Aspek-Aspek Resiliensi

Pelatihan Resiliensi

1.      Pengertian Pelatihan Resiliensi

            Training atau pelatihan adalah kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja seseorang dalam pekerjaan yang diserahkan kepada mereka (Hardjana, 2001).

Grotberg (1999) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas manusia untuk menghadapi dan mengatasi tekanan hidup. Reivich dan Shatte (2002) menyatakan resiliensi adalah kapasitas untuk merespon sesuatu dengan cara yang sehat dan produktif ketika berhadapan dengan kesengsaraan (adversity) atau trauma, terutama untuk mengendalikan tekanan hidup sehari-hari. Resiliensi adalah hal yang penting ketika membuat keputusan yang berat dan sulit di saat-saat terdesak. Selanjutnya dijelaskan bahwa resiliensi merupakan mind-set yang mampu meningkatkan seseorang untuk mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai proses yang meningkat. Resiliensi dapat menciptakan dan memelihara sikap positif untuk mengeksplorasi, sehingga seseorang menjadi percaya diri berhubungan dengan orang lain, serta lebih berani mengambil resiko atas tindakannya.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pelatihan resiliensi adalah kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk menghadapi berbagai permasalahan hidup, sehingga mampu mengendalikan kehidupannya dengan lebih baik. Permasalahan hidup dalam penelitian ini difokuskan pada masalah yang dialami remaja.

2.      Aspek-aspek Resiliensi 

Reivich dan Shatte (2002) mengungkapkan bahwa ada tujuh kemampuan yang dapat dijadikan untuk membentuk tingkat resiliensi individu, yaitu:

1. Emotion regulation (pengendalian emosi)

            Kemampuan mengendalikan emosi adalah suatu kemampuan untuk tetap tenang dan terkendali meskipun berada di bawah tekanan. Individu yang mempunyai resiliensi menggunakan kemampuan positif untuk membantu mengontrol emosi, memusatkan perhatian, dan perilakunya. Pengendalian diri penting untuk membentuk hubungan dekat, berhasil dalam pekerjaan dan menjaga kesehatan fisik. Individu yang kurang mampu mengendalikan emosinya akan sulit membangun dan memelihara persahabatan, sehingga akan cenderung mengatasi konflik dengan cara yang emosional.

2. Impuls control (pengendalian dorongan)

            Kemampuan untuk mengendalikan dorongan merupakan kemampuan individu untuk mengatur dorongan dalam dirinya, sehingga tidak mudah untuk lepas kendali. Individu yang memiliki resiliensi lebih mampu menunda pemuasan, secara signifikan memilki hubungan sosial dan kemampuan akademik yang lebih baik. Pengaturan emosi dan pengendalian dorongan berhubungan erat, yaitu individu yang kuat dalam faktor pengendalian dorongan cenderung tinggi dalam pengaturan emosi, sehingga mengarahkan pada perilaku resiliensi. Goleman (Reivich dan Shatte, 2002), penulis buku Emotional Intelligence menunjukkan penelitian di tahun 1970, yang membuktikan bahwa anak yang dapat menunda pemuasan impuls menjadi anak yang mempunyai kemampuan sosial dan kemampuan akademik yang lebih baik daripada anak yang tidak dapat menunda pemuasan impulsnya.    

3. Optimis

Individu yang memiliki resiliensi adalah seorang yang optimis, yaitu percaya bahwa segala sesuatu dapat berubah menjadi lebih baik, memiliki harapan pada masa depan dan percaya bahwa hidup dapat dikontrol secara langsung, individu dapat melihat masa depan dengan cerah. Penelitian menunjukkan bahwa optimis dan efikasi diri saling berhubungan satu sama lain. Optimis memacu individu untuk mencari solusi dan bekerja keras untuk memperbaiki situasi yang ada. Individu mengarahkan dirinya pada sumber-sumber problem solving dalam faktor-faktor yang dapat dikontrol dan mengarah pada perubahan, sehingga individu menjadi kuat, mampu menjadi pemimpin, bangkit kembali dari kesulitan dan memiliki harapan akan masa depan.

4. Causal analysis (analisis penyebab masalah)

Analisis penyebab adalah istilah kemampuan individu Martin Seligman, dkk (Reivich dan Shatte, 2002) mengidentifikasikan gaya pikiran yang merupakan fakta penting untuk menganalisis penyebab yaitu gaya menjelaskan. Secara realistis, individu tidak mengabaikan faktor-faktor yang permanent dan memilki harapan pada masa depan. Individu juga tidak secara refleks menyalahkan orang lain untuk memelihara self esteemnya atau membebaskan dirinya dari rasa bersalah serta melepaskan nilai-nilai yang ada dalam pikiran tentang resiliensi menghadapi peristiwa-peristiwa atau keadaan di luar kontrol dirinya. Selanjutnya individu mengarahkan pada perubahan, sehingga individu menjadi kuat, mampu menjadi pemimpin, bangkit kembali dari kesulitan dan memiliki harapan akan masa depan.

5. Empathy (empati)

Empathy menggambarkan kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda orang mengenai keadaan psikologis dan emosinya. Hal ini sering disebut sebagai tanda-tanda nonverbal seperti ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh, yang menentukan pikiran dan perasaan orang. Orang yang empatik memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, tanpa ikut terbawa emosi. BERSAMBUNG……………………..

Berminat Dengan Skripsi Versi Lengkapnya?
Judul Asli Penelitian : “Pengaruh Pelatihan Resiliensi Terhadap Perilaku Asertif Pada Remaja”
Kondisi : Lengkap + Skala Penelitian
Kode Skripsi : SPS-02
DONASI : Rp.50.000,-

PEMESANAN Melalui SMS
Ketik : SPS-02 (spasi) Email anda
Kirim Ke : 081949785959

PEMBAYARAN
Transfer Donasi Anda Ke :
No Rek : 3185-01-000831-50-7
a/n : Nur Fatimah
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
Silahkan Konfirmasikan Kepada Kami Setelah Anda Transfer Donasi Anda, Dan File Kami Kirimkan Langsung Ke Email Anda.
DIJAMIN 100% TIDAK ADA PENIPUAN.

Satu Tanggapan

  1. boleh mnta versi lngkapnya? saya telp no diatas kok tidak bisa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: