[resonansi] Digest Number 1110

There are 2 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. Di mana Batas Kesabaran
From: resonansi_2002

2. Cinta Adalah Keintiman, Gairah, dan Komitmen
From: resonansi_2002

Messages
________________________________________________________________________
1. Di mana Batas Kesabaran
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Mon Jan 18, 2010 6:18 am ((PST))

Message of Monday – Senin, 18 Januari 2010
Di mana Batas Kesabaran
Oleh: Sonny Wibisono *

"Walaupun seseorang dapat mengalahkan ribuan musuh dalam pertempuran, tapi sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri."
— Buddha

SEMINGGU yang lalu saya bertemu dengan seorang teman. Dalam pertemuan sore hari di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, ia menumpahkan unek-uneknya. Artikel yang dia kirimkan ke sejumlah media, tak jua muncul. Padahal, seperti diuraikan olehnya, ia sudah mengirimkan artikel tersebut ke tujuh media cetak. Hasilnya sama, artikelnya tidak dimuat. Ah, ini pengalaman saya beberapa tahun silam. Saya katakan kepadanya, bahwa sekitar tahun 2000-an, artikel pertama saya yang saya buat ditolak oleh lebih dari 8 media cetak. Setelah dilakukan perbaikan di sana-sini, artikel tersebut akhirnya muncul juga di satu media cetak. Saya mencoba untuk memberinya semangat. Saya katakan padanya artikel tersebut perlu diperbaiki. Dengan memasukkan isu hangat agar up to date. Dia telah melakukan itu semua. Dengan setengah frustrasi, dia berujar bahwa kesabaran ada batasnya. Dia menggugat, "mau sampai kapan artikel tersebut harus dikirim?"

Sang teman nampaknya telah lelah. Tapi, kisah tentang John Grisham bolehlah disimak. Grisham adalah penulis novel terlaris era 1990-an. Novel pertamanya yang berjudul "A Time To Kill", ditulis pada 1984 dan selesai 3 tahun kemudian. Saat ia menulis novel tersebut, Grisham masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Mississippi. Dia berprofesi pula sebagai pengacara. Tahun 1990, ia melepaskan jabatannya sebagai anggota dewan. Nama besar sebagai anggota dewan dan pengacara ternyata tak menjamin bahwa novel pertamanya diminati oleh penerbit. Coba tebak, sampai berapa kali novel pertamanya harus ditawarkan ke penerbit? Tak kurang dari 16 agen dan lebih dari 30 penerbitan menolak novel pertama Grisham.

Novelnya tersebut akhirnya dibeli juga oleh satu penerbit, Wynwood Press. Dicetak sebanyak 5 ribu eksemplar dan terbit bulan Juni 1988. Novel ini disambut adem ayem oleh para pembaca di negeri Paman Sam. Walau Grisham sendiri telah membeli 1000 kopi untuk ia jual sendiri dengan berkeliling ke daerah Selatan Amerika, tapi novel pertama Grisham dipasaran dapat dikatakan tidaklah sukses.

Menyerahkah Grisham menulis novel? Tidak. Ia kemudian melanjutkan menulis novel keduanya, 'The Firm'. Grisham tetap konsisten dengan aturan yang ia buat sendiri. Setiap pagi dirinya harus bangun jam lima pagi dan menyempatkan untuk menulis selama satu jam. Setelah selesai dengan novel keduanya ini, ia kembali menawarkan pada penerbit yang sama. Tetapi Grisham kaget bukan kepalang, karena novelnya dibeli seharga 600 ribu US dolar, bukan oleh penerbitnya, tapi oleh Paramount Pictures. Pihak Paramount Pictures yakin bahwa film yang diangkat dari novel 'The Firm' akan sukses bila dibintangi oleh pemain sekaliber Tom Cruise. Tentu saja perjanjian yang melibatkan uang dalam jumlah besar membuat banyak pihak dan para penerbit yang tadinya menolak karya Grisham mau tak mau menoleh kembali. Begitulah kisah Grisham di awal ketika ia pertama kali menulis novel.

Balik kembali ke pertanyaan: di mana batas kesabaran sesungguhnya? Saya ingin bertanya, bila Anda ingin menegaskan kembali pernyataan Anda kepada lawan bicara Anda, berapa kali Anda perlu mengulang. Dua kali? tiga kali? atau lima kali? Saya menduga, bila Anda mengulang hingga lima kali, Anda akan merasa jengkel dibuatnya.

Sabar merupakan kata yang berulang kali disampaikan oleh Allah SWT di dalam al-Qur'an, Dia menyinggung masalah kesabaran ini di sekitar tujuh puluh tempat. Hal ini untuk menegaskan betapa pentingnya arti kesabaran bagi manusia. Situs Sabda Alkitab (http://alkitab.sabda.org) menyebutkan bahwa dalam Injil setidaknya terdapat 51 ayat yang berkaitan dengan sabar. Sedangkan Toni Yoyo dalam artikelnya, "Sabar? Yes!" menjelaskan bahwa dalam Dhammapada Bait 184, Sang Buddha mengatakan, "Kesabaran adalah praktek bertapa atau pengendalian diri yang terbaik. Nibbana (Nirwana) adalah yang tertinggi. Begitulah sabda Para Buddha. Dia yang masih menyakiti dan menganiaya orang lain sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana)." Dalam Agama Hindu, sikap sabar dijabarkan begitu luhurnya dalam ajaran Panca Yama Brata. Sikap sabar menjadi landasan spiritual di dalam memandang masalah yang dihadapi. Orang yang sabar lebih banyak mendapatkan berkah dari yang tidak sabar. Demikian dijelaskan dalam artikel 'Melatih Diri Menjadi Lebih Sabar' yang ditulis oleh Putu Sumardhaya.

Itulah mengapa dalam setiap agama, diajarkan bahwa sabar merupakan kata kunci dalam menjalani hidup ini. Jelaslah, bahwa sesungguhnya tak ada istilah, "sabar itu ada batasnya" atau "kesabaran saya sudah habis!". Orang yang tabah dalam menghadapi segala kesulitan akan dianugerahi kesabaran yang sempurna. Semoga saja.(180110)

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Cinta Adalah Keintiman, Gairah, dan Komitmen
Posted by: "resonansi_2002" resonansi_2002@yahoo.co.uk resonansi_2002
Date: Mon Jan 18, 2010 9:11 pm ((PST))

Cinta Adalah Keintiman, Gairah, dan Komitmen
Oleh: Santy Yanuar Pranawati *

Aku mencintaimu." Tidak semua orang bisa dan terbiasa mengucapkan kalimat tersebut, terutama apabila untuk pertama kalinya. "Aku mencintaimu" merupakan sebuah kalimat yang bisa membuat hati seseorang bergetar atau bergelora, baik yang mengucapkan maupun yang menerima ucapan itu. Apalagi bila kalimat itu diucapkan dengan penuh ketulusan, bukan hanya karena kebiasaan, apalagi tipu muslihat.

Definisi kata cinta sangat luas dan tak terbatas. Setiap orang memaknai kata cinta dengan pandangan mereka masing-masing. Ada pendapat yang mengatakan bahwa cinta merupakan sebuah perasaan ingin berbagi bersama dengan seseorang. Ada juga yang berpendapat bahwa cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Pendapat lain menyatakan, cinta adalah sebuah kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa lain di Eropa, bahasa Indonesia terlihat lebih banyak memiliki kosakata dalam mengungkapkan konsep ini, misalnya cinta, kasih, dan sayang. Walaupun pada akhirnya dibedakan dalam mengartikannya, konsep dasarnya adalah sama. Demikian juga bahasa Yunani kuno, yang membedakan konsep tersebut dengan eros, philia, storge, dan agape.

Cinta, bagi beberapa orang adalah sebuah candu yang kuat, perasaan yang menggelisahkan, ataupun sebuah kelekatan. Bagi yang lain cinta merupakan fantasi, di mana seseorang (biasanya perempuan) berharap akan adanya seorang penyelamat (biasanya pria). Sedangkan, yang lain berpikir bahwa cinta adalah sebuah permainan atau pertempuran, di mana akan terdapat seseorang yang menang atau kalah.

Cinta dapat menjadi cerita horor, misteri, atau cerita detektif, cerita yang menyakitkan di mana ada pelaku dan ada korban kekerasan. Atau cinta akan menjadi petualangan, dapat juga menjadi sebuah hubungan yang demokratis di mana terdapat suasana harmonis saling menghargai.

Bagi seseorang yang sedang dimabuk cinta, tidak jarang mereka bersikap tidak sepertinya biasanya, hal ini terjadi tidak memandang usia. Berapa pun usianya, jika seseorang sedang jatuh cinta, bisa saja melakukan hal-hal yang berbeda dari kebiasaannya. Misalnya saja, dari yang sangat tak acuh terhadap penampilan, menjadi sangat acuh, bahkan terkadang terlihat berlebihan dalam berpenampilan.

Sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, akan melihat bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua, setiap kata-kata yang mereka ungkapkan mengandung unsur cinta. Hal ini mungkin saja tidak hanya dialami oleh seorang remaja, namun berapa pun umur mereka, jika sedang dilanda cinta, secara tidak disadari perilaku akan terlihat berbeda dari biasanya.

Perasaan cinta yang hanya didasari emosi belaka tentu tidaklah bijak. Terlebih jika emosi itu hanya datang sesaat. Romantisme cinta hanya akan berakhir dengan mimpi buruk. Akan timbul ungkapan-ungkapan kekecewaan, kesedihan, sakit hati, dan juga dendam. Bahkan, ketika pasangan tersebut sudah telanjur berada dalam ikatan pernikahan, bisa saja terjadi anggapan bahwa rumah tangga yang sedang dijalani bagaikan neraka, muncul pelecehan, bahkan kekerasan, ada yang menjadi pelaku dan ada yang menjadi korban. Kebanyakan orang menjadi pasrah, karena sudah terperangkap dalam "jeratan cinta" yang dulu menggebu. Lalu bagaimana supaya kita tidak terjebak ke dalam cerita cinta indah yang berujung pada tetes air mata?

Dalam mencintai, sebaiknya memang kita mencintai pasangan dengan segenap hati, tetapi kita juga harus menggunakan akal budi. Maksudnya, emosi dan logika kita kawinkan. Sebaiknya, kita menggunakan hikmat yang ada kepada diri kita untuk tidak menjadikan cinta itu hanya emosi sesaat. Memang bukan hal yang mudah. Biarlah cinta itu tumbuh dan hidup menjadi cinta sejati.

Bagaimana kita dapat membedakan cinta sesaat dan cinta sejati? Hanya waktu yang bisa mengujinya. Tidak tergesa-gesa dan memberi kesempatan kepada cinta untuk berperan dalam ceritanya.

Berpikir bahwa cinta merupakan sebuah cerita dapat membantu kita untuk melihat bagaimana memilih dan menggabungkan elemen-elemen dari "alur" ceritanya. Teori cinta atau yang disebut Teori Triangular yang diungkapkan oleh Stenberg's menyebutkan ada tiga komponen dalam cinta, yaitu (1). intimacy (keintiman), (2) passion (gairah), dan (3) commitment (komitmen). Komponen keintiman merupakan elemen emosi.

Seseorang menjadi nyaman bila berhadapan dengan pasangannya, adanya keterbukaan serta keinginan untuk membina hubungan dalam lingkup kepercayaan. Komponen gairah adalah elemen motivasional yang merupakan dorongan dari dalam yang diartikan sebagai gairah fisiologis atau hasrat seksual. Komponen yang terakhir adalah komitmen. Komponen ini merupakan komponen yang penting sebab melibatkan elemen kognisi, yakni seseorang harus mengambil keputusan apakah ia akan mencintai seseorang dan tinggal bersama orang yang dicintainya.

Memang tidak mudah bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk menggunakan logikanya. Kebanyakan orang akan menggunakan emosi atau perasaan sehingga walaupun cinta mereka mendapat tentangan, mereka tidak akan menghiraukannya. Begitu juga ketika seseorang sudah mulai merasakan sakit karena cinta, mereka akan tetap memberi permakluman atas nama cinta.

Bagi pasangan yang mengharapkan hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan, ketiga komponen cinta di atas haruslah dapat diseimbangkan, yaitu dengan mengendalikan gairah yang yang muncul dan meningkatkan komitmen. Mereka belajar untuk setia pada komitmen yang telah mereka buat, dan juga belajar untuk mencintai dengan segenap hati dan akal budi. Mencintai bukan hanya dengan emosi dan kesenangan sesaat, tetapi juga karena adanya tanggung jawab, saling memperhatikan pasangan, dan juga saling menghormati. Berusaha setia kepada komitmen dan menjaga selama hidup dalam ikatan pernikahan dengan dibumbui keintiman dan gairah yang ada.

*) Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Psikologi UKRIDA-Jakarta.

Messages in this topic (1)

+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ resonansi@yahoogroups.com +-+-+-+-+-+-+-+-+-+
Kisah Sukses, Kisah Nyata, Kisah Unik, Motivasi dan Inspirasi
–One Day One Posting–
No Attachment, No Spam, No Advertise
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+ Motivasi & Inspirasi +-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+

————————————————————————
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/resonansi/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
resonansi-normal@yahoogroups.com
resonansi-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
resonansi-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

————————————————————————

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: