Pelatihan Penerimaan Diri Untuk Meningkatkan Harga Diri Remaja Penyandang Cacat

 
Pengaruh Pelatihan Penerimaan Diri Terhadap Peningkatan Harga Diri Pada Remaja
Penyandang Cacat Tubuh Kaki

Remaja penyandang cacat tubuh memiliki hambatan dalam penyesuaian diri dengan kondisi cacat yang dideritanya. Reaksi emosi yang ditunjukkan dapat berbeda-beda; dapat berupa berdiam diri karena depresi, menyalahkan diri sendiri, kecewa, khawatir, dan membenci diri sendiri. Akibatnya adalah perasaan malu, murung, sedih, melamun, menyendiri, dan berputus asa, ( Mangunsong, 1998 ).
Reaksi emosi yang negatif akibat penyesuaian diri yang buruk pada remaja penyandang cacat tubuh, dapat mempengaruhi perasaan suka atau tidak suka terhadap diri sendiri. Sebagaimana Hurlock (1980) menegaskan bahwa kegagalan dalam kateksis tubuh dapat mengakibatkan kurangnya harga diri.
Oleh karena itu penting bagi remaja penyandang cacat tubuh untuk merasa senang terhadap dirinya. Medianya adalah pelatihan penerimaan diri, melalui pelatihan tersebut remaja penyandang cacat tubuh diajarkan untuk dapat menerima kondisi tubuh yang cacat, sambil tetap semangat menjalani hidup, dengan memanfaatkan kelebihan dan peluang yang ada dan memungkinkan untuk dicapai. 
Kondisi itu dapat meningkatkan keberhargaan dirinya. Mappiare (1982) mengatakan bahwa pengetahuan yang luas tentang diri dan menerimanya erat kaitannya dengan kemantapan rasa harga diri. Dengan kata lain penerimaan diri merupakan tonggak untuk memperbaiki .harga diri rendah atau negatif menjadi harga diri positif atau tinggi, sebagaimana pendapat Rogers (1987) bahwa menerima diri adalah awal dari perubahan. Perubahan untuk menjadi lebih baik dengan memiliki harga diri positif atau tinggi.

Masa remaja menurut Zulkifli (2002) ditandai dengan perkembangan jasmaniah yang sangat menonjol, dan berakhir pada saat berakhirnya perkembangan jasmaniah. Lebih konkretnya masa remaja menurut Sarwono (2002), yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat Indonesia, yaitu periode perkembangan dengan batasan usia 11 sampai dengan 24 tahun dan belum menikah. Batasan usia tersebut adalah sebagai pedoman umum, sebab tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam mengingat negara Indonesia terdiri dari macam suku, adat, dan tingkah lakusosial ekonomi maupun pendidikan.

Pertimbangan Sarwono (2002) dalam memberikan batasan usia tersebut, adalah :
  1. Secara fisik pada usia 11 tahun, tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak Secara sosial, baik secara adat maupun agama, usia 11 tahun sudah dianggap akil balig sehingga masyarakat tidak memperlakukan individu-individu pada usia tersebut sebagai anak-anak
  2. Secara psikologis pada usia 11 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (Ego-Identity Erickson), tercapainya fase genital (psikoseksual Freud), dan merupakan fase perkembangan kognitif (Piaget) maupun perkembangan moral (Kohlberg) Batas usia 24 tahun merupakan batas usia maksimal, untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa secara sosial maupun psikologik
  3. Rentang usia 11 sampai dengan 24 tahun adalah khusus untuk yang belum menikah, sebab seseorang yanga sudah menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum, kehidupan masyarakat dan keluarga.
  4. Kondisi dan karakter remaja diantara rentang usia 11 sampai dengan 24 tahun tentunya berbeda-beda. Oleh karena itu perlunya pengelompokkan pada fase remaja itu sendiri. Mengacu pendapat Mappiare (1982) yang membagi masa remaja ke dalam remaja awal dan akhir. Di mana remaja awal berada dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun; sedangkan remaja akhir berada dalam usia 17/18 tahun sampai 2 1/22 tahun. Masa remaja tersebut diawali dengan periode pubertas yang berbeda dengan masa remaja, dan memiliki waktu yang singkat.
Versi Lengkap Softcopy Dapat Dipesan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: