Makna hidup Lansia Yang Tinggal Di Panti Werdha

Perbedaan Makna Hidup Pada Lansia Yang Tinggal Di Panti Werdha Dengan Yang Tinggal Bersama Keluarga
Dari hasil pengujian hipotesis, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan makna hidup yang sangat signifikan antara lansia yang tinggal di panti werdha dengan lansia yang tinggal bersama keluarga, dimana makna hidup lansia yang tinggal bersama keluarga lebih tinggi daripada lansia yang tinggal di panti werdha. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t = 6,552 (p= 0,000), p<0,01.
Adanya perbedaan makna hidup antara seseorang dengan orang lain, termasuk lansia yang tinggal bersama keluarga dengan yang tinggal di panti werdha ini, juga dibenarkan oleh Frankl. Menurut Frankl (2003) bahwa makna hidup satu orang berbeda dengan yang lainnya, dari hari ke hari dan jam ke jam. Masalahnya, karena yang dimaksud bukan makna hidup dalam arti umum melainkan makna hidup dalam arti khusus dari hidup seseorang pada suatu waktu. Pencarian manusia mengenai makna merupakan kekuatan utama dalam hidupnya dan bukan suatu “rasionalisasi sekunder” dari bentuk-bentuk insting.
Makna tersebut adalah unik dan spesifik yang harus dan dapat diisikan oleh dirinya sendiri., hanya dengan itu seseorang akan memperoleh sesuatu yang penting yang akan memuaskan keinginannya untuk memaknai.
Menurut Haditono (1988) berbagai kedaan yang dapat membuat para lanjut usia bahagia yaitu anak berhasil semua, keluarga harmonis, melakukan aktivitas sosial, dapat mandiri, ekonomi cukup, sehat dan usia panjang, masih aktif, anak masih menghormati orang tua, dan ketentraman batin. Pada lansia yang tinggal di panti werdha cenderung sebaliknya. Yaitu kurang bebas menentukan pilihan dalam hidupnya, mereka lebih senang tinggal di panti werdha karena ada yang mengurusnya walaupun mereka merasa terkekang, dan mereka merasa tidak dapat bertindak sesuai nilai-nilai yang diyakininya.
Lansia yang tinggal bersama keluarga cenderung merasa diperlakukan dengan baik oleh lingkungan keluarga, merasa dihargai, mereka merasa bahwa hidup di masa lalu dan saat ini lebih baik dari orang lain, merasa pantas untuk hidup dan disayangi, tidak menyesali kehidupannya, dan merasa tidak diabaikan oleh keluarganya. Pada lansia yang tinggal di panti wredha cenderung bersikap sebaliknya.
Dengan demikian, lansia yang hidup di tengah keluarga dengan anak dan cucu cenderung dapat memaknai hidup, mereka dapat menjalani kehidupan dengan penuh semangat, optimisme, dan jauh dari perasaan hampa, mempunyai tujuan yang jelas baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri, lingkungan atau masyarakat.
Mereka cenderung dapat memaknai hidupnya disebabkan oleh sikap yang bersangkutan yang memandang bahwa hidupnya penting dan berharga (makna hidup), memiliki kepuasan hidup, memiliki kebebasan berkehendak, menyiapkan kematian dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, mampu menghadapi masalah hidupnya dan tidak memiliki pikiran untuk bunuh diri, dan merasa memiliki kepantasan hidup.
Pada lansia yang tinggal di panti werdha, pada umumnya adalah lansia terlantar yang jauh dari anak dan cucu, akan cenderung kurang dapat memaknai hidup, mereka menjalani hidup kurang semangat, kurang optimis, dan merasa kesepian atau hampa, kurang memiliki tujuan yang jelas baik jangka pendek maupun jangka panjang, kurang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, lingkungan dan masyarakat.
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap  

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: