Kondisi Harga Diri Remaja Yang hidup dalam Keluarga Cerai atau Keluarga Utuh

Perbedaan Harga Diri Remaja Ditinjau Dari Status Keluarga Bercerai Dan Keluarga Yang Tidak Bercerai
Berdasarkan hasil analisis data penelitian diatas dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan harga diri remaja yang berasal dari keluarga bercerai dan remaja dari keluarga yang tidak bercerai. Perbedaan harga diri remaja tersebut dapat dilihat dari angka koefisien uji-t sebesar 0.001 (P<0.05) dan diketahui bahwa remaja dari keluarga yang bercerai memiliki harga diri yang lebih rendah daripada remaja yang keluarganya tidak bercerai.
Hasil penelitian menunjukkan mean empirik harga diri pada remaja dari keluarga bercerai sebesar 99.49 dan mean empirik harga diri remaja dari keluarga yang tidak bercerai sebesar 108.13. Hal ini menunjukkan bahwa harga diri remaja dari keluarga bercerai lebih rendah daripada harga diri remaja dari keluarga tidak bercerai.
Hasil uji tambahan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pada remaja dari keluarga bercerai dan remaja yang keluarganya tidak bercerai terdapat perbedaan dalam setiap aspek harga diri. Uji tambahan pada aspek power remaja dari keluarga yang bercerai dan remaja yang keluarganya tidak bercerai terdapat perbedaan yang signifikan dengan angka koefisien uji-t sebesar 0.021 (p<0.05). Mean skor aspek power pada remaja yang keluarganya bercerai sebesar 16,57, lebih rendah dari mean skor power pada remaja yang keluarganya tidak bercerai dengan skor sebesar 17.84.
Hasil uji tambahan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan untuk bisa mengatur dan mengontrol tingkah laku orang lain yang didasari pengakuan dan rasa hormat serta penerimaan individu dari orang lain pada remaja yang keluarganya tidak bercerai lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang keluarganya bercerai. Uji tambahan pada aspek significance menunjukkan skor mean aspek significance pada remaja yang orangtuanya bercerai sebesar 23,088 yaitu lebih rendah dibandingkan dengan remaja yang orangtuanya tidak bercerai sebesar 25,08 dan angka koefisien uji-t sebesar 0.07 (p<0.05) yang berarti ada perbedaan kepedulian, perhatian dan afeksi yang diterima individu dari orang lain yang mengindikasikan penerimaan dan popularitas individu di lingkungan sosialnya antara remaja dari keluarga bercerai dan remaja dari keluarga tidak bercerai.
Uji tambahan pada virtue menunjukkan skor mean skor aspek virtue pada remaja yang orangtua bercerai sebesar 26,68, lebih rendah dari skor mean pada remaja yang orangtuanya tidak bercerai sebesar 29,2. Angka koefisien uji-t sebesar 0.001 (p<0.01) yang berarti ada perbedaan ketaatan terhadap ketaatan dan standar moral etika yang berlaku dalam masyarakat. Aspek virtue ini menunjukkan perbedaan yang paling tinggi dibandingkan dengan aspek harga diri yang lain. Hasil uji tambahan pada aspek competence menunjukkan bahwa remaja yang berasal dari keluarga bercerai memiliki skor mean sebesar 24,05 atau lebih rendah dibandingkan dengan skor mean remaja yang keluarganya tidak bercerai yaitu sebesar 25,64. Angka koefisien uji-t pada aspek competence sebesar 0,040 (p<0.05) menujukkan adanya perbedaan yang signifikan kemampuan untuk sukses memenuhi tuntutan prestasi.
Hasil penelitian ini juga menemukan 3 subjek dari keluarga bercerai yang memiliki harga diri rendah. Ketiga subjek tersebut berusia 11, 14 dan 17 tahun ketika orangtuanya bercerai. Dalam penelitian ini tidak ditemukan subjek dari keluarga yang bercerai memiliki harga diri rendah ketika perceraian orangtua terjadi pada saat subjek berusia anak-anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Needle dkk., (dalam Santrock,1996). menyatakan bahwa mereka yang sudah remaja ketika orangtuanya bercerai, lebih bisa mengingat konflik dan ketegangan yang menyelimuti perceraian 10 tahun kemudian, pada awal usia dewasa mereka. Mereka juga menunjukkan kekecewaaan karena tidak bisa tumbuh di dalam keluarga utuh.
Remaja yang orangtuanya bercerai lebih cenderung mempunyai masalah obat-obatan, dibandingkan dengan remaja yang orangtuanya bercerai saat ia masih anak-anak, atau dibandingkan dengan remaja yang hidup di dalam keluarga yang tidak bercerai. Berbeda dengan remaja, respon anak kecil terhadap perceraian dipengaruhi oleh keterbatasan kecakapan kognitif dan sosial mereka, ketergantungan mereka terhadap orangtua, dan kemungkinan kurangnya perhatian tiap harinya (Hetterington dkk., dalam Santrock, 1996).
Hal tersebut menyebabkan anak hanya memiliki sedikit ingatan mengenai ketakutan dan penderitaan mereka sebelumnya atau pada konflik orangtua mereka (Wallerstein dkk., dalam Santrock,1996).Walaupun demikian, kira-kira sepertiga dari anak-anak tersebut terus mengekspresikan kemarahan karena tidak bisa tumbuh didalam sebuah keluarga utuh yang tidak bercerai (Needle Su & Doherty dalam Santrock, 1996).
Beberapa peneliti menyatakan bahwa perceraian bisa jadi tidak menyebabkan penyesuaian yang buruk, dan konflik-konflik yang terjadi memberikan efek negatif pada penurunan harga diri dan kesulitan interaksi antara orangtua dan anak yang disebabkan oleh stress (Fuhrman, 1990).
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: