Penyesuian Diri Seorang Waria

 
PENYESUAIAN DIRI PADA WARIA
Studi Kasus

Seluruh data dalam penelitian ini telah dianalisis secara kualitatif, yaitu diolah dalam bentuk analitik deskriptif melalui kutipan-kutipan langsung dari perkataan subyek selama proses wawancara mendalam Moleong(2001), dan telah dikategorisasikan atau dikelompokkan dalam unit-unit terkecil sesuai dengan tema-tema tertentu yang diuraikan dalam hasil penelitian.
Hasil penelitian selanjutnya menjadi bahan utama untuk melakukan interpretasi, yaitu upaya peneliti memberi arti terhadap temuan-temuan yang diperoleh dengan menelusuri keterkaitan satu sama lain antar temuan tersebut, kemudian menyusunnya dalam penjelasan-penjelasan untuk membangun suatu kesimpulan secara menyeluruh. Kesimpulan inilah yang akan menjawab pertanyaan penelitian Patton (Susiyanti, 2003). Interpretasi menjadikan data sebagai suatu kesatuan utuh yang memberikan pemahaman baru terhadap fenomena yang diteliti (Farihah, 2001).
Interpretasi terhadap hasil analisis kualitatif tidak menghasilkan pengetahuan dalam pengertian yang sama dengan interpretasi terhadap hasil analisis kuantitatif. Interpretasi kualitatif menekankan pada penjelasan dan pemahaman, tidak semata pada determinasi kausal atau generasi Patton (Susiyanti, 2003). (Kvale Poerwandari, 1998) menekankan bahwa interpretasi bukan bersifat tunggal, oleh sebab itu sah saja apabila ada pihak-pihak lain yang memiliki interpretasi yang berbeda dengan interpretasi peneliti terhadap hasil analisis data ini.
Keterlibatan proses dari dalam diri dalam rangkaian perjalanan yang di alami individu mewarnai perkembangan, hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Hilgard (1962 ) bahwa seseorang mengadakan penyesuaian diri karena ingin melepaskan diri dari ketidak enakan dalam dirinya dan konflik yang dialami, sehingga didapatkan suatu keseimbangan psikis. Temuan di lapangan penyesuaian diri dengan cara mulai berdandang perempuan, intensitas yang minim dengan pergaulan teman laki-laki dirasa lebih nyaman. Hal yang berhubungan dengan dunia perempuan seperti berdandan, bermain boneka lebih diminati. Ikut berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, bersikap acuh bahkan besikap apati merupakan bentuk penyesuaian diri yang dilakukan.
Keseimbangan yang tercipta busa bersifat subyektif karena berkenaan dengan konflik didalam diri yang berbenturan dengan reaksi luar yang subyektif pula.Penetapan pilihan atas konsekwensi kehidupan yang dipilih mengungkapkan bahwa fenomena waria, dalam psikologi disebut sebagai gejala abnormalitas seksual PPDGJ II (1983). Waria oportunis juga masuk dalam tranvestisme peran ganda pada dasarnya tidak mungkin dipisahkan dari unsur-unsur kehidupan dan pengalaman seseorang.
Beberapa ahli berpandangan bahwa keadaan abnormalitas seseorang, apapun bentuknya, tidak dapat dipisahkan dari proses perkembangan manusia, sejak ia berada dalam kandungan, lahir, dan dibesarkan di alam kehidupan dunia. Menurut Davison and Neale (1978) kecenderungan seseorang menjadi menolak bahwa dirinya berlawanan dengan struktur fisiknya karena pengalaman yang salah. Waria yang mengalami kebiasaan dalam identitas atau peran gender dipengaruhi oleh 3 faktor, yakni faktor-faktor prenatal, faktor yang terjadi pada masa kecil dan masa kanak-kanak serta faktor-faktor yang menyangkut pubertas. Ketika seorang anak masih berbentuk janin, sebenarnya telah terjadi proses pembedaan kelamin secara organis yang diikuti pula dengan terjadinya perkembangan otak. 
Fakta di lapangan menunjukan pola asuh orang tua yang menginginkan anak perempuan sejak dari kandungan memberi perlakuan seperti bersikap permisive pada dunia yang identik dilakukan perempuan.
Perubahan seorang laki-laki menjadi waria kadang tidak disadari oleh orang yang bersangkutan. Dia hanya merasa mempunyai kebiasaan dan kegemaran sebagaimana seorang perempuan seperti kelekatan pada figur ibu, intensitas intraksi dengan dunia wanita. Hal yang dilakukan semata-mata murni dari kebiasaan lingkungan yang didapat, seperti kebiasaan anak laki-laki terhadap barang-barang wanita misalnya bedak, lipstik hingga pakaian wanita beserta aksesoris, akhirnya menjadi kebiasaan “menetap tegar” dalam istilah Kartono. Keadaan tersebut oleh Kelly (1988) disebut sebagai factors of infancy and childhood.
Disinilah terjadi munculnya reaksi berupa upaya dari orang-orang sekitar baik upaya logis maupun tak logis dimana barometer pengalaman nilai yang bersifat vertical ataupun horizontal tidak begitu membawa pengaruh pada hasil yang diinginkan, kegiatan dipondok pesantren, pergi ke dukun sampai konsultasi pada dokter, psikiater dan psikolog memang dijumpai dilapangan. Pikunas (1976) bahwa kesanggupan individu untuk menghentikan beberapa kesenangan dan menunda keinginannya demi kepuasan yang lebih besar di masa yang akan datang merupakan aspek integrasi antara fakta dan fantasi serta kemampuan untuk melihat hal yang sudah umum dengan cara yang baru.
Chaplin C.P (1981) mengemukakan variasi dalam kegiatan organisme untuk mengatasi suatu hambatan dan memeuaskan kebutuhan-kebutuhan dan penegakakn hubungan yang harmonis antara lingkungan fisik dan sosial membawa proses-proses belajar sosial sejak awal telah mengembang pada kenyataan bahwa identitas kelamin terjadi melalui norma-norma sosial, yaitu melalui menilaian apa yang baik dan tidak baik bagi anak laki-laki atau perempuan. 
Versi Lengkap Softcopy Dapat Dipesan 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: