Manajemen Konflik Tipe Kepribadian Extrovert Dan Introvert

Perbedaan Manajemen Konflik Antara Tipe Kepribadian Ekstrovert Dengan Introvert
Eysenck (Mischel, 1993) mengatakan bahwa orang yang bertipe kepribadian introvert tidak banyak bicara, mawas diri, memiliki rencana sebelum melakukan sesuatu, tidak percaya dengan faktor kebetulan, memikirkan masalah kehidupan sehari-hari secara serius, menyukai keteraturan dalam hidup mereka, jarang berperilaku agresif, tidak mudah hilang kesabaran, dan menempatkan standar etis yang tinggi dalam hidup mereka.
Sedangkan orang yang bertipe ekstrovert tidak terlalu memusingkan suatu masalah, cenderung agresif, mudah kehilangan kesabaran, perasaannya kurang dapat terkontrol dengan baik, dan kurang dapat dipercaya. Bila orang introvert dan ekstrovert dengan karakteristik-karakteristik di atas mengalami sebuah konflik maka akan terlihat bahwa tipe introvert cenderung lebih mampu dalam mengelola konflik.
Hal ini didukung oleh tiga hasil analisis tambahan, dimana semakin tinggi skor subjek maka semakin tinggi kemampuan subjek dalam mengelola konflik dan sebaliknya. Ketiga hasil analisis tambahan tersebut adalah: a) Berdasarkan aspek manajemen konflik positive problem solving diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan manajemen konflik antara subjek yang bertipe kepribadian ekstrovert dengan introvert. Subjek introvert cenderung lebih mampu dalam mengelola konflik daripada subjek ekstrovert yaitu dengan cara berkompromi dan bernegosiasi dengan lawan konflik. b) Berdasarkan aspek manajemen konflik conflict engagement diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan manajemen konflik antara subjek yang bertipe kepribadian ekstrovert yaitu dengan introvert.
Subjek introvert cenderung lebih mampu dalam mengelola konflik daripada subjek ekstrovert yaitu dengan cara tidak menyerang dan lepas kontrol terhadap lawan konflik. c) Berdasarkan aspek manajemen konflik withdrawal diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan manajemen konflik antara subjek yang bertipe kepribadian ekstrovert dengan introvert. Subjek introvert cenderung lebih mampu dalam mengelola konflik daripada subjek ekstrovert yaitu dengan cara tidak menarik diri dari permasalahan atau dari lawan konflik.
Conger (Monks, 2002) dalam penelitiannya menemukan bahwa ada hubungan antara kepribadian dengan delikuensi bahwa remaja delikuen biasanya lebih memiliki kepribadian percaya diri, sering memberontak, ambivalen otoritas, mendendam, bermusuhan, curiga, destructive impulsive, dan menunjukkan kontrol batin yang kurang. Dari sini, terlihat kalau subjek yang bertipe kepribadian ekstrovert cenderung kurang mampu dalam mengelola konflik karena karakteristik kepribadian yang disebutkan di atas merupakan karakteristik dari tipe kepribadian ekstrovert.
Hal ini juga didukung dengan pernyataan Eysenck (Alwisol, 2004) yang menyatakan bahwa orang ekstrovers suka pesta hura-hura, minum alkohol, menghisap mariyuana, melakukan hubungan seksual lebih awal dan lebih sering dengan lebih banyak pasangan dan dengan perilaku seksual yang lebih bervariasi, cenderung ketagihan alkohol dan mengkonsumsi narkotik dalam jumlah yang lebih besar.
Terdapat suatu hasil penelitian tentang hubungan antara tipe kepribadian intravert-extravert dan tingkah laku penyalahgunaan heroin pada remaja. Remaja yang memiliki tipe kepribadian extravert lebih banyak yang menunjukkan tingkah laku penyalahgunaan heroin dibandingkan remaja yang memiliki tipe kepribadian introvert. Remaja yang bertipe kepribadian ekstravert lebih mudah terpengaruh untuk ikut menyalahgunakan heroin, ketika diajak atau dirayu oleh kelompok teman sebayanya (Suherman dan Yuanita, 2000). Ini disebabkan karena mereka memiliki karakteristik suka bergaul, memiliki banyak teman, impulsive, dan seringkali bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu (Eysenck dalam Abidin dan Suyasa, 2003)
Salah satu faktor yang juga mendukung adanya perbedaan antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert dalam mengelola konflik adalah lingkungan. Sujanto (1988) mengatakan bahwa dari lingkungan terutama lingkungan sosial seperti keluarga dan teman sekolah ikut pula mempengaruhi pertumbuhan anak. Situasi kehidupan dalam keluarga berupa pola asuh orang tua akan sangat berpengaruh terbentuknya kepribadian dalam diri individu dengan cara meniru dan melihat orang tua sehingga cara-cara yang diajarkan oleh orang tua tersebut tertanam dalam dirinya.
Pola asuh yang tidak tepat (pola asuh keras menguasai maupun membebaskan) serta hubungan yang tidak harmonis antaranggota keluarga dapat menyebabkan anak tidak betah di rumah dan mencari pelampiasan kegiatan di luar bersama teman-temannya. Hal inilah yang tidak jarang menyeret mereka kepada pergaulan remaja yang tidak sehat seperti perkelahian atau tawuran.
Namun, apabila lingkungan keluarga mampu memelihara rasa aman dan perasaan menghargai satu sama lainnya yang selaras atau mengimbangi situasi yang ada di luar rumah maka anak akan berkembang menjadi orang yang berkepribadian baik dan ketika mereka menemukan suatu konflik maka mereka akan lebih mampu mengelola konflik tersebut dengan metode-metode atau strategi yang tepat sehingga mereka tidak terseret dalam pergaulan remaja yang tidak sehat dan menyimpang.
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap

Satu Tanggapan

  1. Bisa minta softfilenya? soalnya saya butuh untuk tugas kuliah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: