STUDI PRELIMINER TERHADAP HUBUNGAN ANTARA KEBERMAKNAAN HIDUP DENGAN KECEMASAN DALAM MEMASUKI DUNIA KERJA

Pendahuluan

Naisbitt (Dryden & Vos, 2001) memprediksikan bahwa saat ini peradaban dunia tengah menuju ke arah ekonomi dunia-tunggal. Hal ini menyebabkan laju perdagangan dunia menjadi tak terbatas layaknya internet. Gelombang perubahan yang cukup besarpun terjadi di berbagai perusahaan. Tenaga manusia kini banyak digantikan oleh tenaga informasi (unmanned-worker) di bidang produksi yakni dengan komputer, otomasi, dan robot sebagai pengganti tenaga manusia.

Kondisi ketenagakerjaan di berbagai belahan dunia saat inipun ditandai oleh tingkat pengangguran yang tinggi. Hal ini berlangsung sejak proses perubahan ekonomi dunia di awal tahun 1990. Jumlah pekerjaan yang tersedia untuk tenaga manusia telah menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring terjadinya proses perubahan tersebut, antara lain dengan banyak terjadinya privatisasi pasar dan lebih efisiennya proses produksi. Produksi baja di Amerika Serikat dalam satu dekade terakhir, sebagai contohnya, mengalami peningkatan produksi dari 75 hingga 102 ton, tetapi jumlah pekerja berkurang dari 289.000 hingga 74.000 orang (ILO, 2005).

ILO (2005) juga melaporkan bahwa tingkat pengangguran di Asia Tenggara dan Pasifik adalah dua persen lebih besar dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak tersedianya cukup lapangan pekerjaan bagi para penganggur. Tingkat pengangguran di Timur Tengah dan Afrika Utara juga cukup tinggi yaitu sebesar 12 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini mencerminkan telah terjadinya peningkatan jumlah pengangguran rata-rata 500.000 orang per tahunnya sejak tahun 1996. Hal serupa juga terjadi di Amerika Latin, Asia Timur, dan Asia Selatan walau tidak begitu signifikan.

Drucker & Ohmae (Dryden & Vos, 2001) juga mengakui adanya kecenderungan baru di dunia ini yakni telah terjadi pergeseran dari masyarakat industri ke masyarakat layanan (service society). Sennet (Ancok, 2002) menyebutkan banyak perusahaan yang memperkecil jumlah karyawan tetap, melakukan penciutan organisasi, dan tenaga kerja di sektor industri akan terus menyusut sama seperti menyusutnya basis pertanian, karena karyawan yang dipertahankan hanyalah karyawan inti (core) yang memegang peran strategis dan berpengetahuan luas (knowledge worker). Mereka yang bekerja di bagian yang tidak inti (non-core), tidak diangkat sebagai karyawan tetap tetapi disewa (outsourcing) dari luar untuk waktu yang pendek selama ada pekerjaan yang perlu untuk dilakukan. Manusia yang memiliki pengetahuan yang luas (knowledge workers) sangat diperlukan untuk menjadi pemain dalam era ekonomi baru itu dan mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tidak akan bisa memasuki pasaran kerja.

Sebuah survey yang dilakukan pada 1997 terhadap 350 perusahaan jasa komputer dan perangkat lunak di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 14.500 jenis pekerjaan yang tercipta dalam jangka waktu tiga tahun berikutnya tidak akan terisi karena kekurangan orang dengan keterampilan yang memenuhi syarat (Nicholl & Rose, 2002). PBB bahkan melaporkan bahwa satu dari tiga orang dewasa tidak-cacat menganggur di seluruh dunia pada 1996 (Nicholl & Rose, 2002). Hal itu banyak terjadi pula di negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, & Amerika. Seluruh tenaga kerja di Inggris saat ini sebanyak 18% bekerja dalam bidang industri manufaktur dan hanya 1,20% saja yang bekerja dalam bidang pertanian. Pekerjaan yang tersedia bagi tenaga tak terampil di Jerman juga diperkirakan hanya sepuluh persen saja pada 2010 (Dryden & Vos, 2001).

Kondisi ketenagakerjaan di tanah air juga demikian. Data stastistik ketenagakerjaan nasional mencatat lebih dari 40 juta orang dalam usia produktif ternyata menganggur (wda, 2004). Jumlah itu cukup besar dan sangat berbanding terbalik dengan peluang kerja yang ada. Tes penerimaan calon pegawai negeri sipil yang diadakan oleh pemerintah pada bulan November 2004 yang lalu, misalnya, tercatat menyediakan 204 ribu 584 kursi PNS untuk diperebutkan oleh sekitar 4,50 juta pelamar dari seluruh Indonesia (Rosenman, 2004). BPPN bahkan meramalkan bahwa dalam lima tahun ke depan, gambaran soal angka pengangguran di Indonesia masih akan suram karena tidak tersedianya lapangan kerja.

Lulusan yang sudah dipersiapkan pun ternyata menghasilkan jumlah penganggur yang tinggi pula. Lulusan terdidik dari penghasil tenaga kerja alias lembaga pendidikan dinilai belum maksimal melahirkan tenaga yang siap diserap lapangan kerja alias belum mampu menunjukkan kompetensi yang jelas atau belum siap pakai. Mereka yang masuk ke pasar kerja biasanya masih membutuhkan training atau pendidikan lanjutan untuk mampu beradaptasi dengan job description yang diberikan (Bahtiar, 2004).

Era pasar bebas yang semakin kompetitif pun akan mulai berlangsung pada tahun 2014 untuk wilayah Asia-Pasifik dan untuk WTO sendiri akan berlaku penuh pada tahun 2010. Persaingan dengan tenaga kerja asing dalam menembus pasaran kerja di masa depan akan makin terbuka lebar. Kualitas SDM dalam negeri dalam hal ini cukup diragukan bila dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini tercermin dalam hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) tahun 2001 yang menunjukkan rendahnya kualitas sistem pendidikan tanah air bila dibandingkan dengan 12 negara Asia. Indonesia menduduki peringkat paling bawah yaitu peringkat 12 di negara Asia (Wea, 2004).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: