Pelatihan Manajemen Pernikahan Dan Kesiapan Mental Untuk Menikah

 
Pengaruh Pelatihan Manajemen Pernikahan terhadap Peningkatan Kesiapan Mental untuk Menikah
Kesiapan mental merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh seseorang untuk memutuskan sesuatu. Kesiapan mental merupakan bentuk kematangan seseorang untuk menghadapi suatu situasi baru. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, hendaknya ia siap dengan segala konsekuensi dari keputusannya itu. Individu harus merasa mampu mengemban segala tanggung jawab dan memahami peran barunya sebagai seorang istri atau seorang suami.
Kesiapan mental ini dibutuhkan untuk pencapaian kepuasan terhadap suatu hal. Menurut Thorndike (Hilgard,1956), jika seseorang siap untuk melakukan sesuatu dan ia melakukannya, maka ia akan merasa puas. Begitu juga dalam pernikahan, jika seseorang merasa siap dengan keputusannya untuk menikah, dan ia melakukannya, maka ia akan puas dengan pernikahannya. Namun, untuk mencapai kepuasan dalam pernikahan diperlukan tidak hanya kesiapan secara mental saja, tapi juga harus ditunjang dengan kemampuan atau keterampilan dalam menjalaninya. Adapun hal-hal yang dapat mendukung kesiapan mental itu adalah kemampuan untuk mematangkan diri, kemampuan bersikap saling dan kemampuan mengemban tanggung jawab tugas.
Individu masa dewasa awal memiliki tuntutan untuk bisa melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik karena hal ini akan mempengaruhi kemampuannya untuk bisa melewati tugas perkembangan masa selanjutnya. Namun, terkadang, individu masa dewasa awal sering merasa kurang yakin dengan kemampuannya untuk mulai memasuki kehidupan pernikahan yang merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dilaluinya. Individu mungkin memiliki kemauan untuk menyatukan dirinya dengan orang lain karena dorongan kebutuhannya, namun di sisi lain, ia masih belum yakin dengan
kemampuannya mengelola hubungan, apakah benar orang yang akan menjadi suami/istrinya itu adalah orang yang cocok dengannya, menjalankan tanggung jawabnya dan mematangkan diri secara emosi dan pikiran.
Oleh karena itu, penulis mencoba untuk merancang suatu pelatihan yang ditujukan untuk individu masa dewasa awal agar dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi sehingga merasa yakin dengan kemampuannya menjalani kehidupan pernikahan.
Pelatihan manajemen pernikahan seperti yang telah dijelaskan diatas dibuat berdasarkan tujuh prinsip melanggengkan hubungan antara suami dengan istri dari Gottman dkk (2001). Materi-materi yang akan disampaikan dalam pelatihan ini adalah materi-materi yang akan membawa kepada pemahaman mengenai cara-cara untuk mematangkan diri, bersikap saling dan bertanggung jawab terhadap tugas.
Ada tujuh materi yang akan disampaikan pada pelatihan ini, yaitu materi konsep dankesadaran diri, saling mendekati dan tidak saling menjauhi, saling menerima pengaruh, konflik dan strategi menyelesaikannya, seks dalam perkawinan, menjadi orang tua dan manajemen keuangan rumah tangga. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan suatu gambaran tentang kehidupan pernikahan kepada individu masa dewasa awal yang belum menikah agar menjadi lebih siap untuk menikah.
Versi Lengkap Softcopy Dapat Dipesan

3 Tanggapan

  1. salam kenal, saya vera mahasiswa Psikologi UNS…saya tertarik dengan tema ini dan hampir sama dengan judul skripsi saya, mungkin saya bisa menambah bahan skripsi saya dengan artkel ini… terimakasih….

  2. Oke…semoga membantu..i will give your needed 😀

  3. Salam kenal, tema ini hampir mirip dengan judul skripsi saya. Mungkin saya bisa mendapatkan refrensi dari artikel ini. Terimakasih 😃

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: