Kenakalan Remaja, Kecenderungan Dan Bentuk-bentuknya

Kecenderungan Kenakalan Remaja

1.       Pengertian Kecenderungan Kenakalan Remaja                     

            Remaja merupakan terjemahan dari kata dari kata adolescence yang berasal dari bahasa latin adolescence/ adults yang berarti menjadi dewasa atau dalam perkembangannya menjadi dewasa. Banyak ahli yang mengemukakan tentang usia remaja. Hurlock (1973) mengatakan bahwa masa remaja berlangsung dari  usia 13-18 tahun, dan membaginya menjadi dua periode, yaitu masa remaja awal yang nerlangsung dari usia 13-16 atau 17 tahun dan masa remaja akhir yang berlangsung dari usia 16 atau 17-18 tahun.

            Monks, dkk (2002) mengatakan bahwa remaja berlangsung dari usia 12-21 tahun, dan membaginya menjadi tiga periode yaitu remaja awal atau masa puber yang berlangsung dari usia 12-15 tahun, remaja pertengahan yang berlangsung dari usia 15-18 tahun, dan yang terakhir adalah remaja akhir yang berlangsung dari usia 18-21 tahun.

            Perkembangan kognisi remaja berimplikasi pada perkembangan sosialnya. Dalam sosial remaja dapat dilihat adanya dua macam gerak yaitu gerak meninggalkan diri dari keluarga dan gerak menuju teman sebaya. Gerak tersebut merupakan reaksi dari status interim yang dialami remaja (Monks, dkk., 2002) yang mengisyarakatkan usaha remaja untuk masuk kedalam lingkup sosial yang lebih luas.

            Kecenderungan adalah hasrat atau keinginan yang selalu timbul berulang-ulang (Sudarsono, 2004). Menurut Chaplin (1999) kecenderunagn merupakan suatu susuanan sikap untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Menurut Soekanto (1990), kecenderungan merupakan suatu dorongan yang muncul dalam diri individu secara inheren menuju suatu arah tertentu, untuk menunjukkan suka atau tidak.

            Berdasarkan uraian  di atas dapat disimpulakan bahwa kecenderungan merupakan suatu pola sikap yang berwujud pada keinginan yang mengarah pada suatu objek tertentu.

             Menurut Gold dan Petronio (Sarwono, 1994) kenakalan remaja merupakan tindakan oleh seseorang yang belum dewasa, yang sengaja melanggar hukum dan diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum, ia bisa dikenai hukuman.

            Kartono (1989) mendefinisikan kenakalan remaja adalah anak-anak muda (biasanya di bawah usia 18 tahun) yang selalu melakukan kejahatan dan melanggar hukum, yang dimotivir oleh keinginan mendapatkan perhatian, status sosial, dan penghargaan dari lingkungannya.

            Walgito ( Sudarsono, 2004) mendefinisikan kenakalan remaja sebagain besarnya kemungkinan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum dan peraturan yang berlaku, dan jika dilakukan oleh orang dewasa maka perbuatan itu merupakan kejahatan.              

            Kenakalan remaja atau yang sering disebut Juvenille Delinguency bukanlah menunjuk suatu perbuatan biasa sehingga dapat dimaklumi atau diterima begitu saja. Tetapi kenakalan remaja disini juga tidak dapat disamakan begitu saja. dengan perbuatan kejahatan (crime) yang dipakai untuk menunjukkan perbuatan kriminal orang dewasa. Perlu dibedakan sifat dan bentuk seorang anak remaja dengan perbuatan orang dewasa. Perbuatan orang dewasa telah didasari oleh keputusan dan tanggung jawab penuh dalam arti sosial maupun pribadi, sedangkan untuk anak remaja perlu dipertimbangkan proses perkembangannya yang belum difinit, karena mereka masih berada dalam masa pencarian identitas diri dalam masa transisi yang secara fisik dan mental belum matang.

            Pengaruh lingkungan atau faktor eksternal masih banyak mempengaruhi pembentukan identitas seorang remaja. Umumnya bila lingkungannya baik, maka memungkinkannya  menjadi seorang yang matang pribadinya. Tanpa harus mengalami masalah-masalah atau beban yang menghambat perkembangannya. Sedangkan apabila lingkungan yang buruk, akan mendorongnya kepada hal yang cenderung negatif.

            Pendapat lain mengenai pengertian kenakalan remaja adalah perbuatan dan tingkah laku, pelanggaran terhadap norma-norma hukum pidana dan pelanggaran terhadap kesusilaan yang dilakukan oleh anak. Sedangkan menurut Fuad Hasan (Sudarsono, 2004) adalah perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan oleh orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindakan kejahatan. Menurut Kartono (2003) kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan, merugikan masyarakat, asosial sifatnya dan melanggar hukum serta undang-undang pidana.                                                                                                                                                              &nbsp ;                                                                                            

            Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja dapat diartikan sebagai tinggi rendahnya kemungkinan remaja untuk melakukan perbuatan atau kejahatan atau pelanggaran yang bersifat mengarah melanggar hukum, anti sosial, antisusila dan menyalahi norma agama. Kenakalan remaja meliputi perbuatan-perbuatan anak remaja yang bertentangan dengan peraturan hukum tertulis, baik yang terhadap KUHP (Kitab Undang Hukum Perdata) maupun Undang-Undang diluar KUHP.

 

2.   Bentuk-bentuk kenakalan remaja

            Bentuk-bentuk kenakalan remaja, menurut Jensen (Sarwono, 1994) dikategorikan 4 jenis kenakalan remaja, yaitu:

a.       Kenakalan yang menimbulkan korban fisik orang lain: perkelahian,                          perkosaan, perampokan, dan pembunuhan

b.       Kenakalan yang menimbulkan korban materi: Pengerusakan, pencurian, pencopetan, dan pemerasan

c.       Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak lain: pelacuran, penyalahgunaan obat, dan hubungan seks sebelum nikah

d.      Kenakalan melawan status: membolos sekolah, minggat dari rumah atau melawan perintah orangtua.

Berdasarkan jenis pelanggarannya Mulyono (1984) membagi perilaku delinkuen itu menjadi dua yaitu:

a.   Perilaku delinkuen bersifat moral dan anti sosial, yeng tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum seperti berbohong

b.   Perilaku delinkuen yang bersifat melanggar hukum dan mengarah pada tindakan Kriminal seperti berjudi, menjambebret, merampok, oembunuhan, dan lain-lain

Menurut Hawari (1996) remaja dalam kehidupannya sehari-hari hidup dalam tiga kutub yaitu kutub keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga kutub ini akan menghasilakan dampak positif  maupun negatif. Dampak negatifnya adalah perilaku menyimpang yang ditandai atau kriteria gejala-gejala berikut:
a.   Sering membolos

b.   Terlibat kenakalan remaja sehingga ditangkap atau diadili

c.   Dikeluarkan atau diskors dari sekolah

d.   Sering lari dari rumah

e.   Selalu berbohong

f.    Sering melakukan hubungan seks

g.   Sering mabuk atau menggunakan obat terlarang

h.   Sering mencuri

i.    Sering merusak barang orang lain

j.    Prestasi disekolah yang jauh dibawah taraf kemampuan kecerdasan

k.   Sering melawan otoritas yang lebih tinggi

l.    Seringkali memulai perkelahian.

            Senada dengan pendapat di atas Kartono (2003) menjelaskan wujud perilaku delinkuen, diantaranya:

a.   Kebut-kebutan dijalan yang mengganggu keamanan lalu lintas dan membahayakan jiwa sendiri dan orang lain

b.   Perilaku ugal-ugalan, berandalan urakan yang mengacau kententraman lingkungan sekitar

c.   Perkelahian antar geng, antara kelompok, antar sekolah, antar suku,sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa

d.   Membolos sekolah lalu mengelandang sepanjang jalan

e.   Kriminalitas anak, remaja dan kenakalan seperti mengancam, imitidasi, mencuri dan lain lain

                        Hurlock (1973) membagi perilaku delinkuen menjadi empat macam yaitu:

a.   Perilaku yang bersifat menyakiti diri sendiri

b.   Perlaku yang membahayakan milik orang lain

c.   Perilaku yang tidak terkendali.

d.   Perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain

            Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk kenakalan remaja menurut Jensen (Sarwono, 1984) dikategorikan 4 jenis kenakalan remaja, yaitu: kenakalan yang menimbulkan korban fisik orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban dipihak lain, kenakalan melawan status.

3.   Faktor penyebab kenakalan remaja

            Menurut Hawari (1996), kriteria kondisi keluarga yang mempunyai resiko anak untuk berperilaku menyimpang adalah:

a.   Keluarga tidak utuh

b.   Kesibukan orang tua

c.   Hubungan interpersonal antar anggota keluarga yang tidak baik

d.   Substitusi ungkapan kasih sayang orang tua kepada anak dalam bentuk materi daripada kejiwaan

e.   Hubungan buruk atau dingin antara ayah dan ibu

f.    Terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam keluarga

g.   Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orang tua

h.   Sikap orang tua yang kasar dan keras

i.    Campur tangan atau perhatian yang berlebih

j.    Kontrol yang tidak konsisten

k.   Lain-lain seperti: anak angkat, kehilangan orang tua, dan lain sebagainya.

            Faktor penyebab kenakalan remaja menurut Sarwono (1994) dibagi menjadi dua:

a.   Faktor pribadi, meliputi:

1.      Faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif)

2.      Cacat tubuh

3.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri.

b.       Faktor lingkungan, meliputi:

1.      Malnutrisi (Kekurangan gizi)

2.      Kemiskinan di kota-kota besar

3.      Gangguan lingkungan (polusi, bencana alam, kecelakaan lalulintas)

4.      Migrasi (urbanisasi, pengungsi karena perang, dll)

5    Faktor sekolah (kesalahan pendidikan, faktor kurikulum, dll)

6.   Keluarga yang tercerai berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dll)

7.   Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga (kematian orangtua, orangtua sakit, atau arangtua yang tidak harmonis, dll)

            Hurlock (1973) memandang adanya 2 hal yang berkaitan dengan masalah. Delingkuen pada remaja yaitu kecenderungan dan motivasi. Kecenderungan tersebut adalah: BERSAMBUNG…………..

Berminat Dengan Skripsi Versi Lengkapnya?
Judul Asli Penelitian : “Perbedaan Kecenderungan Kenakalan Remaja Yang Mengalami Pola Asuh Otoriter Ditinjau Dari Status Sosial Ekonomi”
Kondisi : Lengkap + Skala Penelitian
Kode Skripsi : SPS-03
DONASI : Rp.50.000,-

PEMESANAN Melalui SMS
Ketik : SPS-03 (spasi) Email anda
Kirim Ke : 081949785959

PEMBAYARAN
Transfer Donasi Anda Ke :
No Rek : 3185-01-000831-50-7
a/n : Nur Fatimah
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
Silahkan Konfirmasikan Kepada Kami Setelah Anda Transfer Donasi Anda, Dan File Kami Kirimkan Langsung Ke Email Anda.
DIJAMIN 100% TIDAK ADA PENIPUAN.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: