Identitas Etnis Tionghoa Asli Dan Keterunan

Perbedaan Identitas Etnis Tionghoa Antara Mahasiswa Etnis Tionghoa Asli Dengan Mahasiswa Etnis Tionghoa Peranakan
Hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaaan identitas etnis antara mahasiswa etnis Tionghoa asli dengan mahasiswa etnis Tionghoa peranakan, diterima. Hasil analisis data dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa asli dengan mahasiswa etnis Tionghoa peranakan. Identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa asli lebih kuat daripada identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa peranakan.
Perbedaan identitas etnis tersebut kemungkinan berhubungan dengan ciri fisik kedua kelompok tersebut. Menurut Isaacs (1993) tubuh merupakan unsur pokok yang paling jelas terlihat dalam identifikasi. Tubuh adalah unsur biologis yang tidak dapat dibantah, diperoleh sebagai warisan yang paling penting. Pada mahasiswa etnis Tionghoa asli ciri fisik masih sangat terlihat karena berasal dari orang tua yang memiliki ciri fisik etnis Tionghoa yang jelas misal mata sipit, kulit putih dan rambut lurus, sedangkan pada mahasiswa etnis Tionghoa peranakan biasanya hanya mewariskan campuran dari ciri fisik etnis Tionghoa dan ciri fisik masyarakat Indonesia misal memiliki mata sipit dengan kulit coklat dengan rambut lurus atau sebaliknya sehingga mahasiwa etnis Tionghoa peranakan lebih menyerupai masyarakat Indonesia asli.
Perbedaan fisik pada mahasiswa etnis Tionghoa asli menyebabkan mereka merasa berbeda dengan mahasiswa etnis asli Indonesia sehingga timbul sikap afirmasi terhadap etnis dengan cara mencari orang yang sama dengan mereka, berkelompok dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan etnis mereka. Misalnya sama-sama menjalankan upacara adat istiadat, melakukan ritual-ritual dan kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya dengan etnis mereka. Hal ini ditunjukkan dengan 100 % dari mahasiswa etnis Tionghoa asli menyatakan tidak pernah pada pernyataan ”Saya merasa terpaksa menjalankan adat istiadat, kebiasaan dan norma etnis Tionghoa dalam keluarga dan kehidupan saya”.
Pada mahasiswa etnis Tionghoa peranakan sebanyak 8.7 % menyatakan sering terpaksa menjalankan adat istiadat, kebiasaan dan norma etnis Tionghoa, hanya sebanyak 91.3 % dari mahasiswa etnis Tionghoa menyatakan kadang-kadang dan tidak pernah pada pernyataan “Saya merasa terpaksa menjalankan adat istiadat, kebiasaan dan norma etnis Tionghoa dalam keluarga dan kehidupan saya”. Hal ini disebabkan karena pembauran yang dilakukan oleh orang tua mereka baik secara fisik maupun kebudayaan.
Stephan & Stephan (dalam Juniar, 1994) mengungkapkan bahwa pada kenyataannya identitas etnik bersifat subjektif. Keetnisan seseorang tidak hanya dinilai melalui kriteria fisik secara objektif, atau berdasarkan budaya yang diwariskan padanya tetapi secara khusus ia memilih identitas etnisnya atau disebut juga dengan resolusi yaitu memutuskan dengan etnik mana seseorang dapat menganggap dirinya sebagai anggota. Identitas suatu kelompok etnis tersusun dari pengenalan diri tiap individu atau ekplorasi terhadap etnis bersama orang lain yang diperolehnya sejak lahir dalam keluarga tempat dia dilahirkan pada saat itu di tempat itu. Perkembangan identitas etnis terfokus pada apa yang dipelajari tentang kebudayaan mereka dari keluarga dan masyarakat, dengan kata lain perasaan etnis berkembang dari pembagian kebudayaan keluarga yang baik dan dekat (Torres dalam Juniar 1994).
Saat ini generasi keturunan etnis Tionghoa asli maupun keturunan etnis Tionghoa peranakan cenderung memilih identitas etnis mereka secara subjektif dengan cara ekplorasi dan resolusi. Perkembangan identitas etnis yang dipelajari tentang kebudayaan etnis Tionghoa dari keluarga dan masyarakat seringkali tidak sama. Bagi keturunan etnis Tionghoa asli pengenalan kebudayaan Tionghoa dalam keluarga lebih banyak, tetapi karena mereka tinggal di tengah-tengah masyarakat Indonesia maka kebudayaan Indonesia juga mempengaruhi proses pembelajaran kebudayaan mereka.
Hal ini dapat dijelaskan juga dengan menggunakan teori belajar sosial atau social learning yang dikemukakan oleh Bandura. Menurut Bandura proses belajar terjadi dengan mengalami dan meniru apa yang ada disekitarnya. Dengan menggunakan prinsip modeling dang imitasi, menurutnya tingkat imitasi dari anak tergantung dari karakteristik penonton dan karakteristik model (Mustaqim, 2001). Anak-anak keturunan etnis Tionghoa asli akan belajar kebudayaan Tionghoa dari orang tua mereka juga dengan orang-orang disekitar mereka yang sebagian besar adalah keluarga yang berorientasi pada kebudayaan Tionghoa, sehingga identitas etnis Tionghoa mereka cenderung kuat.
Pada keturunan etnis Tionghoa peranakan memiliki dua model imitasi yang berbeda, tetapi sebagian besar orang tua mereka berada ditengah masyarakat asli daerah tempat mereka tinggal dan berbaur dengan masyarakat disekitarnya sehingga pembelajaran kebudayaan cenderung mengikuti kebudayaan masyarakat di tempat tinggal mereka. Hal ini menyebabkan identitas etnis Tionghoa pada keturunan etnis Tionghoa peranakan tidak kuat.
Mahasiswa etnis Tionghoa asli melakukan ekplorasi dengan cara memperhatikan peristiwa yang berhubungan dengan etnis Tionghoa, hanya 8.7 % yang menyatakan sering pada pernyataan “Saya tidak memperhatikan peristiwa yang berhubungan dengan etnis Tionghoa”, sehingga mereka berpengalaman terhadap sesuatu yang mencerminkan etnis Tionghoa, karena 13 % dari mereka menyatakan sering pada pernyataan “Saya tidak berpengalaman terhadap sesuatu yang mencerminkan etnis Tionghoa, seperti makanan khas, mendengarkan musik, menonton film”.
Proses pengenalan kebudayaan mahasiswa etnis Tionghoa peranakan meliputi pengenalan dua kebudayaan yaitu kebudayaan etnis Tionghoa dan etnis asli Indonesia, walaupun cenderung lebih mengarah pada kebudayaan Indonesia tempat dimana mereka dilahirkan karena proses pembauran orang tua pada kebudayaan masyarakat setempat. Hal tersebut mempengaruhi ekplorasi etnis Tionghoa, tetapi mahasiswa etnis Tionghoa peranakan sebanyak 83 % juga memperhatikan peristiwa yang berhubungan dengan etnis Tionghoa, karena mereka menyatakan kadang-kadang dan tidak pernah pada pernyataan “Saya tidak pemperhatikan peristiwa yang berhubungan dengan etnis Tionghoa”.
Hal ini terjadi karena proses pengenalan tentang budaya etnis Tionghoa juga mereka dapatkan dalam keluarga, sehingga hanya 8.7 % dari mahasiswa etnis Tionghoa peranakan yang tidak berpengalaman terhadap sesuatu yang mencerminkan etnis Tionghoa, karena mereka menyatakan sangat sering pada pernyataan “Saya tidak berpengalaman terhadap sesuatu yang mencerminkan etnis Tionghoa, seperti makanan khas, mendengarkan musik, menonton film”.
Ekplorasi terhadap etnis menimbulkan sikap resolusi dan ambivalen terhadap etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa asli dan mahasiswa etnis Tionghoa peranakan. Mahasiswa etnis Tionghoa asli cenderung bersikap resolusi terhadap etnis. Pada mahasiswa etnis Tionghoa asli dengan ekplorasi dan afirmasi membuat mereka mengerti bagaimana perasaan mereka terhadap etnis dan menyukai kehidupan mereka dipengaruhi oleh budaya etnis Tionghoa, karena 100 % dari mahasiswa etnis Tionghoa asli menyatakan kadang-kadang dan tidak pernah pada pernyataan ”Saya tidak mengerti bagaimana perasaan saya terhadap etnis Tionghoa”, dan pernyataan “Saya tidak suka hidup saya dipengaruhi oleh budaya etnis Tionghoa”. Mahasiswa etnis Tionghoa asli yang bersikap ambivalen hanya 4.3 %, mereka tidak perduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan etnis Tionghoa yaitu dengan menyatakan sering pada pernyataan “Saya tidak peduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan etnis Tionghoa”.
 Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: