Kecerdasan Emosi Mahasiswa Psikologi Dan Teknik Sipil

Perbedaan Kecerdasan Emosi Antara Mahasiswa Fakultas Psikologi Dengan Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Di Universitas Islam Indonesia
Uji t (t test) yang dilakukan untuk menguji hipotesis apakah ada perbedaan skor kecerdasan emosi mahasiswa Fakultas Psikologi dengan mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Universitas Islam Indonesia. Uji t menghasilkan nilai thitung = 1,996; df = 106 untuk uji satu sisi dengan p < 0,05, sehingga disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara skor kecerdasan emosi mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perecanaan dengan Mahasiswa Fakultas Psikologi.
Adanya perbedaan yang signifikan mendasarkan pada karakteristik yang dimiliki subjek penelitian, menunjukkan bahwa potensi emosi manusia pada hakekatnya sama, tetapi memiliki keunikan tersendiri. Albin (1983) menegaskan bahwa semua manusia tanpa terkecuali dianugerahi kemampuan emosional yang unik, sehingga semua dapat belajar untuk memakai dan menerimanya. Pelajaran-pelajaran emosi semasa hidup yang membentuk kemampuan emosi seseorang.
Adanya perbedaan yang signifikan kecerdasan emosi pada penilitian ini mengambarkan latar belakang pendidikan psikologi atau Teknik Sipil dan perencanaan berpengaruh terutama pada unsur kesadaran diri dan motivasi. Perbedaan materi kuliah yang diterima ternyata memberikan pepengaruh terhadap kecerdasan emosi pada penelitian ini.
Agustian (2001) berpendapat bahwa pemahaman saja tidaklah cukup, diperlukan pelatihan yang secara berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan dan kemudian berubah menjadi suatu karakter yang diharapkan terinternaslisasi. Materi perkuliahan yang sebatas dimengerti dan dipahami (teoritis) tidak akan terinternalisaasi sehingga tidak menjadi sebuah karakter. Seorang mahasiswa yang mengambil mata kuliah manajemen akan mengerti dan hapal di luar kepala materi apa yang diterima, tapi belum tentu bisa melakukan (mempraktekan di lapangan) apa yang diterima dalam mengelola perusahaan yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena tidak ada pelatihan atau pemagangan manajemen secara praktis.
Rata-rata skor kecerdasan emosi untuk Fakultas Psikologi = 131,35 sedangkan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan sebesar =127,44. Hasil uji t di atas menunjukkan ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor kecerdasan emosi antara mahasiswa Fakultas Psikologi dan mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Secara lebih detil, kecerdasan emosi memiliki perbedaan yang signifikan antar kedua kelompok mahasiswa, akan berdampak pada tingkat kontrol diri seseorang terhadap suatu masalah.
Peran kecerdasan emosi dalam penelitian ini, secara proporsional akan mempunyai fungsi penting untuk menghadapi tantangan hidup. Pengalaman dan dan pelatihan yang sering berulang yang dialami mahasiswa, menjadi modal mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi yang dimiliki akan memudahkan mahasiswa untuk memposisikan dirinya secara tepat dalam berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain, terutama dalam menyingkapi berbagai tuntutan yang dibebankan kepadanya.
Kecerdasan emosi memungkinkan mahasiswa melakukan identifikasi terhadap kondisi atau keadaan pada saat kuliah dan praktikum baik itu melalui diri sendiri ataupun rekan mahasiswa. Proses identifikasi dapat membantu mahasiswa untuk mengenal dirinya lebih baik. Pengenalan diri yang baik akan membuat mahasiswa merasa yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Hal tersebut, membuat mahasiswa secara individu mampu mengoptimalkan kemampuannya, sehingga mahasiswa mempunyai banyak kesempatan untuk mengasah, melatih dan mengembangkan kecerdasan emosinya. Semakin banyak atau sering kemampuan mengasah, melatih dan mengembangkan kecerdasan emosinya, maka akan semakin tinggi kecerdasan emosi yang dimiliki mahasiswa.
Menurut Gottman (1997) empati yang dimiliki seseorang berarti bisa mengenal dan memahami emosi, pikiran serta sikap orang lain. Shapiro (1997) menegaskan hal ini dengan menggambarkan bahwa orang yang lebih peka terhadap emosi seseorang biasanya adalah orang-orang yang toleran, mampu mengendalikan diri, ramah, mempunyai pengaruh serta bersifat humanistik. Sebagai hasilnya, orang yang memiliki kemampuan toleran yang baik akan lebih sukses dalam kehidupannya.
Cobb (Fraser, 1983) berpendapat bahwa kecerdasan emosi seseorang yang mendapatkan dukungan sosial yang sering dimanifestasikan dalam bentuk keinginan untuk saling memberi dan menerima dengan memahami perspektif orang lain secara saling menguntungkan, juga memiliki perbedan yang sangat signifikan, faktor humanisme yang memang menonjol. Sebagaimana terlihat skor kecerdasan emosi mahasiswa psikologi lebih tinggi dari mahasiswa Teknik Sipil dan Perencanaan karena mereka lebih sering bekerja kelompok pada kegiatan praktikumnya.
 Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap
Iklan

2 Tanggapan

  1. bsa minta soft copy’a buat referensi skripsi ?? krim k 802010067@student.uksw.edu
    terima kasih 🙂

  2. permisi, jika di perkenankan boleh saya minta soft copy untuk kepentingan penelitian lebih lanjut.. kirim ke cica.anastasia99@gmail.com terima kasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: