mengindikasikan negara semakin makmur. Justru sebaliknya, semakin banyak sarjana, semakin tinggi pula tingkat pengangguran. Para sarjana itu bekerja di sektor informal bukan karena keinginan mereka, namun karena keadaan yang memaksa dan keterbatasan lapangan kerja. Dari pernyataan diatas didapatkan bahwa adanya unsur keterpaksaan yang memaksa sarjana tersebut untuk mendapatkan pekerjaan yang kurang sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah.

Contoh hasil observasi dan wawancara pada tanggal 6 april 2006 dengan salah satu sarjana yang sudah satu tahun menganggur. Sehari-harinya selalu dihabiskan dengan nongkrong dengan anak-anak SMU di lingkungan tempat tinggalnya yang sering mabuk-mabukan dan tidak jarang juga mencuri, karena sudah putus asa mencari pekerjaan. Gejala fisik yang tampak adalah pendiam walaupun di tengah keramaian, gelisah, kurang konsentrasi. Selain itu, orang tuanya pun sudah tidak mau memikirkannya lagi karena orang tuanya pun sudah kehabisan dana untuk menyekolahkan anaknya itu. Contoh diatas menunjukkan bahwa sarjana tersebut bukannya tidak mau mencari pekerjaan, tetapi lebih karena putus asa yang berkepanjangan dan akhirnya mengalami stres yang semakin hari semakin tinggi tingkat stresnya yang berakibat pada terjerumus dalam tindakan kriminal.

Kasali (Kedaulatan Rakyat, 2004) berpendapat bahwa lulusan perguruan tinggi yang notabene pencari kerja ini masih banyak yang kurang percaya diri karena kurang memiliki wawasan yang luas, kurang tekun, kurang memilki keberanian sebelum mencoba. Menurut data BPS angka pengangguran pada tahun 2002, sebesar 9,13 juta penganggur terbuka, sekitar 450 ribu diantaranya adalah yang berpendidikan tinggi. Bila dilihat dari usia penganggur sebagian besar (5.78 juta) adalah pada usia muda (15-24 tahun). Selain itu terdapat sebanyak 2,7 juta penganggur merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (Nakertrans, 2003). Data ini menunjukkan bahwa kualitas dari lulusan perguruan tinggi belum mampu bersaing di dunia kerja.

Perguruan tinggi adalah salah satu tempat dimulainya proses pembelajaran untuk menghadapi dunia kerja, ketika seseorang akan masuk ke tingkat perguruan tinggi diharapkan memilih jurusan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan sehingga ketika akan lulus kuliah mahasiswa sudah mempunyai bayangan karakteristik pekerjaan seperti apa yang diinginkan oleh mahasiswa tersebut, dengan jalan seperti ini diharapkan dapat mengurangi kecemasan pada saat akan lulus, karena sudah ada bekal selama kuliah. Tetapi tidak sedikit juga mahasiswa yang belum mempunyai tujuan untuk masa depan mereka yang tidak lain adalah untuk bekerja. Adanya sikap yang menunjukkan ketidaksiapan dan ketidakmampuan dalam menghadapi dunia kerja ini lumrah terjadi, apalagi bagi para sarjana yang belum pernah mengenal dan merasakan dunia kerja sebelumnya.

Paulus Wirutomo (Banjarmasin Pos,1996) menilai jumlah sarjana menganggur yang terus meningkat di indonesia disebabkan kenyataan, bahwa Perguruan tinggi (PT) tidak dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan dinamika pasar dan kemajuan industri. Perguruan tinggi terlalu konservatif (kolot, bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan dan tradisi yang berlaku: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka), untuk memenuhi kebutuhan pasar (lapangan kerja), begitu seseorang lulus dari perguruan tinggi dan mengantongi gelar sarjana, maka permintaan pasar sudah berubah.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: