[resonansi] Digest Number 1106

There are 2 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. Bapak Ahmad Datang dan Pergi
From: resonansi_2002

2. Hati Melayani
From: resonansi_2002

Messages
________________________________________________________________________
1. Bapak Ahmad Datang dan Pergi
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Mon Jan 11, 2010 6:48 am ((PST))

Message of Monday – Senin, 11 Januari 2010
Bapak Ahmad Datang dan Pergi
Oleh: Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

"Kunci dari perubahan adalah melepaskan diri dari rasa takut."
— Rosanne Cash, penyanyi, asal Amerika

Namanya Ahmad. Pekerjaan sehari-harinya sopir pribadi. Majikannya seorang pialang di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Umur Ahmad saat ini hampir mencapai 60 tahun. Ia telah mengabdi selama lebih dari 30 tahun. Saat Ahmad datang ke Jakarta, sekitar tahun 80-an, modalnya hanya sehelai surat izin mengemudi, dan tentu saja beberapa potong pakaian. Ia direkomendasikan saudaranya yang lebih dulu bekerja sebagai pramuwisma di keluarga yang kelak menjadi majikannya. Karir pertamanya, ia melayani isteri majikannya. Tugasnya, mengantar pergi belanja, arisan, ke rumah kolega, dan pertemuan informal lainnya. Karena dinilai santun, tak banyak ulah, dan cakap dalam mengemudi, tak lebih dari setahun, Ahmad 'naik pangkat' menjadi sopir pribadi Pak Budi. Sekitar akhir Desember tahun lalu, Ahmad meminta pensiun. Umurnya memang tak lagi muda. Kepada majikannya, dia mengaku ingin menikmati hari tuanya di kampungnya. Sang Bos pun tak bisa menolak. Namun, setelah berpamitan, Ahmad rupanya tak langsung pulang kampung, ia menginap di salah satu saudaranya di Jakarta. Ada yang mau diurus, katanya. Dua minggu berselang, dia pun ke kampung halamannya di Jawa Tengah.

Sesampainya di kota kelahirannya, ia disambut hangat oleh isteri dan anak-anaknya. Setelah beristirahat seharian karena kelelahan, keesokan harinya dia mengumpulkan seluruh keluarganya, yaitu isteri dan tiga anaknya. Ternyata ada yang ingin disampaikannya. Bila ia sudah tiada, ia akan mewariskan kekayaannya kepada keluarganya. Pada awalnya, keluarganya mendengarkan Pak Ahmad bicara hanya manggut-manggut saja. Mereka mungkin menilai Pak Ahmad bicara seperti itu karena merasa umurnya lanjut usia. Tapi ketika pembicaraan mulai mengarah pada besarnya warisan, satu persatu keluarga Pak Ahmad terkejut bukan main. Pak Ahmad ternyata mewarisi uang senilai hampir satu miliar rupiah. Uang itu tersimpan di beberapa bank dalam bentuk tabungan dan deposito. Ketika mendengarnya, isterinya kaget bukan main, sambil menutup mata, ia seakan tak percaya apa yang dibicarakan suaminya. Anak lelakinya yang paling tua, tersedak ketika meneguk minuman. Sementara itu, dua anak perempuannya hanya bengong tak dapat berkata apa-apa. Pertanyaan keluarga itu semuanya sama, dari mana Pak Ahmad mempunyai uang sebanyak itu? Ya, darimana uang itu uang itu sesungguhnya berasal.

Inilah kisahnya. Di Jakarta, sebelum pensiun tentunya, Pak Ahmad sehari-hari melayani Pak Budi majikannya. Pak Budi adalah seorang pialang saham. Di kalangan pialang saham, Pak Budi termasuk pialang yang cukup dikenal. Yang namanya pialang saham, Pak Budi biasa melakukan transaksi dimana saja, di ruang kerjanya, tempat pertemuan, rumah makan, atau bahkan di perjalanan ketika sedang berkendara. Kebiasaan Pak Budi inilah, lama-lama dipahami Ahmad. Awalnya Ahmad buta sama sekali dengan dunia saham. Ketidaktahuan dan rasa penasaran Ahmad membawanya mencoba mengetahui dunia yang baru tersebut. Kadang Ahmad membaca dari surat kabar, buku, atau pun brosur. Tapi lebih banyak ia belajar dan banyak bertanya kepada para karyawan kantor tempatnya bekerja. Sebagian besar gaji Pak Ahmad selalu diberikan isterinya di kampungnya. Walau begitu, Pak Ahmad masih bisa menyisihkan beberapa untuk ditabung. Dari uang tabungannyalah, Pak Ahmad coba-coba untuk membeli saham. Pembelian saham di lantai bursa minimal satu lot, ditambah pajak sekitar 0,3 hingga 0,4 persen. 1 lot setara dengan 500 lembar saham. Karena tak ada uang sebesar itu untuk membeli minimal saham, Pak Ahmad bergabung dengan beberapa rekannya. Keuntungan sedikit demi sedikit akhirnya dapat diraih Pak Ahmad. Hingga akhirnya ia dapat membeli minimal satu slot dari uang hasil tabungannya. Kebiasaan tuannya yang sering melakukan transaksi di dalam kendaraan membuat Ahmad akhirnya paham. Kalimat, "saya beli sekian lot saham…." atau "saya jual sekian lot saham….." sangat akrab di telinga Ahmad. Jangan salahkan Ahmad kalau ia dapat curi dengar seluruh percakapan majikannya di dalam mobil. Maka ketika Pak Budi, misalnya, menjual sahamnya sekian lot, itu pulalah yang dilakukan Ahmad, walau tentu dengan skala yang lebih kecil.

Tentu tak bisa terus-terusan Ahmad berada disamping majikannya. Ia hanya dapat melakukannya hanya ketika majikannya berada di dalam mobil melakukan transaksi atau ketika berada di dekatnya. Karena tak selamanya berada disisi majikannya, Ahmad tak mau semata hanya tergantung aksi jual-beli dari majikannya. Ia pun mencoba belajar. Hingga ia pun paham kapan saatnya menjual dan kapan saatnya membeli saham. Layaknya sebuah bisnis, tak selamanya Ahmad bernasib baik, kadang ia juga mengalami kerugian. Tapi waktu jualah yang akhirnya memberikan pengalaman berharga untuk Ahmad. Dari saham yang dimilikinya hanya berjumlah puluhan, meningkat hingga menjadi ratusan.

Pertanyannya kemudian, apakah yang dilakukan Ahmad diperbolehkan? Etiskah tindakan Ahmad? Bila bicara etika, maka kita bicara 'patut' atau 'tidak patut', 'pantas' atau 'tidak pantas'. Etika merupakan persoalan yang rumit. Sebagai satu patokan moralitas yang menentukan persoalan patut atau tidak patut, pantas atau tidak pantas, ia tidak mempunyai wajah yang seragam. Tidak universal. Tergantung dimana ia berada berdiri. Ada sebagian orang yang mengibaratkan bermain saham layaknya sebuah judi. Lebih banyak faktor untung-untungannya. Kadang kalau hokinya sedang bagus, maka keuntungan besar dapat diraih. Tapi kalau nasib pas jeblok, rumah pun bisa digadaikan. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa bermain saham lebih pada menggunakan perhitungan yang matang dan juga analisa, tak hanya berdasarkan faktor keberuntungan semata. Tapi walau telah dianalisa secermat sekalipun, toh tetap saja ada pemain saham yang bernasib sial. Nasib Ahmad boleh dikatakan lebih banyak ditentukan karena faktor keberuntungan. Kalau bosnya pas lagi apes, dipastikan Ahmad ikutan apes juga, walau tentu kerugiannya tak sebesar kerugian yang diderita bosnya. Untungnya, bosnya lebih banyak meraih keuntungan dari aksi jual-beli sahamnya.

Sekarang, lupakan soal patut atau tidak patut. Pantas atau tidak pantas. Hikmah apa yang diambil dari kisah di atas? Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah Ahmad, pandai-pandailah menempatkan diri di dalam suatu kondisi dan situasi. Ambilah hal yang positif, buang yang negatif. Manfaatkan segenap peluang yang berada di depan mata. Jangan takut untuk mengambil risiko. Bila Anda berada pada situasi dimana seharusnya Anda dapat memetik keuntungan, tapi Anda tidak melakukannya, maka Anda sesungguhnya mengalami kerugian yang besar. Karena kreativitas dan jeli dalam mengambil peluang, membuatnya kehidupan Ahmad berubah total. Saat ini Ahmad memang telah kembali ke kampung halamannya. Tapi tentu saja, kali ini Ahmad tak hanya membawa sehelai surat izin mengemudi dan beberapa potong pakaiannya seperti ketika ia pertama kali datang ke Jakarta.

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Hati Melayani
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Mon Jan 11, 2010 8:50 pm ((PST))

Hati Melayani
oleh: Andrias Harefa *

"Tanpa kepemimpinan, organisasi tidak dapat menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah cepat. Namun, jika pemimpin tidak memiliki hati melayani, maka hanya ada potensi untuk bangkitnya sebuah tirani," demikian, antara lain, pesan John P. Kotter dan James E. Heskett dalam Corporate Culture and Performance. Dengan kalimat tersebut Kotter dan Heskett mengingatkan kita tentang konsep kepemimpinan yang melayani; sebuah konsep kepemimpinan yang digagas secara mendalam oleh almarhum Robert K. Greenleaf, mantan eksekutif AT&T dan dosen di berbagai universitas terkemuka seperti MIT dan Harvard Business School, yang juga peneliti dan konsultan terkenal di Amerika.

Dalam salah satu karya terbaiknya yang bertajuk Servant Leadership (1977) ––sebuah karya yang mendapat sambutan hangat dan pujian tokoh-tokoh sekaliber Scott Peck, Max De Pree, Peter Senge, Warren Bennis, dan Danah Zohar–– Greenleaf antara lain mengatakan, "… the great leader is seen as servant first, and that simple fact is the key to his greatness". Perhatikan bahwa Greenleaf menekankan "servant first" dan bukan "leader first". Seorang pemimpin biasa menjadi pemimpin besar dengan cara melihat dirinya pertama-tama dan terutama sebagai pelayan dan bukan pemimpin. Ia pemimpin juga, tentu. Namun hatinya terutama dipenuhi oleh hasrat melayani konstituennya, melayani pengikutnya, melayani publik atau rakyat yang mengangkatnya menjadi pemimpin. Artinya, jabatan kepemimpinan diterima sebagai konsekuensi dari keinginan yang tulus ikhlas untuk melayani konstituen dan bukan untuk kepentingan egoistik dan selfish, bukan ambisi pribadi yang berangkat dari keinginan berkuasa.

Bila dirunut lebih jauh ke belakang, sosok pelayan sebagai pemimpin dapat kita temukan dalam berbagai ajaran pendiri agama-agama besar. Tak seorang pun di antara guru umat manusia itu yang tidak mendemonstrasikan jiwa dan semangat melayani para konstituen yang mengikutinya dengan tulus hati dan setia, nyaris tanpa pamrih material. Mereka tidak berusaha mengejar jabatan kepemimpinan dulu dan kemudian belajar melayani, melainkan mereka melayani dulu untuk kemudian diterima, diakui, dan diangkat sebagai pemimpin (ini bukan tujuan, tapi konsekuensi). Jadi, pertama-tama dan terutama mereka melihat diri mereka sebagai "pelayan", khususnya pelayan atau hamba Allah Yang Maha Esa. Dan karena Allah "mengutus" mereka ke dunia, maka demi Allah mereka melayani manusia yang diciptakan Allah itu, sebagai homo Khalifatullah atau homo Imago Dei .

Pada titik ini kita melihat bagaimana ajaran-ajaran agama mulai (kembali) ditemukan relevansinya untuk dapat diaplikasikan dalam konteks wacana kepemimpinan milenium ketiga. Berbagai ajaran "sesat" yang membuang agama ke pinggir arena kehidupan terbukti keok di tengah jalan (komunisme adalah contoh yang nyata). Ada kehausan spiritual yang nyata dalam masyarakat modern dan pasca modern setelah berbagai "eksperimentasi" dalam memposisikan manusia—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang—sebagai the idiological man-nya Orde Lama, the mechanistic man-nya Orde Baru, fragmented man-nya Orde Reformasi, selfish man-nya Hobbes, man of commodity-nya Marx, maupun man of nature-nya Rousseau, atau digital man dan man of speed-nya generasi elektronik, yang ternyata justru menciptakan inhuman realities dan inhuman system.

Kembali ke Ordo Creatio
Kita tahu bahwa untuk kurun waktu yang sangat lama, pemimpin acapkali dipahami sebagai suatu jabatan atau kedudukan elitis yang menuntut dilayani dan bukan melayani. Dengan demikian, mereka yang menjadi pemimpin dianggap (dan menerima anggapan bahwa dirinya) berhak untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Bahkan dalam tradisi Barat maupun Timur, pemimpin seringkali dianggap keturunan dewa atau wakil Tuhan yang tak boleh diganggu gugat (leaders can do no wrong). Pemimpin ditempatkan sebagai manusia dari "kasta tertinggi" sementara konstituennya adalah "kasta terendah" yang harus menerima diperlakukan sebagai "alat", "organ", atau "obyek". Pandangan ini "berhasil' melestarikan status quo raja-raja dan penguasa yang lalim dan sewenang-wenang. Namun dewasa ini pandangan yang demikian telah kehilangan argumentasi untuk dapat dipertahankan. Kesetaraan dalam hubungan antar manusia telah menjadi kesadaran global yang menolak penempatan manusia yang satu di atas manusia yang lain, atas dasar apapun (jenis kelamin, agama, suku, warna kulit, "barat", "timur", dsb).

Jika benar demikian, maka dalam konteks kepemimpinan kita perlu mengaudit kembali citra diri (self image) para pemimpin kita. Kita harus menolak siapa saja yang mempersepsi dirinya sebagai "manusia unggul", "manusia superior", manusia yang merasa "can do no wrong".

Sebaliknya, kita perlu mencari mereka yang menerima hierarki ordo creatio yang menempatkan ditempat tertinggi hanya Allah semata, yang menempatkan manusia ditempat kedua sebagai homo Khalifatullah atau homo Imago Dei, dan yang menempatkan ditempat ketiga alam semesta sebagai sumberdaya yang harus dikelola secara arif dan bertanggung jawab. Allah adalah Sang Pencipta dan Sang Pemimpin (dengan P besar). Manusia adalah ciptaan yang dicipta dengan potensi daya cipta (creative creature) yang memungkinkan ia menjadi pemimpin (dengan p kecil). Dan alam semesta diciptakan bagi manusia agar manusia itu menjadi manusiawi dengan bertakwa kepada Sang Pemimpin semata.

Kesadaran yang tinggi terhadap kesetaraan manusia sebagai sesama ciptaan menempatkan semua manusia sebagai mahluk yang harus mempertanggungjawabkan setiap kata dan perbuatannya kepada Sang Pencipta dan Sang Pemimpin. Dan kesadaran yang demikian hanya mungkin muncul dari hati nurani (conscience) yang bersih, hati nurani yang menuntun akal budi, dan baik hati nurani maupun akal budi itulah yang pada gilirannya menuntun perilaku manusia agar sungguh-sungguh manusiawi.

Semoga kecerdasan spiritual dan semangat melayani itu kembali merekah di hati para pemimpin.

*) Andrias Harefa; Penggagas Visi Indonesia 2045; Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun; Penulis 35 Buku Best-seller.

Messages in this topic (1)

+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ resonansi@yahoogroups.com +-+-+-+-+-+-+-+-+-+
Kisah Sukses, Kisah Nyata, Kisah Unik, Motivasi dan Inspirasi
–One Day One Posting–
No Attachment, No Spam, No Advertise
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ Motivasi & Inspirasi +-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+

————————————————————————
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
resonansi-normal@yahoogroups.com
resonansi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
resonansi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

————————————————————————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: