Kepercayaan Diri Remaja Panti Asuhan

Perbedaan Kepercayaan Diri Antara Remaja Panti Asuhan Dhuafa Dan Remaja Panti Asuhan Yatim Piatu
Berdasarkan hasil uji beda diketahui nilai p = 0.395. Nilai p > 0.01 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kepercayaan diri antara remaja panti asuhan dengan latar belakang dhuafa dan remaja panti asuhan dengan latar belakang yatim piatu. Dengan demikian hipotesis ditolak. Tidak adanya perbedaan tingkat kepercayaan diri pada kedua kelompok yang diteliti mungkin dikarenakan keterbatasan dan kelemahan dari penelitian ini.
Kepercayaan diri merupakan keyakinan seseorang pada kemampuan, kekuatan dan keberadaan yang dimilikinya. Keyakinan diri seseorang lebih bersifat internal sehingga banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayan diri seseorang. Maslow (1970) menyatakan bahwa konsep diri dan harga diri seseorang mempengaruhi kepercayaan dirinya. Seseorang yang memiliki konsep diri yang positif maka akan memiliki harga diri yang tinggi, sehingga orang tersebut memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sebaliknya seseorang yang memiliki konsep diri yang negatif akan memiliki harga diri yang rendah sehingga orang tersebut mengalami hambatan kepercayaan diri (Andayani dan Afiatin, 1996).
Afiatin dan Martaniah (1998) menyatakan bahwa kepercayaan diri dapat berkembang dalam sebuah lingkuangan yang kondusif. Hal ini mungkin diperoleh remaja panti asuhan dari lingkungannya. Lingkungan ketiga panti asuhan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini menerapkan pola asuh yang kondusif bagi perkembangan kepribadian anak- anak asuhnya. Pengasuh memberikan kasih sayang tanpa syarat dan tanpa mebedakan latar belakng anak asuh.
Pada ketiga panti asuhan yaitu Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah, Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah, dan Lembaga Penyantun Anak “Badan Amal Shaleh Amanah” setiap anak asuh dibekali dengan pendidikan, baik pendidikan formal, non- formal, dan in- formal. Visi dari ketiga panti asuhan intinya adalah membentuk kemandirian anak asuh untuk membekalinya kelak ketika mereka harus keluar dari panti asuhan.
Walgito (2000) menyatakan bahwa seseorang yang percaya diri adalah orang yang mempunyai kemandirian. Penelitian yang dilakukan oleh Lukman (2000) membuktikan bahwa pengasuhan yang diterima oleh remaja panti asuhan secara tidak langsung mempengaruhi kepercayaan dirinya. Pengasuh di panti asuhan memberikan pengasuhan tanpa syarat dan tanpa memandang latar belakang setiap anak asuh, menurut peneliti kondisi inilahyang menyebabkan tidak adanya perbedaan kepercayaan diri pada remaja panti asuhan.
 Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: