Agresivitas Pelajar Pendatang dan Pelajar Local

Perbedaan Agresivitas Antara Pelajar Asli Yogyakarta Dengan Pelajar Pendatang Di Yogyakarta
Berdasarkan hasil analisis t – test pada SPSS 11,0 for windows, tampak bahwa agresivitas antara pelajar pendatang dan pelajar asli Yogyakarta tidak ada perbedaannya. Hal ini dapat dilihat dari rerata hasil penelitian yang relatif hampir sama. Rerata hasil penelitian dari pelajar pendatang sebesar 28,1662 dan rerata hasil penelitian pelajar asli Yogyakarta sebesar 23,6176. Hal ini berbeda dengan beberapa teori dan kasus yang diungkapkan pada Bab I dan Bab II, yaitu bahwa pelajar yang berasal dari luar Yogyakarta mempunyai sikap agresif yang lebih tinggi daripada pelajar asli Yogyakarta.
Tidak adanya perbedaan agresivitas antara pelajar pendatang dan pelajar asli Yogyakarta, hal ini disebabkan karena beberapa hal. Dengan menggunakan analisis kemungkinan, penulis mencoba mencari benang merah mengapa hal ini bisa terjadi. Kemungkinan pertama, bahwa pengambilan data pada penelitian ini dilakukan di SMA yang bernafaskan agama, yaitu SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. SMA I Muhammadiyah Yogyakarta adalah sekolah yang berbasiskan Agama, dalam hal ini adalah agama Islam, dimana proporsi pelajaran agama dibandingkan sekolah menengah umum lebih banyak. Artinya bahwa pelajaran tentang ke-imanan, ke-tauhidan, fiqh, aqidah, akhlak lebih ditekankan. Bahwa di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, selain pelajaran agama dikelas proporsinya cukup banyak, diluar kelaspun kegiatan keagamaan juga selalu dilaksanakan, misalnya sholat jama’ah bersama dan kegiatan pengajian rutin yang dilaksanakan tiap satu bulan sekali.
Dengan keadaan tersebut, maka seluruh siswa SMA Muhammadiya I Yogyakarta, baik itu yang pendatang maupun yang asli Yogyakarta memperoleh pelajaran yang sama, memperoleh bimbingan yang sama, juga memperoleh cara-cara yang sama dalam rangka mereduksi dorongan agresivitas yang ada dalam tiap siswa, yang tentunya berdasarkan ajaran-ajaran agama yang diajarkan.
Karena seluruh siswa SMA Muhammadiya I Yogyakarta, baik itu yang pendatang maupun yang asli Yogyakarta memperoleh pelajaran yang sama, memperoleh bimbingan yang sama, juga memperoleh cara-cara yang sama dalam rangka mereduksi dorongan agresivitas yang ada dalam tiap siswa. Maka kecenderungan untuk berperilaku agresifpun dapat diminimalisir, dan jika ada yang melakukan tindakan agresif, presentasinya sangat kecil. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian, baik secara keseluruhan ataupun berdasarkan asal daerah kecenderungan untuk melakukan tindakan agresif termasuk pada kategori sangat rendah dan rendah (hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan kategori sangat rendah 47,89 %, kategori rendah 45,07 % dan kategori sedang 7,04 %, berdasarkan asal daerah, untuk pendatang kategori sangat rendah 43,24 %, kategori rendah 43,24 % dan katrgori sedang 13,52 %, dan untuk pelajar asli Yogyakarta kategori sangat rendah 50 % dan kategori rendah 50 %).
Seseorang yang telah mendapatkan berbagai ajaran tentang agama dengan baik, telah mendapatkan pelajaran tentang budi pekerti dan etika dengan baik, maka secara kognitif akan bisa mengevaluasi dan menilai atas segala tindakan-tindakan yang akan dilakukannya. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Goodhart (Ekawati, 2001) bahwa proses dalam cognitive processing adalah evaluasi. Individu akan mengevaluasi peristiwa dari positif atau negatif dengan melibatkan aspek-aspek identitas diri dan pandangan-pandangan terhadap dunia.
Sependapat dengan Goodhart, Baron dan Byrne (1984) juga mengungkapkan, bahwa agresi merupakan hasil pengaruh- mempengaruhi yang bersifat kompleks antara suasana hati, pikiran, ingatan, dan penilaian kognitif terhadap situasi yang berlangsung. Sehingga ketika hati dan pikiran sudah bersih, segala bentuk kecenderungan tindakan agresivitas dan kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku negatif lainnya akan mudah diminimalisir dengan baik.
Kemungkinan kedua, adanya ketidakjujuran dalam pengisian data penelitian (terjadi bias, karena tempat sekolah responden adalah sekolah yang berbasiskan agama). Artinya, apa yang ada dihati nurani responden tidak sesuai dengan apa yang mereka ungkapkan dalam data penelitian (tidak jujur).
Kemungkinan ketiga, karena adanya keinginan diterima dalam lingkungan baru. Dalam hal ini adanya keinginan diterima dari pelajar yang berasal dari luar Yogyakarta. Mereka ingin diterima dalam lingkungan sekolah mereka yang notabenenya adalah sekolah yang berbasiskan agama, sehingga mereka mengikuti apa saja yang menjadi aturan dan ajaran ditempat sekolah mereka. Mereka juga ingin diterima di lingkungan masyarakat Yogyakarta pada umumnya, sehingga mereka mengikuti segala norma, aturan, dan budaya Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Sears, Freedman dan Pepplan (1991), bahwa ketika seseorang ingin diterima secara sosial, maka orang tersebut akan menyesuaikan diri dengan tempat baru mereka.
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: