Analisis Hubungan Kausalitas Granger Antara Tingkat Imbal Jasa Agregat Dengan Tingkat Pembiayaan Perbankan Syariah Dan Tingkat Kredit Perbankan Konvensional Di Indonesia Periode 2001.I-2004.XII

*ABSTRACT*

/The main objective or aim of this study is to determine the connection
between Aggregate Return Level, Islamic banking financing, and
conventional banking credit in the period 2001.I-2004.XII in Indonesia
for dual banking system case./

/Quantitative and qualitative analysis are used in this study. Bivariate
granger Causality method is used as qualitative analysis to capture the
main objective of this study. While qualitative analysis is used to
capture description the connection between variables that exist in model./

/The empirical result shows, in the period of 2001.I-2004.XII all
variables (Aggregate Return Level, Islamic banking financing, and
conventional banking credit) shows a cointegration relationship. It is
found that the direction of causality different among models that are
tested, there is independence and bilateral causality. This requisite
that great interest should be taken when interpreting granger causality
result at the best lag. /

/ /Keywords : Aggregate Return Level, Islamic banking financing,
Conventional banking credit, Dual banking system, Indonesia

* *

TERJEMAH:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara tingkat
imbal jasa secara agregat yaitu SWBI dan SBI dengan pembiayaan pada
perbankan syariah dan kredit pada perbankan konvensional di Indonesia
pada periode 2001.I-2004.XII yang melaksanakan kebijakan dual banking
system.

Analisis dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji kausalitas granger
dua arah. Analisis kualitatif yang dilakukan adalah untuk mendapatkan
deskripsi tentang keterkaitan antara variabel yang di uji berdasarkan
model yang ada.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam periode 2001.I-2004.XII pada
seluruh variabel yaitu SWBI, SBI, pembiayaan bank syariah, dan kredit
perbankan konvensional terjadi hubungan kointegrasi. Dikeahui bahwa arah
hubungan kausalitas berbeda pada model yang diuji, ada yang unilateral
ataupun bilateral. Hal ini mensyaratkan perlunya sikap kehati-hatian
dalam menginterpratasikan hasil yang di dapat pada lag terbaik.

Kata kunci : Sertifikat Wadiah Bank Indonesia, Sertifikat Bank
Indonesia, Pembiayaan perbankan syariah, Kredit perbankan konvensional,
Dual banking system, Indonesia

LATAR BELAKANG PENELITIAN

Seorang manusia pada umumnya tak bisa terlepas dari perilaku yang
bersifat kemasyarakatan atau sosial baik dalam hal pemenuhan kebutuhan
hidup ataupun dalam hal bergaul, oleh karena itulah kemudian Aristoteles
menyebut manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan sesamanya yang
lain di dalam kehidupan.

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sikap dan perilakunya
masing-masing. Sikap dan perilaku ekonomi manusia senantiasa distimulus
dan didorong oleh 2 faktor utama (Rahman, 2004). Faktor pertama
merupakan faktor internal yaitu motif ekonomi. Serangkaian motif bisa
mendorong manusia, sebagai pelaku ekonomi, untuk melakukan tindakan
ekonomi tertentu seperti motif untuk memperoleh laba /(profits)/ dan
motif untuk memperoleh pengakuan ataupun penghargaan dari masyarakat
/(social rewards)./ Faktor lainnya adalah faktor eksternal yaitu
lingkungan dan habitat ekonomi yang menjadi tempat hidup seseorang atau
suatu komunitas dalam melaksanakan kehidupan ekonominya.

Keberadaan manusia dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan motif ekonomi
inilah yang kemudian melahirkan seperangkat pranata yang dapat
memudahkannya, diantaranya adalah hadirnya lembaga intermediasi keuangan
yaitu instirusi atau lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat yang
menabung atau kelebihan dana dan sebaliknya melakukan peminjaman kepada
mereka yang membutuhkan (Mishkin, 2001). Lembaga intermediasi keuangan
yang paling umum dan sering dipergunakan jasanya oleh masyarakat hingga
saat ini adalah perbankan.

Bank sendiri menurut UU No. 7 tahun 1992 adalah suatu badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kembali kepada masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Landasan hukum sistem perbankan di Indonesia mula-mula adalah UU No. 11
tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia dan PP No.1 tahun 1955 tentang
pengawasan terhadap urusan kredit yang diumumkan dalam lembaran negara
No.2 tahun 1955.

Kebijakan perbankan sebelum 1 juni 1983 ditandai oleh pemberian kredit
likuiditas Bank Indonesia yang dimaksudkan untuk memungkinkan perbankan
memberikan kredit dengan unsur subsidi yang besar kepada masyarakat hal
ini ternyata mempunyai pengaruh inflatoir terhadap perkembangan moneter,
yang akhirnya memberi tekanan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi
nasional sehingga untuk mengatasi dampak negatif ini pemerintah
mengeluarkan kebijakan 1 juni 1983[1] <#_ftn1>

Upaya membangun sektor keuangan dilanjutkan dengan dikeluarkannnya paket
kebijakan 29 januari 1990 yang menyempurnakan sistem perkreditan yang
semula mengandalkan kredit likuiditas Bank Indonesia. Sejalan dengan
perkembangan perekonomian Indonesia dimana jumlah bank bertambah dengan
bermacam-macam pola pelayanan yang ditawarkan bank maka keluarlah UU
no.7 tahun 1992 tentang perbankan yang turut pula menyisipkan bank
dengan kategori bagi hasil.

Sejak awal kelahirannya hingga sekarang bank syariah dilandasi dengan
kehadiran dua gerakan /renaissance/ Islam Modern: neorevivalis dan
modernis, tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan
etika ini, tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari
segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Upaya awal penerapan sistem /profit dan loss sharing/ tercatat di
Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya
mengelola dana jamaah haji secara non-konvensional. Rintisan
institusional lainnya adalah /Islamic Rural Bank/ di desa Mit Ghamr pada
tahun 1963 di Kairo, Mesir

Berdirinya /Islamic Development Bank/ (IDB) pada tahun 1975 di Jeddah
telah memotivasi banyak negara Islam untuk mendirikan lembaga keuangan
syariah. Pada awal periode 1980-an bank-bank syariah bermunculan di
Mesir, Sudan, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, serta Turki..

Pada praktiknya perkembangan bank syariah dipelopori oleh Pakistan, pada
tahun 1979 sistem bunga dihapuskan, pada tahun 1985 seluruh sistem
perbankan Pakistan dikonversi dengan sistem yang baru, yaitu sistem
perbankan syariah. Sedangkan di Mesir bank syariah pertama yang
didirikan adalah /Faisal Islamic Bank /pada tahun 1978, sementara di
Malaysia, Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) yang didirikan tahun 1983
merupakan bank syariah pertama di Asia Tenggara.

Di Indonesia sendiri bank syariah pertama kali didirikan pada tahun 1992
dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI). Pada awal berdirinya
keberadaan bank syariah belum mendapat perhatian yang optimal dalam
tatanan industri perbankan nasional. Kemudian setelah UU No.7/1992
diganti dengan UU No.10 tahun 1998 yang mengatur dengan rinci landasan
hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan
diimplementasikan oleh bank syariah, maka bank syariah mulai menunjukkan
perkembangannya. Undang-undang ini pula memberikan arahan bagi bank
konvensional untuk membuka cabang syariah atau mengkonversikan diri
menjadi bank syariah.

Perkembangan perbankan syariah dapat kita lihat dari banyaknya
pertambahan jumlah bank dengan landasan operasi syariah dimana tahun
2000 baru ada 2 bank umum; 3 unit usaha syariah pada bank umum
konvensional yang tersebar; serta 79 BPRS. Diakhir tahun 2004 jumlah
bank syariah telah mencapai delapan belas buah.dan BPRS sebanyak 88
buah. (lihat tabel 1.1)

BERSAMBUNG………………………….

*JIKA ANDA BERMINAT DENGAN SKRIPSI VERSI LENGKAPNYA, SILAHKAN PESAN:*
*CARA SMS*
*Ketik : Pesan EP-02*
*Kirim Ke : 081949785959*
*CARA EMAIL*
*Pesan EP-02*
*Kirim Ke : Indiegos@gmail.com <mailto:Indiegos@gmail.com>*
*Donasi Rp.50.000,-*
*Pembayaran Ditransfer ke Rekening :*
*Atas Nama : Nur Fatimah*
*No Rek : 318501000831507*
*BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)*
*Setelah Transfer silahkan konfirmasi kami, File akan kami kirim
langsung ke email anda setelah anda melakukan pembayaran donasi tsb.*

————————————————————————

[1] <#_ftnref1> Kebijakan ini antara lain menghapuskan pagu kredit Bank
Indonesia, memberikan kebebasan kapada bank umum untuk menentukan suku
bunga deposito maupun suku bunga kredit, dan mengurangi pemberian kredit
likuiditas.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: