PENGUJIAN KAUSALITAS GRANGER ANTARA NILAI TUKAR, SUKU BUNGA DEPOSITO DAN HARGA SAHAM DI LIMA NEGARA ASEAN SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS MONETER PERIODE 1995.1 – 2004.6

*ABSTRAK*

/Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antar
nilai tukar, suku bunga deposito dan harga saham periode 1995.1 – 2004.6
di lima negara anggota Asean yang terkena pukulan krisis keuangan Asia
yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand./

/ Analisis yang digunakan dalam penelitian ini bersifit
kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk
mendapatkan penggambaran deskriptif tentang perubahan nilai tukar,
perubahan suku bunga deposito dan perubahan harga saham di masing-masing
negara. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan uji
kausalitas granger dua arah. /

/ Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam periode sebelum
krisis keuangan Asia 1997, hanya Indonesia, Filipina dan Thailand yang
menunjukan hubungan kointegrasi antara ketiga variabel. Sementara itu
pada periode setelah krisis tidak ditemui adanya hubungan kointegrasi
untuk semua negara. Ditemukan bahwa arah kausalitas seringkali
menunjukan hit and run behaviour dan berganti arah seiring dengan lag
periode yang dipilih. Hal ini mengimplikasikan perlunya kehati-hatian
dalam menginterpretasikan hasil dari kausalitas granger. /

/ /

Kata kunci : Nilai tukar, Suku bunga deposito, Harga saham, Kausalitas,
Asean, Krisis

*Latar Belakang*

Krisis keuangan di Asia sejak pertengahan tahun 1997 diyakini disebabkan
oleh beberapa faktor. Pemicu awal krisis ini ditandai oleh penurunan
nilai mata uang regional terhadap Dollar AS sejak tahun 1995. Hal ini
ditambah dengan adanya guncangan ekternal seperti penurunan nilai ekspor
sejak tahun 1996 di wilayah Asia yang membawa kecemasan terhadap
pembiayaan neraca transaksi berjalan yang defisit yang mengarah pada
akumulasi pinjaman jangka pendek dan penurunan nilai mata uang.
Penambahan pinjaman jangka pendek oleh sektor swasta mulanya memang
tidak mengkhawatirkan, mengingat nilai valas yang stabil dan kemampuan
ekspor yang baik, akan mampu membayar pinjaman tersebut. Namun saat
kegiatan perekonomian menurun dan krisis mata uang mulai tampak, terjadi
penekanan kemampuan pembayaran pinjaman oleh sektor swasta domestik.

Sampai pada pertengahan dekade 1990, modal dan hutang internasional
masuk dengan deras ke dalam negara-negara di Asia. Namun pengalokasian
yang lebih banyak pada sektor non-perdagangan dan beresiko tinggi,
seperti properti dan pasar saham, membuat tingkat pengembalian oleh
penghutang domestik lebih sulit untuk dilakukan saat terjadi penurunan
kegiatan ekonomi dan melonjaknya suku bunga domestik.

Tertekannya tingkat kemampuan pengembalian oleh penghutang domestik
terlihat dari menurunnya peringkat kredit oleh para pemeringkat kredit
internasional. Tingkat krisis di kawasan Asean yang semakin memanas
meningkatkan resiko dan merusak sentimen pasar maupun kepercayaan
investor. Maka aliran modal yang masuk berubah menjadi penarikan modal
besar-besaran (masive capital outflow) oleh para investor.

Serangan spekulatif terhadap sejumlah mata uang Asia, kerapuhan
mekanisme pasar serta kerapuhan sistem perbankan merupakan pemicu dari
krisis, namun mendalamnya efek penularan (contagion effect) sangat
menentukan aliran arus balik modal yang menjadikan kerawanan pada pasar
finansial di Asia. Tekanan yang berawal dari currency turmoil yang
melanda Thailand segera menyebar ke Indonesia dan negara Asean lainnya
sehubungan dengan karakteristik perekonomian yang mirip .

Pada awalnya upaya menstabilkan mata uang dan menahan tekanan spekulatif
di pasar uang dan bursa saham di beberapa negara anggota Asean, seperti
Indonesia dan Malaysia, dilakukan dengan melakukan intervensi langsung
di pasar valas, menaikan suku bunga dan menerapkan beberapa pembatasan
aliran uang serta kontrol devisa . Namun intervensi di pasar valas telah
menyebabkan cadangan devisa negara habis karena ekspor yang sedang
melemah tidak dapat dijadikan andalan sebagai sumber pemasukan devisa.
Melemahnya nilai tukar domestik telah memberikan dampak serius pada
kegiatan ekonomi riil, khususnya usaha yang tergantung pada bahan baku
impor dan pembiayaan non-rupiah. Sedangkan tindakan pemerintah untuk
menaikkan tingkat suku bunga guna menopang nilai mata uang menyebabkan
tekanan terhadap perekonomian khususnya di sektor riil dan akan dapat
semakin menjatuhkan harga saham di bursa.

Akhirnya pihak yang berwenang pada masing-masing negara anggota Asean
berupaya mencari jalan lain untuk bisa mengatasi krisis finansial yang
terjadi. Reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan sektor perbankan
menjadi pilihan untuk mengatasi kelemahan di kedua sektor ini. Di
Indonesia, Thailand, dan Malaysia tindakan ini diwujudkan dalam
penutupan bank-bank dan lembaga keuangan yang insolven, sedangkan
lembaga keuangan yang masih bisa bertahan diperbaiki melalui
rekapitalisasi dan merger. Di Indonesia untuk mengamankan cadangan
devisa yang terus berkurang maka terjadi perubahan sistem nilai tukar
dengan menghapus rentang intervensi dan menganut sistem tukar mengambang
bebas (flexible exchange rate).

Upaya pemerintah di tiap negara Asia yang terkena krisis moneter lebih
difokuskan pada empat bidang utama dimana dua diantaranya yaitu, bidang
moneter, dengan melakukan kebijakan moneter ketat untuk mengurangi
penurunan atau depresiasi nilai mata uang domestik yang berlebihan,
serta bidang perbankan yang ditempuh dengan kebijakan perbaikan
kelemahan sistem perbankan untuk memperbaiki dampak krisis dan
menghindari krisis di masa yang akan datang .

Krisis di Asia memperlihatkan fluktuasi pada nilai tukar domestik, suku
bunga dan harga saham di tiap negara anggota Asean. Devaluasi Bath
Thailand pada pertengahan tahun 1997 telah diikuti oleh beberapa negara
anggota Asean lain. Fluktuasi ini terus terjadi saat upaya perbaikan
krisis dilakukan. Hal ini tidak hanya terjadi sebagai dampak dari faktor
fundamental ekonomi tapi juga didukung oleh aksi spekulan valas.

Tabel 1.1 memperlihatkan perubahan nilai tukar di lima negara Asean
periode 1996 – 2003. Gambar 1.1 memperlihatkan pergerakan pada indeks
harga saham di lima negara Asean periode 1995 – Januari 2004. Sedangkan
tabel 1.2 memperlihatkan perubahan tingkat suku bunga deposito 3 bulanan
dalam rata-rata tiap tahun 5 negara Asean periode 1996 – 2003.

Setelah mengamati kondisi perekonomian di kawasan negara anggota Asean
sebelum, selama dan setelah krisis, maka fluktuasi nilai tukar domestik,
suku bunga dan harga saham merupakan salah satu hal yang menarik untuk
dicermati. Krisis moneter di kawasan Asia diperlihatkan oleh fluktuasi
yang tinggi pada ketiga indikator moneter tersebut. Maka timbul
pertanyaan apakah pergerakan pada salah satu variabel diatas memiliki
pengaruh pada masing-masing variabel lainnya.

Terdapat banyak argumen berkaitan dengan pandangan diatas. Bahkan
Granger (2000) menyatakan, hubungan antara variabel bisa dua arah .
Misalnya Granger menyatakan, fluktuasi pada nilai tukar akan dapat
mengarah pada pergerakan harga saham, hal ini disebut juga pendekatan
tradisional (traditional approach). Sebaliknya pergerakan bursa saham
dapat menyebabkan aliran modal yang berakhir pada fluktuasi nilai tukar.
Ini dikenal dengan pendekatan portfolio (portfolio approach).

Disamping itu variabel suku bunga juga ikut mempengaruhi fluktuasi harga
saham dan nilai tukar. Suku bunga deposito menjadi salah satu tolak ukur
masyarakat dalam menanamkan modalnya. Pemilik modal akan mengalokasikan
kekayaannya pada aset berdasarkan tingkat return dan resiko yang ada
pada suatu aset. Suku bunga deposito menjadi hal yang penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan perekonomian khususnya sektor riil serta
aliran modal di suatu negara.

Maka berdasarkan uraian di atas dan perkembangan perekonomian di lima
negara anggota Asean dari sejak awal krisis hingga saat ini, penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : "PENGUJIAN KAUSALITAS
GRANGER ANTARA NILAI TUKAR, SUKU BUNGA DEPOSITO DAN HARGA SAHAM DI LIMA
NEGARA ASEAN SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS MONETER PERIODE 1995.1 – 2004.6"

BERSAMBUNG………………..

*JIKA ANDA BERMINAT DENGAN SKRIPSI VERSI LENGKAPNYA, SILAHKAN PESAN:*
*CARA SMS*
*Ketik : Pesan EP-07*
*Kirim Ke : 081949785959*
*CARA EMAIL*
*Pesan EP-07*
*Kirim Ke : Indiegos@gmail.com <mailto:Indiegos@gmail.com>*
*Donasi Rp.50.000,-*
*Pembayaran Ditransfer ke Rekening :*
*Atas Nama : Nur Fatimah*
*No Rek : 318501000831507*
*BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)*
*Setelah Transfer silahkan konfirmasi kami, File akan kami kirim
langsung ke email anda setelah anda melakukan pembayaran donasi tsb.*

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: